YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta menyiapkan program untuk membangkitkan pelaku UMKM yang terdampak Covid-19.
Dikatakan Kabid Usaha Kecil Mikro Dinkop, UKM, Nakertrans Kota Yogyakarta, Rihari Wulandari mengungkapkan, sudah ada program pemulihan dan pembangkitan. Pihaknya memberikan pendampingan pelaku UMKM untuk berinovasi, berkreasi, dan memproduksi barang-barang yang dibutuhkan masyarakat sekarang.
“Misalnya kalau waktu puasa banyak yang memproduksi olahan, masker, APD, hand sanitizer, sarung tangan,” ucap Rihari, Senin (6/7/2020).
Kemudian pihaknya juga akan meningkatkan pemasaran bekerjasama dengan market place salah satunya dengan membuatkan katalog, dengan itu harapannya masyarakat bisa belanja dari rumah karena sudah tertera harganya.
“Pemkot bekerjasama dengan salah satu transportasi daring untuk ongkir, isinya adalah produk-produk UMKM. Ada gambar, harga, kontak, dan alamat di katalog tersebut,” terangnya.
Dikatakannya, sejauh ini juga sudah mulai menjajaki kerjasama dengan 2 mall di Yogyakarta yang sanggup membantu UMKM dengan sistem bagi hasil.
“Sudah menjalin kerjasama dengan 2 mall tapi baru dirapatkan sistem bagi hasilnya. Nantinya pelaku UMKM mendisplay dan ada yang jaga disitu. Jadi mereka diberi stand di mall,” paparnya.
Karena kalau gratis tidak mungkin tapi mereka dengan biaya sewa UMKM tidak mampu juga, namun daripada sepi pihaknya sudah sepakat menjalin kerjasama dengan sistem bagi hasil.
“Kami tawarkan ternyata mereka antusias kalau bagi hasil. Bagi hasilnya kita rapatkan dulu dengan tim management. Beberapa mall juga sudah pada buka,” katanya.
Ada tiga jenis produk UMKM yang diupayakan masuk ke mall yakni fashion, craft dan kuliner.
“Karena produk mereka belum terjual. Jadi mereka berusaha menjual produk mereka tapi belum bisa. Orang mau kondangan juga tidak ada undangan. Tapi yang dibutuhkan sekarang makanan,” jelasnya.
Jumlah UMKM Kota Yogyakarta tersebar di 14 kecamatan, total ada sekitar 26 ribu tapi yang sudah mengantongi IUM baru ada 4.500 dari 26 ribu.
“Dari pendataan yang dilakukan, ada 1.450 yang mengisi form terdampak COVID-19,” imbuhnya.
Sementara selama Pandemi Covid-19 ada beberapa pelaku UMKM yang beralih ke produk lain seperti APD dan hand sanitizer.
“Dari catatan kami ada sekitar 119 yang beralih untuk memproduksi barang lain seperti masker hingga APD dan yang olahan sekitar 100,” pungkasnya. (*/cdr)
