BERNAS.ID – Bukan kamera Fujifilm XS10, atau Fujifilm XT4 yang membuat perusahaan Fujifilm bangkit, bahkan mencetak profit di era pandemi ini.
Tapi produk kesehatan dan material semikonduktor yang mendorong Fujifilm raup keuntungan besar. Kedua sektor itu menjadi divisi paling cuan untuk Fujifilm.
Seperti diketahui, Fujifilm dulunya dikenal sebagai salah satu raksasa dunia di bidang fotografi. Fujifilm Holding Corps. ingin tetap hidup dan berkembang di era digital, mengingat rivalnya, Kodak, kini gagal berinovasi. Fujifilm kini kembali mendunia, menyusul perusahaan Jepang lainnya yang dapat bertahan seperti Toyota dan Sony.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Turun Kelas, Penyebabnya Pandemi atau Oligarki?
Melansir dari The Associated Press, Fujifilm mengalami penurunan dari penjualan kamera, tapi diversifikasi ke berbagai lini bisnis seperti obat-obatan, kosmetik, dan material semikonduktor yang justru melejit di masa pandemi.
Selama satu dekade terakhir, Fujifilm mempertaruhkan kemampuannya dalam bidang film dan bahan kimia untuk beralih ke segmen kesehatan dan pemasok bahan bagi produsen chip.
Fujifilm mencatatkan rekor laba bersih selama setahun (hingga Maret 2021) naik 45% dibandingkan periode sebelumnya. Total profit yang diperoleh mencapai 181,2 miliar yen atau sekitar Rp23,8 triliun.
“Segmen kesehatan dan material semikonduktor akan menjadi pendorong pendapatan kami di masa depan,” kata President and CEO Fujifilm Teiichi Goto.
Pandemi telah meningkatkan kebutuhan terkait obat-obatan dan peralatan medis, serta permintaan chip seiring lebih banyaknya orang yang menghabiskan waktu di rumah.
Material semikonduktor berkaitan dengan industri smartphone, tablet, komputer, dan konsol game. Permintaan chip yang terus meningkat juga mempengaruhi sektor lain, seperti industri otomotif.
“Kami secara tegas telah beralih ke sektor kesehatan. Selain itu, bisnis material semikonduktor juga sangat menarik,” ujar Goto kepada Bloomberg beberapa waktu lalu.
Hingga 2023, Fujifilm menargetkan keuntungan 260 miliar yen dengan berfokus pada bisnis kesehatan.
Teknologi Kesehatan
Di balik kesuksesan Fujifilm untuk bangkit ada figur seorang Shigetaka Komori, yang pada 31 Maret lalu menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Goto.
Pria berusia 81 tahun itu melakukan transisi bisnis dari bidang fotografi ke kesehatan. Melansir Reuters, Komori kini menjadi Executive Advisor Fujifilm. Dia menuai pujian karena membantu Fujifilm selamat dari “jurang kematian” dengan mengubah bisnis utamanya.
Bahkan kini obat antivirus Avigan yang diproduksi perusahaan itu melalui Fujifilm Tomaya Chemical Co. Ltd. sedang dalam uji klinis lebih lanjut sebagai obat Covid-19.
Fujifilm juga membuat antigen untuk vaksin Covid-19 Novavax, meski belum disetujui oleh pemerintah Jepang. Nanoteknologi yang dikembangkan Fujifilm digunakan dalam vaksin mRNA, seperti Pfizer dan Moderna. Perusahaan yang berbasis di Tokyo ini juga mengembangkan tes PCR yang bisa memberikan hasil dalam waktu 75 menit.
Pada Maret lalu, Fujifilm diketahui juga mengembangkan alat untuk mendeteksi beberapa varian virus Covid-19. Lebih lanjut, Fujifilm telah menginvestasikan 1,24 triliun yen untuk peralatan, fasilitas, serta penelitian dan pengembangan selama tiga tahun ke depan.
Sebagian besar akan mengalir ke lini bisnis material semikonduktor, apalagi permintaan bahan chip bakal meningkat seiring pertumbuhan 5G.
Baca Juga: Sederet Catatan Realisasi Investasi di Indonesia pada Masa Pandemi
Penjualan kamera Fujifilm memang tidak berperan besar pada pendapatan perusahaan itu. Seperti diketahui Fujifilm mengeluarkan produk kamera seperti kamera digital dan instax.
Dengan melonjaknya permintaan produk di bidang kesehatan dan teknologi chip, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana dengan nasib kamera buatan perusahaan tersebut.
Bisnis kamera berkontribusi sekitar 13% dari pendapatan Fujifilm. Dalam sebuah wawancara dengan media online Asahi di Jepang, Goto mengatakan bisnis kamera tidak akan pernah ditinggalkan.
