Bernas.id – Sekilas Girish Sharma tampak seperti pebulu tangkis biasa. Ia melompat ke sana ke mari mengayunkan raket menangkis serangan lawan. Bedanya, ia melakukan itu hanya dengan satu kaki. Sharma merupakan bintang olah raga India. Ia pebulu tangkis penyandang disabilitas peringkat dua India, untuk kategori tunggal dan ganda.
Sharma masih berusia dua tahun ketika sebuah kecelakaan kereta api merenggut kaki kanannya pada 1989. Namun, hal itu tidak membuat kehidupan pria kelahiran Rajkot, Gujarat itu berhenti. Sharma menjalani masa kecil hingga remaja dengan biasa. Sebagaimana rekan-rekannya, ia juga gemar berolahraga. Ia bahkan terbiasa bersepeda menyusuri kemacetan lalu lintas kota Rajkot tanpa masalah.
?Saat saya kecil, saya biasa bermain kriket, sepak bola, dan bulu tangkis dengan anak-anak normal seusia saya. Saya tidak pernah memikirkan disabilitas yang saya sandang. Saya menikmati permainan itu sebagaimana orang-orang normal menikmatinya,? kata Sharma dikutip dari Speak Bindas.
Sharma mulai menekuni olah raga bulu tangkis sejak usianya masih 14 tahun. Pada tahun 2007, ia pindah ke Thane untuk berlatih bulu tangkis secara profesional di Saiyad Modi Badminton Academy. Sharma meraih medali emas dalam Paraolympic Asia Cup for Disabled di India. Ia juga beberapa kali mewakili negaranya dalam berbagai kejuaraan internasional, seperti di Israel, Thailand, Guatemala, dan Jerman.
Satu hal yang kadang disesalkan Sharma adalah minimnya perhatian pemerintah India terhadap atlet penyandang disabilitas. Hal itu membuat para atlet penyandang disabilitas, termasuk Sharma, kerap merogoh kocek sendiri demi mengikuti kejuaraan internasional. Misalnya, pada tahun 2009, ketika Sharma hendak mengikuti kejuaraan internasional di Jerman, ia sama sekali tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Padahal, untuk mengikuti kejuaraan itu, atlet harus membayar biaya sebesar US$1.600. Beruntung, saat itu banyak teman-teman Sharma yang urunan membantu.
?Atlet kriket menerima sokongan dana yang baik dari pemerintah,? kata Sharma membandingkan kondisinya dengan kondisi atlet kriket yang menurutnya lebih baik. ?Seperti saat mereka menjuarai kejuaraan dunia di Afrika Selatan, setiap negara bagian mengumumkan bantuannya,? tambahnya.
Menurut Sharma tidak mudah bagi atlet di India memperoleh pendanaan selain dari pemerintah. Terlebih bagi atlet penyandang disabilitas seperti dirinya. ?Saat saya datang ke sebuah perusahaan untuk mencari sponsor mengikuti kejuaraan, hal pertama yang mereka tanyakan adalah siapa yang akan menonton kejuaraan seperti itu. Itu sangat melecehkan,? keluh Sharma. Pertanyaan seperti itu, menurut Sharma timbul karena ketidaktahuan publik tentang kejuaraan olah raga bagi penyandang disabilitas seperti Paralympic. ?Paralympic adalah kejuaraan oleh raga terbesar kedua setelah olimpiade. Tidak hanya bulu tangkis, tetapi juga renang, tenis meja, dan lain-lain. negara mengabaikan itu,? tambahnya.
Kendati demikian, Sharma tidak patah arang. Ia tetap bermain maksimal dengan atau tanpa sokongan pemerintah. Dalam kejuaraan internasional di Jerman misalnya, ia berhasil membawa pulang medali emas untuk negaranya. Sharma yang memiliki jadwal latihan rutin enam jam sehari itu mengaku bangga dengan pencapaiannya. Karena meski tidak mendapat sokongan dari negara, ia tetap bisa memberikan yang terbaik bagi negara.
