BANTUL, BERNAS.ID- ??Alhamdulillah, mari kita kembangkan terus komunitas ini dengan melibatkan lebih banyak lagi warga masyarakat lainnya,?? demikian sambutan Hj Sugito, dalam Tasyakuran Kolingin (Komunitas Peduli Kali Nongo Indah) di Manding Serut, Bantul, DIY, Sabtu (22/12) malam lalu.
Malam syukuran itu dihadiri Mantan Kepala Dukuh Sabdodadi Hj Surami, tokoh masyarakat, dan aktivis Kolingin serta perwakilan dari Laznas (Lembaga Amil Zakat Nasional) Dewan Dakwah.
Pada kesempatan tersebut, Laznas Dewan Dakwah menyerahkan secara resmi penggunaan Markas Kolingin, satu unit perahu karet patroli sungai, dan empat unit sarana permainan anak-anak.
Lebih dari 20 kg lele juga ditebar Laznas Dewan Dakwah di Kali Winongo untuk dipancingi warga Manding Wetan maupun Kulon Kali.
Kehadiran para tokoh masyarakat dan dukungan terbuka mereka dalam tasyakuran itu menjadi obat pelipur lara aktivis Kolingin.
Setelah berbulan-bulan menuai cibiran, akhirnya di penghujung tahun eksistensi dan kerja bakti mereka diakui. ??Marem rasane (lega rasanya),?? ujar Subroto (59), Ketua Kolingin, sambil tersenyum lebar.
Pensiunan polisi Polsek Parangtritis itu menuturkan, Kolingin bermula pada suatu hari di bulan Februari 2018. Waktu itu Subroto dan kawan-kawan sedang ??jogo kali?? alias mancing di Kali Nongo. Tiba-tiba salah satu joran mereka melengkung tajam, pertanda ada tarikan berat di ujung tali kail. Namun saat joran disentak dan tali digulung, bukan ikan besar yang didapat, melainkan sampah plastik yang berbelit dengan dedaunan!
??Wooo, asem tenan!?? umpat Broto. Kekecewaan ini membangkitkan dendam positif untuk membersihkan Kali Nongo. Sejak saat itulah mereka berkomitmen menyelamatkan sungai yang makin menyempit dan kotor tersebut.
Kali Winongo salah satu sungai yang mengular melalui Daerah Istimewa Yogyakarta. Panjangnya 43,75 km dan berlika-liku melintasi 19 kecamatan di Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul.
Kali Nongo, demikian warga menyebut nama ringkasnya, berhulu dari beberapa sungai kecil di Gunung Merapi, dan berhilir di Kali Denggung. Sejak tiga tahun terakhir, Kali Nongo ditata oleh Endang Rohjani dan kawan-kawannya yang tergabung dalam Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA).
LSM ini berhasil memberdayakan kawasan kali dari kumuh menjadi indah dan menambah penghasilan masyarakat sekitarnya.
Bahkan, penataan Kali Winongo jadi referensi Anies Baswedan. Tak lama setelah terpilih jadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan mendatangi bantaran Kali Winongo di Kampung Ngampilan Kota Yogyakarta.
Penataan bantaran Kali Nongo di tahun 2016 cukup berhasil dan bisa menjadi kawasan percontohan. “Kami datang ke sini untuk melihat dari dekat, di sini teman-teman sudah melakukan (penataan) sejak tahun 2009. Di sini warga diajak memikirkan bersama-sama. Bagaimana sungai menjadi bagian dari warga, warga disadarkan paradigmanya,” ujar Anies saat meninjau Kali Winongo Yogya, Rabu (19/7/2017).
Paradigma yang dimaksud Anies seperti mengubah perspektif warga, yang semula kediamannya membelakangi sungai diubah untuk menghadap ke sungai. Ini, diakui Anies sulit, pekerjaan sulit namun bisa diusahakan.
Anies menambahkan, penataan Bantaran Kali Winongo yang melibatkan masyarakat, rencananya bakal dijadikan contoh penataan bantaran sungai di Jakarta. Penataan seharusnya memang tidak menggusur warga, melainkan melibatkan mereka. Nah, seperti Anies, Kolingin juga turut terinspirasi FKWA dalam penataan Kali Nongo ruas Manding Serut.
Menurut Hary Nirbaya (52), inisiator Kolingin, prakarsa resik kali melibatkan Subroto dan Nurhayati (52) istrinya serta Awan Prabowo (30) anaknya. Juga Bogiman (58) yang berprofesi buruh dan Purwadi (54) yang
berwirausaha.
??Untuk tahap pertama, target kita adalah ruas kali sepanjang 700 meter dari sisi selatan Jembatan Manding hingga dam di ujung dusun,?? terang Hary yang berprofesi sebagai praktisi audiovisual.
Subroto menambahkan, kegiatan resik kali dibagi menjadi dua tahap. Pertama, sterilisasi bantaran kali sebelah wetan dari sampah domestik dan organik (guguran pepohonan). Kedua, pembersihan badan sungai dari endapan sampah domestik dan alami.
Hingga Juni 2018, baru 20% target resik dicapai. Maklum, personil terbatas, demikian pula peralatannya seperti mesin pemotong batang bambu. ??Ada relawan lepas yang turut membantu, tetapi tidak reguler,?? Subroto menjelaskan.
??Sudah begitu, kami para aktivis harus menerima cibiran, dikatai sebagai wong edan hingga fitnah komersialisasi lingkungan,?? ungkap Subroto sambil tersenyum getir.
Kesabaran Kolingin akhirnya menemukan jalan kebaikannya. Agustus 2018, aktivitas Kolingin mengundang dukungan Laznas Dewan Dakwah.
Lembaga yang berpusat di Jakarta ini memberikan bantuan berupa 20 kg lele konsumsi ditebar di kali, biaya penyelenggaraan lomba mancing dan balap perahu batang pisang (debok), serta pemotongan 5 ekor kambing kurban pada Idul Adha, September 2018, dari Muslime Helfen Germany.
Hajatan yang diselenggarakan Kolingin mulai membuka mata warga dan aparat dusun. Komunitas mulai diperhitungkan.
Untuk menguatkan komunitas, Laznas Dewan Dakwah mendanai pembangunan markas mereka. Dalam waktu sekitar dua bulan, jadilah saung bertiang bambu petung beratap rumbia. Bangunan terbuka ini dijadikan pusat kegiatan Kolingin dan warga sekitar.
Hary Nirbaya pun mulai mensosialisasikan Kolingin ke kalangan LSM dan pemangku kebijakan terkait. Misalnya Dinas Lingkungan Hidup Kab Bantul. Hasilnya, Kolingin mendapat support baik material maupun ketrampilan. Di antaranya berupa paket pelatihan, biaya pembelian sarana kebersihan dari alumni SMAN 2 Sewon Bantul, dan pinjaman unit perahu kebersihan dari LSM mitra.
Puncaknya, pada 16 Desember 2018, Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih bersedia datang untuk meresmikan Markas dan melantik Pengurus Kolingin. Kehadirannya didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul, Ari Budi Nugroho. Segenap aparat Kelurahan Sabdodadi dan Desa Manding Serut juga menyambut.
Bersama sejumlah kepala dukuh, Wabup Bantul sempat melakukan inspeksi Kali Nongo. Ia menginstruksikan instansi terkait di Bantul untuk membantu Kolingin. Misalnya pemasangan bronjong penahan longsor di kedua sisi kali. Juga mensterilkan rumpun bambu di badan sungai.
Sejak itulah, Kolingin diakui, diterima, dan dibantu warga serta aparat desa. Aparat dusun pun tak ketinggalan memberi support. Misalnya, pensiunan pegawai Kecamatan, Susilo, yang secara spontan meminjamkan mesin perahu untuk dioperasikan Kolingin.
Atas perkembangan amal jariyah komunitas seperti itulah, Laznas Dewan Dakwah mendukung acara Tasyakur Kolingin pada malam Ahad, 22 Desember lalu. Insya Allah, Laznas Dewan Dakwah akan terus memberi support untuk pengembangan Kali Nongo ruas Manding sebagai kawasan ekowisata. (*/jat)
