Bernas.id – Semua orang selalu ingin bersama dengan yang dicintainya. Ingin selalu dengan idolanya. Bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan, bahwa seseorang itu akan bersama dengan yang dicintainya. Demikian pula ketika kita mengidolakan Rasulullah, maka kita juga berusaha untuk mengikutinya apapun yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ketika kita taat kepada Rasulullah sebenarnya kita taat kepada Allah. Namun yang jadi pertanyaan, bagaimana caranya agar kita selalu merasa dekat dengan Allah?
Agar merasa selalu dekat dan diawasi oleh Allah hendaknya kita senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat berikut.
1. Allah bersamaku. Artinya meyakini bahwa Allah selalu bersama kita. Seorang yang merasa bersama Allah dipastikan ketika akan berbuat tidak baik, akan mengurungkannya.
2. Melihat kepadaku. Bagi seorang yang merasa selalu diawasi oleh Allah, maka tak akan berbuat seenaknya, apalagi jika bertentangan dengan perintah Allah. Dia tentu akan berhati-hati, karena jika berbuat yang tidak baik maka Allah senantiasa melihatnya dan membuatnya malu akan keburukan yang hendak dilakukan.
3. Menyaksikan aku. Yang tak kalah penting adalah mengucapkan bahwa Allah menyaksikan dirinya dimanapun berada. Akibatnya, dia selalu merasa disaksikan oleh Allah, sehingga terhindar dari perbuatan yang tak diridhoi oleh Allah swt.
Untuk melengkapi keterangan tersebut cukuplah kiranya sebuah cerita yang terdapat di dalam Ihya Ulumudin karya Imam Al-Ghazali. Dikisahkan di dalam kitab tersebut, halaman 244-245, bahwa di antara orang-orang ada yang cukup baginya dzikir, yang paling sedikit karena sejak kecil dipelihara oleh seorang yang penyayang.
Diceritakan dari Sahl Al- Tastari: Aku masih berumur tiga tahun ketika bangun di waktu malam melihat kepada khalwat pamanku Muhammad bin Muhammad bin Siwar. Pada suatu hari, paman berkata kepadaku, ? Tidakkah engkau mengingat Allah yang menciptakanmu?? Aku menjawab, ?Bagaimana mengingat-Nya?? Paman menjawab, ?Katakan dengan hatimu ketika engkau berganti pakaian sebanyak tiga kali, tanpa menggerakan lidahmu! Allah bersamaku, melihat kepadaku, dan menyaksikan aku.?
Maka aku mengucapkan itu sampai beberapa malam, kemudian memberitahu paman. Ia berkata, ?Ucapkan dalam setiap malam tujuh kali.? Maka aku ucapkan itu, kemudian memberi tahu paman. Dia berkata, ? Ucapkan setiap malam sebelas kali.? Aku mengucapkan itu dan merasakan kenikmatannya di dalam hatiku.
Setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata kepadaku, ?Peliharalah apa yang aku ajarkan kepadamu dan tekunilah hingga engkau masuk kubur, karena ia akan bermanfaat bagimu di dunia dan di akhirat.? Sehingga aku tetap melakukan itu bertahun-tahun. Maka aku merasakan kenikmatannya di dalam batinku. Lalu suatu hari paman berkata kepadaku, ?Hai Sahal, barangsiapa yang Allah bersamanya dan melihat kepadanya serta menyaksikannya, bagaimana ia mendurhakai-Nya. Maka janganlah melakukan maksiat.?
Maka aku menyendiri. Kemudian mereka mengirim aku ke sekolah. Aku berkata, ?Sungguh aku khawatir kemauanku akan berubah-ubah, tetapi mereka mensyaratkan kepada pengajar bahwa bahwa aku pergi kepadanya untuk belajar. Maka aku pun belajar kemudian aku pulang.
Kemudian aku menghafal Al-Qur?an dalam usia 6 atau 7 tahun, melakukan puasa dahr (satu tahun). Sedang makananku berupa roti dan gandum syair selama 12 tahun. Pada usia 13 tahun, timbul sebuah masalah padaku. Maka, aku meminta kepada mereka agar mengirim aku ke Basrah untuk menanyai para ulamanya. Namun, tak seorang pun yang memuaskan aku. Kemudian aku keluar menuju Abadan, menemui seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Abi habib Hamzah bin Abdullah al-abadani, lalu aku menanyakan masalah itu kepada Abi Habib. Abi Habib menjawab dan aku tinggal di tempatnya mengambil manfaat dari perkataannya dan menjalankan tata krama yang diajarkannya.?
Demikianlah kisah inspiratif itu dituturkan, semoga dapat menjadi pelajaran untuk kita semua agar senantiasa merasa takut kepada Allah.
