Bernas.id – Elga Sarapung, Direktur Institut Dialog Antariman di Indonesia (DIAN)/(Institut for Interfaith Dialoguein Indonesia (Interfidei) Kepada Bernas.id, Rabu (31/1) berkomentar tentang organisasi masyarakat (ormas) yang mengatasnamakan agama membubarkan paksa acara bakti sosial yang diselenggarakan Gereja Katolik Santo (St) Paulus Pringgolayan, Banguntapan, Bantul karena dianggap sebagai upaya melakukan Kristenisasi, Senin (29/1).
Dikatakan Elga, kelompok yang kita bilang intoleran di Jogja itu mendatangi, membubarkan, dan melarang mereka melakukan kegiatan itu karena ini pasti kristenisasi. Bagaimana mungkin ini kristenisasi?
Menurut mereka, lanjut Elga, karena yang Muslim ini dilibatkan, dibantu maksudnya, tapi kok sebegitu curiga. Pemahaman tentang beragama dalam hidup bersama di tengah masyarakat itu, sangat pendek sumbunya, cara mereka mengerti. Jadi apa arti beragama? Pertama, memang mereka ada teologi tertentu yang memang mau menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Itu jelas dan itu terus terang juga mereka katakan ya. Lalu cara-cara mereka itu sampai dengan seperti itu. Bisa melarang seenaknya berdasarkan pemikiran keagamaan mereka dan kepentingan politik mereka.
Pertanyaannya, kenapa mereka bisa melakukan itu? Ini kan pertanyaan besar dan ada aspek politik juga di situ. Kita berharap seharusnya pemerintah bisa menjelaskan kepada mereka, Ini tidak ada maksud kristenisasi. Ini orang membantu orang lain kok, sederhananya seperti itu, tetapi orang-orang sumbu pendek seperti ini tidak peduli dengan itu. Itu tadi, pokoknya mereka merasa mereka, apalagi ketika dibelakang kepala mereka itu ?Kami mayoritas, kami yang punya hak kekuatan dan previlige yang lebih dibandingkan yang lain? dan secara keimanan, kalau saya katakan, ini model orang-orang itu bukan cuma sumbu pendek, tapi ini mungkin teologis ya, orang yang sebenarnya tidak percaya kepada kedewasaan imannya.
Diucapkan Elga, yang lebih dilematis ketika kita sudah hubungkan ini dengan hidup bermasyarakat di sebuah negara yang berdasarkan Pancasila. Kenapa mereka harus larang? Apa hak mereka untuk menghentikan itu? Kalau dibaca secara objektif karena ketakutan jangan-jangan muslim yang menerima bantuan itu akan berpindah agama menjadi Kristen.
Dalam sebuah seminar bersama guru-guru agama di Yogyakarta, (23/1), Buya Syafi?I Ma?arif menceritakan ada sebuah lembaga Kristen di Jakarta dipimpin oleh mantan tokoh PDIP, mantan anggota DPR namanya Yakob Tobing. Dia begitu giat mempromosikan Islam yang damai di Indonesia. Walaupun ternyata masih belum damai juga. Tetapi dibandingkan Arab, wajah Indonesia itu lebih baik.
?Saya pernah diundang oleh BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) yang kepalanya seorang komjen bintang 3 yang sedang menjinakkan para teroris itu dan berhasil. Kembali saya dapat WA dari mantan komandan adiknya Amrosi dari Lamongan, Desa Tenggulu. Di situ dirancang bom Bali itu. Jalannya berbelok-belok, tapi hebat sekali otak-otak besar rancang sesuatu untuk goncang dunia ini (korbannya orang Australia, Bali, orang Muslim, dan macam-macam). Sekarang di desa kecil Tenggulu ini, bendera Merah Putih sudah berkibar di sana. Agustus tahun 2017, yang mengibarkan itu anak Amrosi, ini menarik. Setelah bapaknya dihukum mati, pikirannya bagaimana membunuh Polisi. Dia belajar sama Pamannya Ali Fauzi, bagaimana membunuh polisi itu. Tetapi dengan pendekatan lunak, bukannya hukum dan pendekatan keras, sekarang desa itu berubah menjadi desa Merah Putih. Pendekatan lunak itu bukan saja dari hati ke hati tetapi juga melakukan pendekatan ekonomi,? bebernya.
Dikatakan Buya, kita sering disampaikan tentang bonus demografi itu bagus. Nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka, penduduk kita sudah 350. Tapi kebun demokrasi kalau tidak diisi oleh Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi, yakni pendidikan lagi, akan menjadi beban, bahkan bencana. Keadilan sosial, sila yang kelima itu tidak dijadikan pedoman membangun negara sejak kita merdeka sampai saat ini.
