Bernas.id – Telah kita ketahui bersama bahwa beras merupakan makanan pokok bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Melihat posisi pentingnya, bahan pangan dengan nama latin Oryza sativa ini menjadi salah satu bahasan penting di ranah politik. Dilansir dari Kompas.com, Presiden Joko Widodo mengutarakan kebijakan mengimpor 500.000 ton beras untuk mengantisipasi keguncangan stok beras nasional. Langkah ini dilakukan terkait laporan bahwa hasil panen menurun. Dan ditakutkan akan mengimbas pada harga beras di daerah.
Sungguh sangat disayangkan jika ternyata negeri yang dikatakan makmur ini ternyata mengalami impor beras dalam jumlah yang besar. Walau pada kenyataannya langkah ini membutuhkan pertimbangan matang oleh pemerintah, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman berharap hanya beras saja yang diimpor. Komoditas yang lain diharapkan menjadi surplus atau bahkan sampai ekspor. Terlepas dari isu tentang pangan nasional, ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah untuk memberdayakan masyarakat untuk melek teknologi. Komoditas yang menjanjikan di kalangan petani, tidak hanya dapat berkembang di kancah daerah maupun nasional, namun juga go international. Dengan memanfaatkan era digital, maka pemasaran internasional tidak lagi dalam angan-angan belaka.
Mengapa melalui digital?
Prediksi marketing untuk 2018 ini, dengan teknologi digital, segala pencakupan usia maupun daerah tidak menjadi perkara. Terlebih dengan pemanfaatan jejaring sosial (social media) menjadi salah satu fasilitatornya. Mulai dari 2017 hingga awal 2018 ini, bentuk pemasaran yang biasa dilakukan di kalangan pebisnis pemula adalah melalui media sosial. Berjejaring dengan kawan lama hingga keluarga dekat dapat terjadi kapan saja. Dan komunikasi tanpa batas pun juga dapat terjadi di mana saja, kapan saja. Itu semua hanya bermodalkan gawai yang sudah bukan menjadi barang mewah sekarang.
Bagaimana cara memasarkannya?
Sudah tidak diragukan lagi jika sosial media, seperti Facebook dan Instagram pasti sudah marak di kalangan muda hingga lanjut. Baik untuk eksis, narsis, sampai menjadi ajang koleksi pribadi. Dengan mengoptimalkan fungsi dari sosial media untuk berjejaring, para pelaku pemasaran komoditas daerah, baik petani itu sendiri maupun relasinya, dapat mulai meng-upload foto komoditas yang akan dipasarkan. Setelah itu penggunaan caption menarik, yang tentu tidak semata-mata berbau menjual, dapat menyertai foto tersebut. Tentu dengan membangun personal branding terlebih dahulu, mengedukasi para sasaran, dan juga mengumpulkan lead. Teknik pemasaran yang tepat dan jitu akan menggiring lead menuju buyer.
Pembentukan personal branding di jejaring sosial dimulai dengan interaksi ke sesama pengguna. Untuk media sosial Facebook dapat dilakukan dengan rajin memberikan like dan comment pada tayangan teman maupun target pemasaran. Hal ini akan mempengaruhi peluang tayangan kita muncul di beranda sasaran. Untuk personal branding instagram tidak jauh berbeda, dengan adanya fitur instastory dapat dioptimalkan dengan mengunggah kegiatan yang berkaitan dengan komoditas yang akan dipasarkan.
Penggunaan hastag (untuk media sosial instagram) pun mempengaruhi bagaimana foto yang di-upload oleh para pelaku pemasaran tersebut cepat ditemukan oleh sasaran. Mengkolaborasikan maksimal 15 hastag berkaitan dengan produk yang ditawarkan menjadi salah satu senjata yang dapat dioptimalkan. Konsistensi pun termasuk hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Algoritma dari sosial media yang selalu berubah membuat para pelaku pemasaran harus turut beradaptasi demi optimalnya tayangan yang diunggah. Setidaknya dengan mengunggah 2-3 tayangan per hari tentu bukan suatu hal yang sulit.
Pemasaran di bidang digital memang tidak selelah ketika harus berteriak di pasar. Namun, salah strategi bisa membuat semua upaya juga sia-sia. Tentunya hal ini tidak ingin dirasakan oleh para pelaku pemasaran dan petani.
Apakah harus komoditas mentah?
Memasuki era serba instan, banyak kemudahan yang diharapkan oleh pasar untuk mengonsumsi sebuah komoditas. Berkolaborasi dengan UKM setempat dan mengolah komoditas mentah menjadi suatu produk yang bernilai benefit tinggi akan memudahkan pemasaran nantinya. Pemberdayaan masyarakat setempat untuk mengolah berbagai komoditas daerah untuk dipasarkan secara online tentu akan meningkatkan pendapatan dan sumber daya manusia.
Jika hal-hal di atas dilakukan di setiap daerah dan pemerintah memberikan support penuh bagi petani kecil, tentu akan sangat banyak kehidupan mereka yang terbantu dan semakin berkembang. Pastinya tidak ada yang menolak jika perekonomiannya menjadi lebih baik hanya berawal dari gawai, bukan?
