SLEMAN, BERNAS.ID – Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta menggelar seminar dengan tema Mahasiswa Sebagai Tombak Perwujudan Bela Negara dengan menghadirkan narasumber Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, yang dilaksanakan di Kampus STP AMPTA Jalan Laksda Adisucipto KM 6, Jum'at (15/11/2019).
Wakil Rektor Bidang Kemasiswaan, Tio menyampaikan, sebenarnya pihaknya sudah sering melakukan kegiatan bela negara namun kita sendiri tidak menyadari bahwa yang kita lakukan itu merupakan bentuk bela negara, salah satu contohnya mencintai produk sendiri merupakan bentuk dari cinta tanah air.
Dalam paparannya Danrem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Muhammad Zamroni menuturkan masa depan Indonesia ada di tangan pemuda termasuk mahasiswa-mahasiswa, kemajuan bangsa ini juga tergantung pada para mahasiswa calon penerus bangsa Indonesia.
“Dalam mencapai perjuangan kemerdekaan Indonesia seluruh pemuda-pemuda saat itu berani dan rela berkorban, untuk itu para mahasiswa AMPTA juga harus mempunyai sifat berani, pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang ada untuk mencapai kesuksesan,” ujarnya.
Lebih lanjut Danrem mengatakan bahwa setiap Negara di dunia ini seperti organisme hidup yang harus survive untuk menghidupi negara tersebut dengan cara harus mampu bersaing dengan negara lain, dengan cara apapun melalui persaingan. “Jika negara kita tidak mampu bersaing dengan negara lain maka negara kita akan tertinggal, untuk itu para mahasiswa calon penerus bangsa ini harus mampu membentengi diri dan mampu bersaing dengan negara lain,” jelasnya.
Mahasiswa harus punya kemampuan bela negara dan rasa cinta tanah air, adapun bentuk cinta tanah air diantaranya bagaimana mahasiswa mampu mencintai produk-produk bangsa Indonesia sendiri.
Lanjut Zamroni, bentuk ancaman yang ada saat ini ada dua yaitu ancaman militer dan ancaman nirmiliter, jika ancaman militer maka TNI yang akan berada digaris depan, namun saat ini yang sedang berjalan adalah ancaman nirmiliter dimana ancaman itu tidak terlihat namun pengaruhnya cukup terasa saat ini. Yaitu maraknya berita hoax yang dapat menimbulkan radikalisme, intoleransi yang mengancam keutuhan bangsa selain itu juga banyaknya peredaran narkoba yang ditujukan untuk menghancurkan generasi muda bangsa Indonesia.
“Jangan pernah sekali-kali membuat Ibu Pertiwi ini menangis karena kita tidak bisa mencintai negeri ini. Jangan ciptakan peluang ancaman sekecil apapun untuk menghancurkan bangsa dan negara ini, untuk itu mahasiswa harus tetap bersikap kritis, karena sikap kritis itu juga sebagian bentuk cinta tanah air. Karena jika mahasiswa tidak mempunyai sikap kritis akan sangat berbahaya karena apatis atau tidak peduli kepada keadaan bangsa ini, tetapi kritis yang bersifat membangun bukan kritis yang bersifat merusak,” pungkasnya. (cdr)
