Bernas.id ? Hidup segan mati tak mau. Istilah tersebut nampaknya cocok untuk menyebut kondisi bintang yang satu ini. iPTF14hls adalah nama dari ledakan bintang atau supernova yang diamati oleh tim astronom pimpinan Arcavi dari Universitas California. Menurut Arcavi, supernova tersebut begitu menarik karena sifatnya yang sungguh tidak lazim.
Untuk memahami apa yang aneh dari iPTF14hls, maka perlu dipahami dulu proses kematian yang terjadi pada bintang. Ketika sebuah bintang yang bermassa setidaknya 8 kali lebih besar dari matahari memasuki tahap kematiannya, bintang tersebut akan menghasilkan ledakan raksasa yang dikenal sebagai supernova.
Supernova memiliki tingkat kecerahan yang tidak kalah dengan tingkat kecerahan satu galaksi. Namun supernova biasanya hanya akan bertahan selama 100 hari. Sesudah itu cahaya yang dihasilkan supernova berangsur-angsur menghilang. Sisa bintangnya lantas berubah menjadi lubang hitam atau bintang neutron.
Namun proses berbeda dialami oleh iPTF14hls. Ketika pertama kali ditemukan pada tanggal 22 September 2014, objek berjarak 500 juta tahun cahaya tersebut terlihat seperti supernova biasa yang tergolong dalam supernova Tipe II-P. Namun bukannya menghilang setelah 100 hari, pada bulan Februari 2015 supernova yang sama justru malah terlihat semakin terang.
Waktu berlalu, iPTF14hls malah menampakkan perilaku yang semakin aneh. Di tahun 2017 supernova tersebut terlihat seperti supernova berusia 30 hari. Namun sesudah itu cahayanya berangsur-angsur meredup. Arcavi juga menemukan kalau di lokasi iPTF14hls, ternyata pernah pernah ada supernova di tahun 1954. Namun dirinya tidak yakin apakah kedua supernova tersebut merupakan supernova yang sama.
Arcavi dan rekan-rekannya berencana melanjutkan pengamatan terhadap iPTF14hls hingga satu atau dua tahun lagi. Selain timnya, tim astronom Swedia yang mengoperasikan teleskop di Kepulauan Canary juga berniat ikut serta. NASA juga berminat untuk ikut mengamati iPTF14hls dengan memakai wahana teleskop Swift dan Hubble.
