TEMANGGUNG, BERNAS.ID – Indeks pembangunan manusia (IPM) Kabupaten Temanggung pada 2021 meningkat 0,31 persen menjadi 69,88 persen. Pada tahun sebelumnya IPM kabupaten penghasil tembakau itu sebesar 69,57 persen.
“IPM ini sebagai indikator komposit yang menggambarkan keterkaitan antara indikator pendidikan, kesehatan dan daya beli masyarakat di Kabupaten Temanggung. Capaian IPM ini sehingga Temanggung masuk dalam kategori sedang,” kata Bupati Temanggung Al Khadziq, Rabu (9/3/2022).
Baca juga: Ada Layanan Baru di RSUD Temanggung: Pembayaran Secara 'Host to Host'
Al Khadziq mengatakan itu pada Sidag Paripurna DPRD untuk membahas Surat Bupati Temanggung Nomor :P/49/130/01.1/II/2022 perihal Permohonan pembahasan LKPJ Bupati Temanggung tahun 2021. Pada sidang tersebut, Al Khadziq merinci komponen pendukung IPM adalah angka harapan hidup mencapai 75,64 tahun, angka harapan sekolah 12,32 tahun dan rata-rata lama sekolah 7,25 tahun. Sedangkan pengeluaran riel perkapita Rp 9, 408 juta.
Dia mengemukakan angka kemiskinan di Temanggung pada tahun 2021 sebesar 10,17 persen. Angka ini mengalami penurunan 9,96 persen. Hal ini disebabkan banyak warga yang terkena dampak Pandemi COVID-19.
Baca juga: Polres Temanggung Terjunkan Tim Khusus Masuk Pasar, Pantau Harga Minyak Goreng
Dirinya menyampaikan, untuk tingkat pengangguran terbuka di tahun 2021 mengalami peningkatan kinerja dibanding tahun 2020 yakni dari 3,85 persen menjadi 2,62 persen. “Kabupaten Temanggung sebagai yang terkecil untuk tingkat pengangguran terbuka di Jateng,” kata dia.
Ditambahkannya, untuk pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan ketimpangan pendapatan belum dapat disampaikan karena angka capaian belum dirilis. Al Khadziq mengatakan capaian pengelolaan keuangan daerah untuk pendapatan daerah dari target Rp 1,883 triliun realisasi realisasi Rp 1,97 triliun atau sebesar 104,64 persen.
Belanja daerah kata dia sebesar Rp 2,053 triliun dan realisasi Rp 1,877 triliun sebesar 91,46 persen. Pembiayaan daerah untuk penerimaan pembiayaan daerah dari target sebesar Rp 170, 943 miliar terealisasi Rp 170,685 miliar atau tercapai 99,85 persen.
Sedangkan pengeluaran pembiayaan sebesar Rp1,247 miliar dan realisasi Rp 1,243 miliar atau terdapat pembiayaan neto tahun 2021 sebesar Rp 169,4 miliar. Sementara silpa tahun 2021 sebesar Rp 262,4 miliar.
“Angka yang dilaporkan merupakan angka sementara sebelum diaudit BPK. Hasil audit BPK akan dilaporkan pada kesempatan lain,” kata dia. (den)
