Bernas.id – Ramah dan ceria menggambarkan dirinya. Di usia 55 tahun, Budi Santoso masih semangat jalani pekerjaan. Terik yang membakar kulit tak pernah ia pedulikan. Bagi Santoso, pelayanan terbaik adalah prinsip. Berbagai macam sikap dan tanggapan pelangan ia anggap risiko pekerjaan.
Sejak lima tahun lalu Santoso menekuni pekerjaan ini. Ia bekerja sebagai tukang parkir, di kawasan Kuningan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Santoso lahir di Yogyakarta, 09 September 1962. Pernah menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR ? SMKN 1 Kasihan), jurusan Seni Lukis. Bakat seni tak hilang begitu saja darinya. Santoso masih terus menggeluti seni. Dibuktikan dengan tatanan rumahnya yang indah dan penuh dengan benda-benda estetis. Saat ditemui di tengah kesibukannya, Santoso juga menjelaskan bahwa tatanan rumahnya termasuk dalam tata taman vertikal.
Meski kedua anaknya telah bekerja, Santoso tak mau merepotkan mereka. Oleh karena itu, ia tetap bekerja dan tak pernah mengeluh soal kerjaan. Ia selalu berusaha melayani pelanggan dengan baik. ?Keamanan dan kepuasan pelanggan merupakan bagian dari tugasnya,? ujar Santoso saat mengisahkan pengalaman jadi tukang parkir beberapa waktu lalu.
Santoso telah menjadi tukang parkir selama lima tahun. Sebelum itu ia bekerja sebagai penjaga malam. Pada siang hari, ia bekerja sebagai buruh bangunan dan malam hari menjadi petugas keamanan. Dua pekerjaan tersebut ia jalani selama 15 tahun. Setelah merangkap dua perkerjaan tersebut, Santoso bekerja serabutan di Biro Dekan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP, UNY). Berhenti bekerja serabutan, ia memutuskan untuk jadi tukang parkir di daerah rumahnya sampai saat ini.
Berawal dari pengamatannya terhadap kebanyakan petugas parkir di Jogja, Santoso menemukan jati diri. Petugas parkir adalah panggilan jiwa. Santoso sadar bahwa menjadi tukang parkir membutuhkan tanggung jawab yang besar. Tak hanya keamanan saja, tetapi juga bertanggung jawab terhadap kenyamanan pelanggan. Santoso berpendapat bahwa petugas parkir juga bertanggung jawab terhadap lalu lintas di kawasan parkir tersebut. Ia sangat tidak setuju dengan sikap beberapa petugas parkir yang kadang ngawur. Menerima uang parkir tanpa menjalankan tugas dengan baik.
Dari hal itu, Santoso menerapkan pelayanan terbaik. Terbukti dengan tatanan sepeda motor yang sangat rapi. Selain itu, Santoso selalu mengelap kaca spion, jok motor, helm, serta bagian-bagian terluar motor lainnya.
?Helm, kaca spion, dan jok merupakan cerminan seseorang. Ketika motor dan helmnya bersih, ya pasti orang yang pake bersih juga. Coba kalau Mbak cari di seluruh Jogja, mana ada tukang parkir mau ngelapin motor?? tutur Santoso sambil berkelakar.
Santoso tak hanya memarkirkan motor, tapi juga menjaga lalu lintas di kawasan parkirnya. Ia tak segan mengambilkan barang milik pengendara atau pejalan kaki yang kadang-kadang jatuh. Santoso bersahabat dan menjalin hubungan baik dengan semua orang yang melintas.
Pada hari Jumat, saat waktu salat Jumat tiba, Santoso meminta pelanggan untuk mengunci ganda sepeda motornya. Santoso tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat ia pergi ke masjid. Pada hari itulah terkadang Santoso tidak mau menerima uang parkir dari pelanggan. Santoso menganggap bahwa ia tidak bekerja secara penuh dan imbalan itu bukan haknya. Di lain hari, ketika pelanggan meminta Santoso mengambil uang kembalian, ia selalu menolak. Menurut Santoso, imbalan harus setimpal dengan apa yang telah ia lakukan.
Santoso bukan sekadar tukang parkir biasa. Keramahan dan kebaikannya menyentuh hati banyak orang. Hal inilah yang membuat pelanggan parkir percaya sepenuhnya pada kinerja Santoso. Ditambah dengan penampilan Santoso yang selalu rapi dan bersih.
Santoso berharap pada usianya yang sudah lanjut, ia masih dapat berbuat kebaikan. Sosok tukang parkir ini ingin menerima segala hal dengan tulus dan ikhlas. Tidak lupa selalu bersyukur. Santoso pun berharap kebaikannya dapat menular pada orang-orang yang ia temui. Ia percaya, dengan hidup demikian Tuhan akan membalas kebaikannya.
