“Sang Shodanco berbaring sejajar dengannya dengan napas satu-satu yang demikian perlahan membuat Alamanda berpikir bahwa laki-laki itu telah jatuh tertidur setelah lelah memerkosa dirinya. Ia bersumpah jika seluruh kekuatannya pulih di saat itu, ia tak segan-segan mengambil pisau, menusuk laki-laki yang tertidur itu untuk membunuhnya. Atau meledakkan mortar di dalam mulutnya. Atau melemparkannya ke tengah laut dengan meriam. Namun, ternyata dugaan bahwa laki-laki itu sudah tertidur sama sekali keliru karna kemudian Sang Shodanco bangun dan berkata, kali ini ia mulai bisa mendengarnya, ?Jika kau ingin menaklukkan laki-laki dan mencampakkannya bagai sampah hina, kau salah bertemu denganku, Alamanda. Aku memenangkan semua perang, termasuk perang melawanmu.” (Kurniawan, 2017:224)
Bernas.id – Kutipan di atas merupakan bagian dari novel Eka Kurniawan, Cantik itu Luka. Dalam kutipan ini, dapat dilihat telah terjadi kekerasan seksual berupa pemerkosaan yang dilakukan oleh Sang Shodanco terhadap Alamanda. Shodanco juga mengungkapkan kemenangannya atas Alamanda, seakan sekaligus menyatakan bahwa ia pribadi yang selalu menang di setiap kondisi, tidak peduli seberapa sulit rintangan yang ia hadapi dan dilakukan dengan cara apa pun.
Kepemimpinan yang buruk dapat menyebabkan lingkungan kerja yang otoriter dan tidak sehat. Dengan Sertifikasi Manajer SDM, seseorang akan memahami manajemen sumber daya manusia secara profesional, menciptakan kepemimpinan yang adil, dan membangun tim yang lebih harmonis.
Sikap tidak menerima kekalahan yang ditunjukkan Sang Shodanco berakar dari sikap pantang menyerah yang dimilikinya sebagai seorang militer. Arti “shodanco” merupakan pangkat Pimpinan Kompi yang diberikan kepada tentara PETA zaman penjajahan Jepang. Sang Shodanco menegaskan bahwa ia dapat memenangkan semua perang yang dihadapinya kala itu.
Hal tersebut menegaskan bahwa ia adalah pemimpin yang baik dan memiliki ambisi untuk menang serta pantang menyerah. Sang Shodanco selaku pemimpin dalam dunia militer, sudah pasti memiliki kualifikasi yang dibutuhkan seorang pemimpin militer seperti mampu mengorganisasi penyerangan, mampu mengkoordinasi anak buahnya, serta pemikir taktik ulung guna memenangkan setiap peperangan.
Sebuah Penyimpangan
Menurut Carolyn Holderread Heggen dalam bukunya Pelecehan Seksual dalam Keluarga Kristen dan Gereja (2008:10), pelecehan seksual adalah satu tanda yang paling nyata atas tindakan menguasai dan mengendalikan orang lain. Dari kutipan tersebut, Sang Shodanco memerkosa Alamanda sebagai pelampiasan karena ia tidak dapat menerima fakta bahwa ia gagal memenangkan hati Alamanda.
Hal ini berujung pada pemikiran bahwa jika ia tidak bisa memenangkan hati Alamanda, maka ia akan memenangkan tubuh Alamanda. Dengan begitu, Sang Shodanco merasa dapat mengendalikan orang-orang dalam hidupnya dan merealisasikan ambisinya untuk menang di setiap macam pertempuran, termasuk pertempuran mendapatkan Alamanda.
Sebenarnya, sikap pantang menyerah merupakan akhlak terpuji yang harus dimiliki setiap orang dalam menyikapi rintangan kehidupan. Jika sikap pantang menyerah yang dimiliki seseorang bermetamorfosis menjadi sikap tidak dapat menerima kekalahan, hal ini tentu berbeda.. Menurut Rob Robson dalam Psikologi Populer: Membangun Hubungan Manusia (2009:22), apabila seseorang tidak dapat menerima kekalahan, ia telah kalah dalam performance (pekerjaan) dan sekaligus kalah dalam martabat atau harga diri.
Baca juga: Memahami Unsur Intrinsik Novel dengan Benar
Keras Kepala dan Pantang Menyerah
Secara tidak langsung, sikap pantang menyerah Sang Shodanco yang melenceng justru membuat dirinya haus akan dominansi terhadap keadaan dan orang-orang di sekitarnya. Hal itu membuat dirinya kehilangan akal sehat dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya sekaligus menurunkan harkat dan martabatnya di mata orang banyak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016:51), ambisi adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Dalam hal ini, Sang Shodanco mempunyai ambisi untuk memenangkan pertarungan mendapatkan Alamanda walaupun perempuan tersebut menolak untuk bersamanya dan hanya berniat untuk mempermainkan hatinya belaka.
Ambisi Sang Shodanco untuk mendapatkan dan menjadi dominan terhadap Alamanda merupakan praktik keliru dari sifatnya yang terasah untuk pantang menyerah dan berambisi memenangkan semua pertempuran ketika ia masih menjadi pemimpin dalam militer.
Sebuah Kesalahan
Kekeliruan yang dapat dilihat dari respons Sang Shodanco ketika mengalami penolakan berakar dari pemikiran awalnya sendiri. Ia menyamakan wanita sebagai sosok yang harus ditaklukkan, dikuasai, dan didapat seperti layaknya kemenangan atas musuh di medan gerilya.
Shodanco memperlakukan proses penaklukkan hati wanita sama seperti proses merencanakan penyerangan terhadap musuh. Seakan-akan di alam bawah sadarnya mendapatkan hati wanita adalah suatu rintangan yang harus ia selesaikan dan akan menjadi penghargaan diri sehabis menghancurkan benteng musuh.
Menurut Steven Baumgardner dan Marie Crothers dalam Positive Psychology (2010:35), ada tiga aspek dalam cinta, meliputi keintiman, kegairahan, dan komitmen. Keintiman adalah suatu konsep yang mengacu pada perasaan kedekatan atau perasaan keterhubungan di antara dua orang.
Kegairahan adalah sumber pembangkitan (arousal) yang mengacu pada keterbangkitan fungsi emosi dan fungsi biologis yang kuat. Komitmen adalah suatu konstruk psikologis yang berhubungan dengan keputusan tentang keterikatan seseorang dengan orang lain dalm suatu hubungan.
Baca juga: Bacaan Wajib Orang Tua, 15 Kiat Komunikasi Efektif dengan Anak!
Rasa Cinta Shodanco
Yang menjadi perhatian adalah konsep cinta milik Sang Shodanco yang tidak sesuai dengan teori dari Baumgardner dan Clothers. Hal ini dapat dibuktikan oleh beberapa hal. Pertama, rasa ketertarikan yang tidak berlangsung secara timbal balik antara Sang Shodanco dengan Alamanda. Hal ini menunjukkan tidak ada perasaan keterhubungan atau kedekatan di antara keduanya.
Hal tersebut dikarenakan faktor Alamanda yang tidak memiliki perasaan khusus untuk Sang Shodanco. Dengan demikian, tidak adanya aspek keintiman dalam hubungan mereka. Kedua, aspek kegairahan yang hanya dimiliki oleh Sang Shodanco, baik dalam fungsi emosi (rasa sayang) maupun fungsi biologis (kebutuhan Sang Shodanco untuk melakukan kontak fisik terhadap Alamanda).
Namun, hal ini tidak berlaku bagi Alamanda. Hal itu berujung pada peristiwa pemerkosaan terhadap Amanda dikarenakan ia menolak untuk memberikan rasa cintanya pada Sang Shodanco. Sementara itu, Sang Shodanco yang tidak siap mengalami penolakan. Ketiga, di dalam suatu hubungan percintaan dibutuhkan komitmen untuk menjalani hubungan tersebut atas dasar ketertarikan kedua belah pihak. Perasaan cinta Sang Shodanco bertepuk sebelah tangan sehingga tidak ada komitmen.
Hal yang Bisa Dipelajari
Perlu menjadi perhatian bahwa tindakan Shodanco terhadap Alamanda dapat terjadi karena Sang Shodanco yang tidak dapat lepas dari prinsip kemiliterannya. Prinsipnya selalu menang dalam setiap pertarungan. Padahal, tidak selamanya prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, apalagi terhadap orang di sekeliling kita dan orang-orang yang dikasihi.
Sungguh memprihatinkan apabila di masa sekarang ataupun di masa yang akan datang. Aplikasi hidup seorang militer atau seorang polisi mengalami masalah dengan pengaturan dirinya dalam bersikap terhadap orang-orang terdekat mereka; dalam hal ini tentang urusan percintaan sekaligus rumah tangga.
Ambisi menang yang diperoleh mereka dari militer tidak berhenti pada proses memenangkan hati pasangan saja, tetapi berlanjut pada kehidupan rumah tangganya kelak. Dalam meraih rasa hormat istri dan anak-anaknya yang dilakukan secara otoriter dan pemaksaan, hal ini dapat berujung pada kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di kemudian hari.
Maka dari itu, untuk menghindari hal tersebut dibutuhkan kesadaran dari seorang militer atau seorang polisi bahwa mencintai hakikatnya berbeda dengan sekedar memiliki atau memenangkan pasangan. Dengan diimbangi usaha untuk mengerti bahwa dalam cinta, seseorang tidak dapat egois dan ingin menang sendiri. Justru, dirinya diasah untuk mementingkan kepentingan orang lain dan rela berkorban bagi orang tersebut, serta mengasihi dengan setulus hati.
Selain itu, diperlukan juga sikap lapang dada dan berbesar hati menerima kekalahan. Tidak semua yang direncanakan dalam hidup dapat berjalan dengan mulus dan dapat dipaksakan. Namun, kendala untuk mendapatkan pasangan hidup menjadi introspeksi diri seseorang. Perjalanan mendapatkan pasangan hidup termasuk jalan yang mulus atau penuh hambatan dalam mendapatkannya.
Manajemen untuk Mewujudkan Kepemimpinan yang Adil
Ketika kekuasaan disalahgunakan, kepemimpinan yang baik menjadi kunci keadilan. Di program studi Manajemen Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), Anda akan belajar tentang strategi kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan cara menciptakan lingkungan kerja yang harmonis.
Ketimpangan akses pendidikan tidak seharusnya terjadi. Dengan Beasiswa PBL, Anda bisa kuliah dengan harga lebih terjangkau sambil mengembangkan keterampilan kerja remote yang relevan dengan industri digital.
Jangan biarkan masa depan Anda dikendalikan oleh keadaan! Bergabunglah dengan PMB UNMAHA dan raih kesempatan belajar di universitas berbasis teknologi dan kewirausahaan. Hubungi WhatsApp PMB untuk informasi lebih lanjut.
(*Penulis: Janice Hamdani, Siswa SMAK PENABUR Harapan Indah) 4
DAFTAR PUSTAKA
Hegen, Carolyn. 2008. Pelecehan Seksual dalam Keluarga Kristen dan Gereja. Jakarta: Gunung Mulia
Kurniawan, Eka. 2017. Cantik itu Luka. Jakarta: Gramedia
Baumgardner, S. R., & Crothers, Marie. 2010. Positive Psychology. New Jersey: Pearson Education
Widyarini, Nilam. 2009. Psikologi Populer: Membangun Hubungan Antar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo
