Bernas.id ? Bulan Desember 2012 silam, seorang nelayan di Tiongkok tengah meminta bantuan Lei Jun untuk menghilangkan batang kayu yang merintangi badan sungai. Lei Jun yang kebetulan menjalankan sebuah pabrik menyanggupi permintaan tersebut. Dengan bantuan alat berat, ia mengeluarkan batang kayu tersebut dan membawanya pulang.
?Kayunya memiliki panjang 19 meter, lebih lebar dari pinggang saya, dan lebih berat dari 5 ton. Kayu itu terlalu besar untuk dipindahkan, jadi kami harus menggergajinya dulu menjadi 2 bagian sebelum membawanya pulang ke pabrik. Biaya totalnya mencapai 90 ribu yuan,? kata Jun saat menjelaskan bagaimana ia mengeluarkan kayu tersebut.
Jun sendiri pada awalnya mengira kalau kayu tersebut hanyalah kayu pohon biasa yang tidak berharga. Selama lima tahun, ia membiarkan kayu tersebut tergeletak di halaman belakang pabriknya.
Ketika Hari Nasional Tiongkok tiba, Jun lalu meminta bantuan seorang pakar untuk menaksir harga kayu yang disimpannya. Jawaban yang diterima oleh Jun sungguh di luar dugaan. Menurut sang pakar, kayu tersebut adalah kayu emas berusia 4 abad yang berasal dari masa Dinasti Ming. Kayu itu mungkin tanpa sengaja tenggelam saat sedang dipindahkan.
Begitu terungkap kalau kayu tersebut adalah kayu antik dengan nilai sejarah tinggi, nilai jual kayu tersebut langsung melonjak hingga 20 juta yuan (hampir 40 milyar rupiah). Jun juga mengaku kalau dirinya sempat menerima tawaran tinggi dari kolektor yang berminat untuk memiliki kayu tersebut.
Namun bukannya tergiur, Jun justru berniat menyerahkan kayu tersebut ke museum setempat. Menurut Jun, kayu ini adalah milik negara dan sudah sepantasnya dikirim kembali ke Museum Istana di Beijing. Kurator dari departemen budaya Beijing dikabarkan sudah menghubungi pihak museum untuk menangani pemindahan kayu ini.
