Bernas.id – Berdasarkan data The Ecological Threat Report (ETR) 2021 sebelas dari 15 negara dengan skor ancaman lingkungan terburuk saat ini masuk dalam kategori negara konflik tinggi. Laporan tersebut juga mengatakan bahwa setengah dari populasi dunia akan tinggal di 40 negara rawan konflik pada tahun 2050, meningkat 1,3 miliar dibandingkan 2020.
Krisis pangan global juga mengalami peningkatan sebesar 44% sejak 2014. Hal ini mempengaruhi 30,4% populasi dunia pada tahun 2020, dan kemungkinan akan meningkat lebih lanjut.
ETR menganalisis berbagai indikator yang terkait dengan risiko ekologis termasuk ketersediaan makanan dan air, pertumbuhan populasi, dan ketahanan masyarakat, untuk lebih memahami negara-negara yang paling berisiko mengalami konflik.
Konflik dan Ancaman Ekologi
Berdasarkan data tertulis yang diterima Bernas.id, temuan utama dari ETR 2021 menyoroti adanya hubungan siklik antara degradasi ekologi dan konflik. Kondisi ini bisa menjad lingkaran setan, di mana degradasi sumber daya mengarah pada konflik, yang turut memicu degradasi sumber daya lebih lanjut.
Sebelas dari 15 negara dengan nilai ETR terburuk saat ini sedang mengalami konflik. Lebih banyak negara kemungkinan akan jatuh ke dalam konflik kecuali jika siklus ini segera dihentikan.
Untuk menghentikan siklus ini, baik lingkungan ekologi dan ketahanan masyarakat perlu ditingkatkan, yang membutuhkan pendekatan sistemik.Temuan tersebut juga sebanding dengan data FAO yang menyatakan bahwa jumlah orang yang kekurangan gizi terus meningkat sejak 2016 dan diperkirakan akan meningkat sebanyak 343 juta orang pada tahun 2050. Krisis pangan juga meningkat menjadi 30,4% dari populasi dunia.
Tiga wilayah di dunia yang beresiko besar mengalami konflik akibat krisis pangan, kekurangan air, pertumbuhan penduduk dan dampak bencana alam antara lain Sahel-Tanduk Sahel Afrika, dari Mauritania hingga Somalia; sabuk Afrika Selatan, dari Angola hingga Madagaskar; sabuk Timur Tengah dan Asia Tengah, dari Suriah hingga Pakistan. Wilayah tersebut sangat membutuhkan perhatian.
Afrika Sub-Sahara memiliki prevalensi krisis pangan tertinggi, dengan prosentase mencapai 66% populasi. Pada tahun 2050, populasi Afrika sub-Sahara diproyeksikan menjadi 2,1 miliar, meningkat 90% dari populasi saat ini. Hal ini juga memicu ketahanan masyarakat yang buruk.
Sahel adalah titik fokus berikutnya yang berpotensi mengalami konflik seperti yang ditunjukkan oleh proliferasi kelompok-kelompok Islam radikal baru-baru ini. Niger dan Burkina Faso saat ini berada di antara negara paling tidak damai di dunia (diukur dengan GPI) dan termasuk di antara pencetak nilai terburuk di ETR.
Ancaman Ekologi dan Migrasi
ETR telah menemukan lebih dari 1,26 miliar orang tinggal di 30 negara paling rentan menderita risiko ekologi yang ekstrim dan tingkat ketahanan yang rendah. Negara-negara ini memiliki ketahanan dan proses adaptasi yang buruk dalam kondisi ancaman ekologi baru, yang kemungkinan besar akan menyebabkan migrasi massal.
Data tertulis yang didapatkan Bernas.id juga menemukan bahwa jumlah orang terlantar akibat konflik terus meningkat dengan 23,1 juta orang di tahun 2020. Eropa menampung jumlah terbesar pengungsi dari negara-negara rentan konflik, yaitu 6,6 juta. Angka-angka ini kemungkinan akan meningkat puluhan juta karena degradasi ekologi dan perubahan iklim terjadi.
Krisis Pangan
Sejak 2014, jumlah orang yang tidak memiliki akses terhadap pangan yang cukup secara global meningkat sebesar 44% setiap tahunnya. Meningkatnya krisis pangan ini dikaitkan dengan meningkatnya konflik Pada tahun 2050, permintaan pangan dunia diperkirakan akan meningkat sebesar 50%.
Pandemi Covid-19 juga semakin meningkatkan krisis pangan dan berpotensi memicu dampak negatif jangka panjang pada kelaparan dunia karena pertumbuhan ekonomi yang stagnan.
Selain krisis pangan, ETR mengungkapkan bahwa pada tahun 2040 lebih dari 5,4 miliar orang akan tinggal di negara-negara yang menghadapi krisis air yang ekstrem. Lebanon dan Yordania adalah negara yang paling berisiko tinggi mengalami hal tersebut.
