SINGAPURA, BERNAS.ID ? Salah satu negara di dunia yang produktif menciptakan robot adalah Singapura. Dalam tahun ini, negara itu telah memproduksi lebih dari 100 robot yang bisa bekerja secara otomatis.Salah satunya adalah robot pembersih lantai bernama Ella yang diciptakan oleh pabrik manufaktur lokal, Lionsbot.
Sebagaimana dilansir dari BBC, Selasa (24/9), Ella adalah robot yang cukup canggih. Ia tidak hanya memiliki kemampuan membersihkan lantai secara otomatis, tetapi juga berbicara. ?Halo, nama saya Ella. Senang bertemu dengan Anda,? kata robot yang kini beroperasi di Galeri Nasional Singapura itu.
Menurut co-founder Lionsbot, Dylan Ng, penggunaan robot seperti Ella merupakan solusi kekurangan tenaga kerja di Singapura. ?Ia bekerja dengan baik. Ia bekerja secara tim, membantu para pekeja manusia,? ujarnya, sebagaimana dikutip BBC. ?Hal ini membuat para pekerja manusia lebih produktif,? lanjutnya.
Selain itu, robot Ella, menurut Dylan, bisa bekerja secara efisien. ?Ia tidak butuh makan siang, hanya butuh diisi ulang tiga jam sekali,? kelakarnya.
Tidak hanya itu, Ella juga diprogram dengan selera humor. Robot tersebut misalnya mampu melontarkan guyonan-guyonan ringan untuk menghibur pengunjung galeri. Ella misalnya bisa melontarkan guyonan seperti ?bagaimana cara pohon-pohon mengakses internet? Mereka melakukan log on (menebang).?
Sayangnya, warga Singapura tidak bisa benar-benar memiliki Ella. Robot tersebut tidak dijual dan hanya bisa disewa dengan harga mulai 1000 dolar Singapura atau setara 10 juta rupiah per bulan.
Kendati memiliki banyak manfaat, kehadiran Ella ternyata juga menuai kekhawatiran. Seorang pengunjung Galeri Nasional Singapura misalnya menganggap kehadiran Ella sebagai tanda bahwa dunia telah dikuasai robot. ?Saya khawatir robot akan menguasai dunia, dan sekarang saya rasa itu sudah terjadi,? kata pengunjung yang tidak disebutkan namanya kepada BBC.
Namun, kekhawatiran itu ditepis oleh pakar robot Singapura, Chen I-Ming. ?Kita akan melihat lebih banyak robot dalam banyak bidang pekerjaan dan industri. Namun, mereka tidak akan menggantikan manusia. Mereka hanya akan bertugas sebagai asisten manusia,? kata profesor dari Nanyang Technological University (NTU) sebagaimana dikutip BBC. ?Manusia tetap akan menjadi bos dari para robot itu. Kita bisa mematikannya setiap saat,? simpulnya. (aji)
