Bernas.id – Guru ialah fasilitator ilmu di sekolah. Saat mengajar guru menjadi pusat perhatian siswa. Semua pandangan ke depan memerhatikan penjelasan guru. Tetapi perlu digarisbawahi apakah semua materi yang disampaikan benar-benar sudah diterima siswa. Siswa benar-benar paham dengan materi yang sudah dijelaskan. Tugas guru bukan semata-mata masuk kelas lalu mengajar selesai pulang. Bukan. Tugas guru lebih dari itu. Siswa menghabiskan banyak waktu di sekolah. Kepribadian, karakter, moral terbentuk dari sekolah walaupun pondasi utamanya ada di keluarga. Oleh karena itu, guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai kehidupan pada siswa.
Salah satu penyebab gagal paham pada siswa ialah tidak adanya chemistry antara kedua belah pihak. Dalam proses pembelajaran guru harus membangun chemistry dengan siswa. Apabila sudah terbentuk diharapkan pemahaman siswa meningkat. Selain itu, guru harus menyenangkan. Hindari menjadi guru yang terkesan galak dan sangar. Hal tersebut membuat siswa tertekan dan tegang saat pembelajaran. Suasana yang seperti itu akan menyulitkan siswa memproses informasi saat pembelajaran. Sehingga menyebabkan proses pembelajaran tidak menghasilkan apa-apa.
Membangun chemistry dengan peserta didik tidak harus ribet dan berlebihan. Cukup menjadi guru yang menyenangkan bagi siswa chemistry akan terbentuk dengan sendirinya. Berikut caranya:
Menciptakan Suasana Menyenangkan
Guru ialah penguasa kelas. Guru berhak mengatur seisi ruangan kelas sesuai kehendaknya. Hal ini diperuntukan untuk menunjang pembelajaran di kelas. Guru harus bisa menghidupkan suasana kelas. Bersama-sama menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Menghindari ketegangan saat pembelajaran. Usahakan menyiapkan ice breaking agar suasana kelas kembali cair. Apalagi jika jam mengajar siang, hal tersebut sangat membantu. Selain itu guru bisa mengaitkan antara pelajaran yang sedang dipelajari dengan sebuah permainan. Untuk itu guru dituntut kreatif agar bisa menciptakan suasana kelas yang menyenangkan.
Sikap Terbuka
Ini adalah salah satu hal yang tidak terpenuhi oleh guru. Guru tidak bersikap terbuka kepada siswa. Terbuka di sini bukan berarti harus menceritakan semua kehidupan pribadi pada siswa. Terbuka dimaksudkan agar peserta didik termotivasi untuk belajar atau lainnya. Perlu diingat bahwa guru adalah teladan, tetapi di samping itu guru harus bisa menjadi inspirasi untuk siswanya. Melalui keterbukaan inilah guru dapat menjadi inspirator bagi siswa. Contoh, guru menceritakan prestasi masa sekolah, atau bercerita saat menjadi mahasiswa dan pengalaman-pengalaman yang menginspirasi lainnya.
Pemilihan Metode
Cara belajar yang monoton akan membuat siswa mudah bosan. Jika masih terus dilakukan dan tidak ada variasi maka tingkat kebosanan akan melonjak. Kebosanan ini yang menyebabkan siswa mengantuk dan memilih berbicara dengan teman karena dianggap lebih seru. Sehingga guru harus memerhatikan pemilihan metode pembelajaran. Metode yang kurang sesuai berakibat buruk pada pemahaman siswa. Pada awal pembelajaran siswa masih bisa menangkap dengan baik, namun setelah itu informasi jadi sulit untuk diterima. Pembelajaran tidak selalu dilakukan di kelas. Memanfaatkan lingkungan sekitar akan lebih memudahkan siswa dalam belajar. Sehingga pembelajaran berjalan dengan apa yang diharapkan.
