Bernas.id – Yogyakarta yang dulu hanya dikenal sebagai kota pelajar kini menjadi kota tujuan wisata favorit selain Bali dan Bandung. Hampir setiap akhir pekan atau masa liburan, Kota Gudeg ini dipadati oleh wisatawan mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Jogja (Yogyakarta) adalah kota wisata lengkap yang menarik. Mulai dari keindahan alam, kuliner, budaya, edukasi, wahana bermain sampai kawasan belanja semua ada. Sebut saja Desa Wisata Kalibiru atau Taman Tebing Breksi adalah dua di antara beberapa tujuan wisata di Jogja yang sedang naik daun.
Namun ada yang tidak terpisahkan dari wisata Jogja adalah masjid Jogokariyan. Masjid Jogokariyan memang hanya masjid kampung yang sederhana berlantai dua, tetapi jika berbicara manajemen dan kemakmuran, masjid yang berlokasi di jalan Jogokariyan nomor 36 Yogyakarta ini patut dijadikan sebagai tempat untuk studi banding. Jamaah Shubuh di masjid ini separuh dari jamaah Jumat, sangat ramai.
Masjid Jogokariyan tidak bergantung pada sumbangan masyarakat. Bahkan dengan manajemen profesionalnya, keberadaan masjid Jogokariyan justru membantu kehidupan ekonomi masyarakat. Mampu menjadikan ekonomi berbasis masjid sebagai penggerak roda ekonomi.
Ketika banyak pengurus masjid yang mengumumkan saldo infak bernilai jutaan rupiah, masjid Jogokariyan justru selalu berusaha agar pada tiap pengumuman, saldo infak hanya setara nol rupiah. Alasannya adalah saldo yang besar akan menyakiti ketika ada warga yang sakit namun tidak dapat ke rumah sakit karena tidak punya uang, atau ada warga miskin yang tidak bisa bersekolah dan sebagainya.
Pada tahun 2005 masjid Jogokariyan berinovasi dengan Gerakan Jamaah Mandiri. Jumlah biaya operasional masjid dihitung untuk satu tahun lalu dibagi 52 minggu. Kemudian dibagi lagi dengan kapasitas masjid maka diperoleh biaya per-tempat shalat. Ternyata, kebutuhan operasional masjid akan tertutupi jika setiap jamaah menyumbang Rp1.500,- setiap Jumat.
DKM lalu mengumumkan jika jamaah berinfak Rp1.500,- maka ibadah mereka tidak disubsidi, tetapi jika kurang dari Rp1.500,- itu sama artinya bahwa ibadah mereka disubsidi oleh masjid. Gerakan Jamaah Mandiri ini berhasil menaikkan penerimaan infak masjid sampai 400 persen. Pelaporan akuntabilitas keuangan yang baik dan transparan membuat jamaah tidak sungkan berinfak lebih dari Rp1.500,-.
Penerimaan dana itu tidak langsung digunakan untuk pembangunan masjid tetapi disalurkan melalui pengelolaan bisnis. Keuntungan bisnis itu memberikan penghasilan bagi kemakmuran masjid dan warga sekitar.
DKM Jogokariyan menerapkan ?Sensus Masjid? sebagai data tahunan yang dikemas dalam bentuk database bagi dakwah berbasis Masjid. Data ini dibuat sangat detail sehingga DKM Jogokariyan mengetahui bahwa dari 1030 KK atau 4000 lebih warga, yang belum shalat sebanyak jumlahnya sekian orang. Data ini diperbaharui setiap tahun sehingga DKM dapat mengetahui perkembangan dakwah setiap tahun. Misalnya pada tahun 2010, jumlah warga yang tidak shalat yaitu 17 orang, padahal pada tahun 2000 warga Jogokariyan yang belum shalat sekitar 127 orang.
Seperti dikutip dari detik.com bahwa masjid ini tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat masjid ini, baik yang menginap di kamar yang disewakan oleh masjid maupun yang tidak menginap, selain itu lembaga dan instansi pemerintah dari berbagai kota juga rutin melakukan studi banding pengelolaan keuangan di masjid ini, seperti studi banding Pemkot Sawahlunto beberapa waktu lalu yang berjumlah 104 orang.
