Bernas.id – Kebaikan itu tak perlu banyak yang tahu dan mengakui, hanya cukup manfaatnya saja bisa dirasakan, itulah esensi sesungguhnya kebaikan. Berlomba dalam kebaikan bukan hanya sekadar memperbanyak kuantitas kebaikan, tapi juga harus disertai kualitas dan keikhlasan dari kebaikan itu sendiri. Benar saja, jika kebaikan yang kita lakukan sudah berdampak, tapi apakah kita masih sering menghitung-hitung dampak atau kebaikan yang kita lakukan? Lalu, merasa sakit hati jika kebaikan kita diabaikan orang lain, bahkan oleh orang yang kita bantu?
Jika kita masih menghitung-hitung seperti itu, segera hentikan sekarang juga. Karena tindakan penghitungan tersebut bukan ciri seorang yang berjiwa besar. Maka dari itu, kebaikan yang kita berikan harus sebaik mungkin kita kelola, agar tidak tidak ternoda dengan tindakan menginginkan klaim atau pengakuan dari orang lain. Ketika kita masih ingin pengakuan tentang kebaikan kita, itu tandanya kebaikan kita belum seberapa besar dan banyak.
Apa yang kita lakukan dengan kebiasaan? Misalnya, kebiasaan umum seperti, makan, minum, tidur, kita tidak akan terus-menerus menceritakan pada orang lain, kan? Seperti itu pula kebaikan, ketika kita sudah terbiasa berbuat baik, kita tidak merasa spesial dengan perbuatan itu, bahkan tidak terasa. Berbeda jika kita jarang berbuat baik, sekali berbuat baik saja sudah merasa ?wah? bagi dirinya sendiri. Jadi, itulah bedanya orang ?baru? berbuat baik dengan orang yang senantiasa mengisi hidupnya dengan kebaikan. Kalau pun ada apresiasi terhadap orang yang benar-benar tulus berbuat kebaikan, itu hanyalah efek samping sementara. Jika ia tak mengharapkan apresiasi tersebut, hakikat kebaikannya masih tetap tinggi.
Nah, untuk menghindari ?wah? pada diri sendiri ketika berbuat baik, yakni dengan senantiasa berbuat baik sebanyak mungkin. Buatlah kebaikan kita sebagai kebiasaan setiap waktu. Jadikan kebaikan seperti makanan pokok, yang membuat kita lapar jika tidak melahapnya. Memang itu sulit dilakukan, tapi kita tak pernah bisa tanpa mencoba membiasakannya. Biarlah kebaikan kita sebagai kawan ketika di akhirat nanti, yang akan menerangi jalan kita, bukan sorakan sementara manusia atas kebaikan kita.
Mari, berbuat baik setulus mungkin!
