Bernas.id – ?Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?? Demikian terjemahan kalimat pertama dari surat ?Al Insyirah?. Berisi delapan ayat, surat ini padat dengan petunjuk mengenai titik-titik lemah manusia.
Kata ?nasyrah? dalam ayat ini berbentuk fi?il mudhari?. Menurut ustadz Muhammad Rozi, Magister Antropologi UGM dan imam salah satu masjid di Birmingham, Inggris bahwa kalimat ini tidak semata-mata berlaku hanya untuk Rasulullah yang sedang menanggung beban yang begitu berat kala itu. Kalimat ini bahkan berlaku untuk umat Islam hari ini hingga hari akhir. Dengan selalu mengingat bahwa manusia adalah makhluk lemah dengan banyak kekurangan, maka sombong tidak akan hadir di hati.
Titik-titik lemah atau kekurangan manusia yaitu:
1. Keteledoran dalam mengelola hati, membuat orang mudah marah, berpikir sempit, tidak mudah menerima kebenaran dari pendapat orang lain. Ini kemudian menjadikan orang bermental selfish, selalu berpikir diri sendiri. Repotnya, mental ataupun sikap seperti ini justru kerap menimbulkan ketidaktenangan, tidak pernah nyaman, merasa selalu ada ancaman.
Hati selalu berbolak-balik, tempat bersemayamnya iman kita, yang terkadang naik manakala duduk di majelis, tapi kemudian turun ketika di depan televisi atau gadget. Ada satu bagian dari diri manusia yang darinya keadaan hati menjadi timbul tenggelam, yaitu akal. Ketika akal kita mengolah informasi-informasi yang baik, maka hati menjadi tenang. Namun ketika yang masuk dalam pikiran adalah informasi-informasi buruk, maka muncul kegelisahan.
Ada sesuatu dalam pikiran kita yang membuat informasi apapun yang masuk bisa membuat hati menjadi tenang, yaitu the way of thinking, bagaimana informasi itu kita kelola.
2. Manusia cenderung menghindari beban. Kalau ada orang yang ?mencari-cari? beban, kemungkinan besarnya bukan pada bebannya, tetapi bisa jabatan/peran yang lebih tinggi (dihormati), atau imbalan lebih besar yang akan didapatkan. Sebagai contoh, ada orang mengejar-ngejar pekerjaan karena berharap dengan itu ia memperoleh jabatan atau imbalan lainnya.
3. Nafsu manusia untuk lebih menyukai kemudahan atau yang enak-enak saja. Pada dasarnya tidak ada manusia yang menyukai kesulitan. Tetapi Allah memaksa manusia untuk berada dalam kesulitan. Karena dengan beban dan kesulitan itulah manusia kelak menjadi kuat, baik jasmani, mental, juga ruhani dan imannya.
4. Mudahnya terlena oleh kemudahan (kebaikan), ada ungkapan “al ihsanu yu'jizul insan“, kebaikan itu melemahkan manusia. Kalau dalam huruf jawab, agar sebuah huruf itu mati maka diberi “pangku”. Jika sudah diberi upeti, akan cenderung mengiyakan apa yang dikatakan si pemberi upeti, maka Allah memberikan kesulitan kepada manusia agar dapat berpikir yang seimbang.
Bagaimana agar ketika kita “dipangku” tetap kuat dengan pendirian yang kuat dalam kebenaran? Kita membutuhkan ilmu agama yang mengajari kita membedakan yang hak dan batil. Maka ketika dalam posisi “dipangku” pun, karena kita tahu sesuatu itu batil maka tidak ada jalan lain kecuali menolaknya.
Perlu membiasakan diri untuk “menelan pil pahit” seperti saat sakit. Karena berharap sembuh maka kita rela disuntik, minum pil pahit dan sebagainya. Hidup ini memang penuh ujian, ada kalanya kita harus bersiap untuk kehilangan sahabat, jabatan, peluang atau apapun. Walaupun ini juga tidak mudah, setidaknya harus membiasakan diri.
