Bernas.id – Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi sosok calon pemimpin yang potensial untuk memimpin Indonesia di masa datang. Untuk persoalan rasa cinta dan rela berkorban terhadap bangsa dan negara, tak perlu diragukan lagi karena karirnya yang selama ini ditempuh di dunia militer. Dalam dunia politik, AHY boleh dibilang masih bersih dari lumpur-lumpur intrik kabar yang tidak sedap.
Istimewanya, Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY menyampaikan pidato politiknya dalam penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat 2018 tanpa membaca teks. Inilah salah satu kelebihan dari AHY yang berpidato dengan tema “Demokrat Siap” selama lebih dari 40 menit.
Ketika berorasi, pandangan mata AHY, tanpa ragu, melakukan kontak dengan seluruh kader di seluruh penjuru dengan tangannya yang sesekali terangkat.
Dilansi dari tempo, peneliti dari The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, meyakini pemberian peran sentral kepada AHY itu untuk memperbaiki perolehan suara partai Demokrat dari pemilu sebelumnya.
“Figur SBY tidak lagi mampu mendongkrak perolehan suara partai. Makanya dia butuh ikon politik baru yang mampu menyelamatkan partai atau membesarkan partai,” ujar Ary, Minggu, 11 Maret 2018.
Figur AHY, jelas Arya, jauh lebih populer ketimbang kader-kader Demokrat yang lama, misal Rachland Nashidik dan Ulil Abshar.
“Partai kan butuh suara, ya. Figur Rachland dibanding AHY tentu lebih terkenal AHY. Dibandingkan Ulil, apalagi,” kata Arya.
Dikatakan Arya, Jadi, penunjukan AHY sebagai pemegang peran dalam pemilu mendatang merupakan pilihan pragmatis yang bisa dipahami.
“Partai kan butuh sosok figur internal yang bisa membantu itu (menaikkan suara). Demokrat menemukan itu pada sosok AHY. Itu karena kebutuhan elektoral,” tuturnya.
Menurut Arya, AHY memang dianggap bisa mewakili genre baru pemilih di Indonesia, yakni pemilih muda, milenial, dan pemilih perempuan.
