Bernas.id – Libur akhir tahun telah tiba, sebagian besar orang akan menghabiskan liburannya dengan berwisata ke berbagai tempat baik di dalam maupun luar negeri. Liburan bukan hanya tentang me-refresh kembali pikiran, namun juga tentang bagaimana mempertahankan keindahan yang kita rasakan supaya tetap bisa dinikmati oleh generasi penerus di masa mendatang.
PBB telah menetapkan bahwa Tahun 2017 merupakan tahun pariwisata berkelanjutan atau International Year of Sustainable Tourism for Development yang berfokus pada 3 pilar pembangunan yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan. Sayangnya meski tahun 2017 akan berakhir, masih banyak wisatawan yang belum memahami tentang pariwisata berkelanjutan.
Salahsatu cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan konsep sustainable tourism ini adalah dengan mengajarkannya kepada anak, supaya kelak ketika dewasa anak akan paham dan mampu mengajarkan pada generasi selanjutnya dengan harapan dapat menjaga rantai keindahan tempat wisata yang pernah dikunjunginya.
Nah, artikel ini akan membahas hal apa saja yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk menumbuhkan sifat bijak pada anak saat berwisata, berikut uraiannya:
1. Diskusikan dengan anak destinasi wisata yang ingin dikunjungi
Melibatkan anak khususnya yang sudah menginjak usia remaja untuk memilih destinasi wisata liburan akan membuat anak merasa dihargai oleh orang tuanya. Anak menjadi lebih bersemangat dan menikmati liburannya. Proses diskusi ini menuntut orang tua untuk pandai dalam memberikan penjelasan kepada anak khusunya mengenai tempat yang menjadi rekomendasi liburan keluarga.
Orang tua juga sebaiknya menjelaskan tentang keuntungan dan kelebihan termasuk jarak perjalanan kepada anak, hal ini akan melatih anak untuk melihat segala hal dengan dua sisi. Semakin dekat dengan rumah akan semakin baik karena perjalanan yang singkat akan menghemat bahan bakar yang digunakan dan membantu menurunkan emisi karbon. Jika memang terpaksa untuk pergi ke tempat wisata yang jauh, selama bisa ditempuh dengan kereta, pilihlah kereta dan sebisa mungkin hindari pesawat.
2. Mengambil hikmah dalam setiap perjalanan
Liburan adalah kegiatan yang bisa memfasilitasi anak untuk bermain sambil belajar. Ajak anak untuk mengenali tempat, budaya dan cara hidup yang baru dengan begitu anak akan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya.
3. Menghargai dan mengenal budaya lokal
Di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung, setiap tempat memiliki budayanya masing-masing, ajaklah anak untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat tujuan wisata. Salah satu contohnya jika ketika pergi ke Bali, hampir disetiap jalan terdapat sesaji, anak yang aktif bisa saja menendang sesaji tersebut secara sengaja jika tidak dijelaskan sebelumnya mengenai makna sesaji tersebut, selain untuk mengenal budaya setempat hal ini juga dapat dilakukan untuk mengajarkan anak tentang toleransi antar umat beragama. Mengenali budaya lokal juga penting supaya kita mengetahui hari-hari istimewa seperti adanya even atau upacara adat yang dapat diikuti sehingga menambah pengalaman baru dalam berwisata.
4. Pilihlah Produk dan Barang Lokal
Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan merupakan salah satu fokus dalam sustainable tourism dengan memilih produk lokal, wisatawan akan membantu meningkatkan penghasilan masyarakat sekitar. Produk lokal yang dimaksud bukan hanya sekadar oleh-oleh atau kerajinan khas, namun juga penginapan seperti memilih lebih untuk tinggal homestay daripada hotel yang cenderung memiliki suasana yang sama antara satu hotel dengan hotel lainnya. Tinggal di homestay juga akan membiasakan anak untuk hidup sederhana dengan fasilitas yang apa adanya.
Selain itu menggunakan transportasi lokal seperti becak, delman ataupun tuk-tuk dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Transportasi publik juga menjadi pilihan yang baik karena memanfaatkan fasilitas yang sudah disediakan pemerintah daerah.
5. Ajak anak untuk mengenal lingkungan sekitarnya dengan berbicara
Komunikasi merupakan hal yang penting dalam kehidupan, mengajarkan anak untuk berbicara dengan orang di sekitarnya akan melatih anak untuk bersosialisasi dengan lingkungannya. Salah satu bentuk komunikasi yang sangat penting tapi seringkali diabaikan adalah meminta izin apabila ingin mengambil foto. Kebiasaan ini nampaknya mulai jarang dilakukan karena setiap melihat hal yang unik dan instagramable seolah ada sensor yang menggerakkan tangan kita untuk mengambil gambar, padahal ada beberapa spot tertentu yang tidak memperbolehkan kita untuk mengambil gambar.
Sepertijika berkunjung ke menara Eiffel, kita diperbolehkan untuk berfoto dan menggungahnya di sosial media, akan tetapi hal ini hanya berlaku untuk kunjungan siang hari sedangkan pada malam hari, kita hanya diperbolehkan untuk berfoto akan tetapi tidak diperkenankan untuk mengunggahnya ke sosial media karena pertunjukan lampu menara Eiffel pada malam hari memiliki hak cipta dan hanya orang yang memiliki persetujuanlah yang boleh mengunggahnya ke sosial media. Hal-hal kecil seperti itulah yang terliat sepele namun penting sekali untuk diajarkan pada anak.
6. Berpenampilan sesuai dengan lingkungan
Berpakaianlah sesuai dengan tempat yang dikunjungi, terutama jika mengunjungi tempat-tempat suci seperti masjid ataupun pura. Usahakan untuk berpenampilan sesederhana mungkin dan jangan terlihat terlalu mencolok. Selain itu kita juga dapat menggunakan baju yang sama atau seragam satu keluarga dengan tujuan agar mudah mencarinya saat berpisah.
7. Jangan meninggalkan apa pun selain jejak kaki
Inilah yang paling penting bagi wisatawan, jelaskan kepada anak untuk tidak meningalkan sampah sembarangan selama berada di tempat wisata. Jika memang tidak ada tempat sampah, maka sebaiknya orang tua membiasakan anak untuk menampung sampah tersebut pada suatu tas kecil sebagai tempat penampungan sementara, sebelum dibuang ke tempat sampah. Perlu juga untuk membawa tumbler atau botol minum yang bisa digunakan berulang kali. Jika diajarkan sejak dini anak akan memahami betapa pentingnya menjaga lingkungan dari sampah sehingga mereka akan terbiasa untuk membuang sampah pada tempatnya. Anak juga bisa diajarkan membuang sampah berdasarkan jenis sampahnya, karena di luar negeri seperti Jepang memiliki beraneka macam tempat sampah yang dibedakan berdasarkan jenis sampahnya
