Bernas.id – Tahukah anda bukan hanya penyakit yang menular, emosi, perasaan atau pikiran itu juga menular. Dalam prakteknya sebenarnya kita sering mengalami hal ini namun mungkin tidak sadar sehingga terjadi begitu saja. Penularan emosi tersebut merupakan hasil dari penularan secara psikologis, bentuknya bisa berupa perilaku dan sikap kita. Sebagian besar hal-hal tersebut dapat menular karena manusia dianugerahi rasa empati sehingga mampu merasakan apa yang orang lain rasakan.
Contoh paling sering terjadi adalah saat ada orang dekat kita yang menguap tanpa kita sadari kita ikut menguap juga terpengaruh orang tersebut. Selain itu biasanya penularan emosi melibatkan perasaan orang di sekitar kita .
Selama ini, kebanyakan dari kita hanya tahu bahwa apa yang kita pikirkan di hati kita akan diekspresikan dalam wujud ekspresi wajah kita, ternyata hal tersebut juga memengaruhi orang orang di sekitar kita. Misalnya jika ada teman dekat kita yang mengeluh atau kesal terhadap sesuatu menggerutu, dan menyesalkan hal yang dia harapkan namun tidak diperolehnya. Maka cepat atau lambat kita ikut merasakan negatif energi dari keluhan tersebut. Berada di sekitar orang yang mengeluh atau kesal itu sama halnya seperti berada dekat medan magnet yang pengaruhnya begitu kuat, bisa jadi kita ikut terpengaruh jika tidak mampu mengontrol emosi dan akal sehat.
Selain perasaan bahagia, bangga, sedih, marah, dan kecewa ternyata emosi kita juga bersifat menular baik dari cara pandang yang kita utarakan lewat kata kata, tulisan melalui media social. Menurut sebuah laporan yang dilansir di Newscientist.com, perasaan senang atau sedih bisa menular. Dicontohkan, sebuah pertemuan tatap muka atau face to face secara online dengan seseorang yang sedang sedih atau ceria dapat membuat kita merasakan perasaan yang sama dengan orang yang sedang berkomunikasi dengan kita.
Sebelumnya memang bisa dimengerti sebagian orang bahwa fenomena seperti ini bukan mustahil bisa terjadi. Hebatnya lagi meski melalui dunia maya emosi negatif atau positif tetap bisa dirasakan dan bersifat menular, ditambah melalui teknologi internet, emosi tersebut bisa tersebar ke semua pengguna yang melihat dan membacanya tanpa terkecuali.
Jika emosi atau perasaan yang tersebar dala bentuk positif seperti nasihat, informasi positif, atau hal yang membahagiakan mungkin hal tersebut bisa bermanfaat, namun lain halnya jika perasaan yang tersebar adalah emosi negatif. Ujaran kebencian, hujatan, pola pikir negatif memberikan dampak merusak yang lebih besar apabila menggunakan media sosial.
Bisa dibayangkan berapa pasang mata yang melihat, berapa banyak orang yang terpengaruh, berapa banyak orang yang ikut kesal belum lagi jika penggunaannya membagikan lagi kepada pengguna yang lainnya sehingga terjadi efek negatif yang berantai. Meskipun berita atau informasi yang dibagikan belum tentu bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya atau hoax. Ujaran kebencian selain dapat memprovokasi daya pikir seseorang namun juga dapat memicu (pola) tindakan negatif yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Oleh karena itu, diperlukan kewaspadaan dan kedewasaan dari diri pribadi serta kemauan untuk berperan aktif serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar meliputi anggota keluarga, teman, kerabat, untuk dapat menangkal gelombang konten-konten ujaran kebencian. Jangan dibiarkan berkembang karena hanya akan menimbulkan kerugian bagi bersama. Jika ada orang-orang terdekat yang terindikasi terpengaruh ujaran kebencian, kita harus berani untuk mengarahkannya ke arah yang benar dan mengingatkan akibatnya.
