Bernas.id ? Wahai Muslimin dan Muslimah! Sebagian besar dari kita apabila ditanya, ?Berapa kali kamu beribadah kepada Allah dalam sehari penuh?? Jawabannya beragam, namun yang lebih banyak akan menjawab, ?Lima kali sehari?. Sepintas jawaban tersebut ?benar?, mengingat kita melaksanakan shalat 5 waktu, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya.
Ada satu jawaban mengejutkan dari salah seorang di antara mereka, sebut saja Abdullah. ?Ibadah itu semestinya 24 jam full,? ungkapnya. Bagaimana bisa kita ibadah 24 jam penuh? Apakah kita harus di tempat ibadah terus menerus sepanjang hari, tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur?
?Betul! 24 jam sehari penuh kita beribadah kepada Allah Azza wa Jalla,? kemudian dia berkata tegas, ?Sangatlah rugi apabila dalam sehari kita diberi waktu 24 jam, namun beribadah kepada Allah hanya di saat salat 5 waktu. Rugi! Sungguh, amat rugi!? tuturnya tegas.
Sampai di sini, mungkin beberapa di antara kita sudah mulai menduga-duga. Abdullah melanjutkan, ?Bagaimana kita beraktivitas sehari-hari, bekerja rutin di kantor, memasak di dapur, tetapi tidak diniatkan beribadah kepada Allah??
Beberapa sahabat Abdullah memperhatikan dengan seksama. Hingga mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa ibadah kita semestinya full 24 jam, tanpa jeda. Peluang beribadah dan mendulang pahala tidak hanya saat salat 5 waktu, namun lebih banyak dari itu. Mari kita simak penjelasannya!
Bangun tidur
Ketika kita tersadar dari mimpi, membuka mata, lalu bangun dari pembaringan di pagi hari. Kita membaca doa bahwa kita telah dibangkitkan dari tidur dalam keadaan masih hidup di dunia.
Aktivitas pribadi
Rutinitas pagi hari seperti membereskan tempat tidur, menyapu lantai, istri menyiapkan air minum untuk suami; buang air besar, mandi, gosok gigi, mencuci pakaian, istri menyiapkan sarapan pagi; menyeterika baju seragam sekolah anak-anak; suami tersenyum lembut dan mesra kepada istri sebagai ungkapan terima kasih, makan bersama anak-anak dan istri; mempersiapkan kendaraan agar lancar dipakai menuju tempat kerja, dan lainnya.
Aktivitas pekerjaan
Pekerjaan apapun itu namanya, jadikanlah ladang amal ibadah kita. Karyawan bagian pelayanan umum di tingkat desa, tingkat kecamatan, bahkan seorang presiden pun, pekerjaannya masing-masing bisa bernilai ibadah. Tukang pengaspal jalan, tukang kayu pembuat perabotan, tukang bangunan yang membangun sebuah rumah atau masjid, tukang jahit yang membuatkan pakaian.
Jalan, perabotan, bangunan, masjid, pakaian, dan hasil karya dalam bentuk apapun, selama itu digunakan untuk kebaikan, maka para tukang tersebut telah melakukan tindakan ibadah; tukang becak, tukang bubur ayam, tukang sayur keliling, pelayan rumah makan, mereka juga melakukan kegiatan ibadah guna melayani dan memudahkan para pelanggannya. Tukang servis kendaraan, pak pos pengantar surat atau paket, atau profesi apapun, selama itu baik, maka bisa bernilai ibadah.
Masa istirahat
Ketika beristirahat, hak tubuh ditunaikan. Yaitu hak memulihkan kekuatan. Tidur malam hari, termasuk memberikan vitamin, mineral, dan nutrisi penting bagi tubuh. Pemulihan kesehatan di saat terkena sakit, itu pun termasuk langkah-langkah ibadah. Semuanya milik Allah, dan kita harus memeliharanya.
Kuncinya agar semua tindakan kita dinilai sebagai ibadah, dengan mengucapkan Ta?awudz dan Basmallah sebelum melakukan sesuatu kegiatan! A?udzubillahi minasy syaithaanirrajiim… ?Bismillah?… Lebih baik bacaan lengkap ?Bismillahirrahmaanirrahiim…? maka in syaa Allah, semua yang kita lakukan akan bernilai ibadah, 24 jam full.