SLEMAN, BERNAS.ID – Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten Sleman menggelar konferensi cabang (Konfercab) empat tahunan untuk menyusun program cabang dan menetapkan Ketua Pengurus Cabang periode 2022-2026.
Konfercab PC IAI Sleman dihadiri kurang lebih 512 apoteker dengan mengusung tema “Sesarengan Kita Jaga Sleman Saka Bebaya Tuberkulosis” di sebuah hotel kawasan Palagan Sleman, Minggu (13/11). Konfercab dihadiri dan dibuka Kepala Dinkes Kabupaten Sleman, dr. Cahya Purnama, M.Kes dan Ketua PD IAI DIY, apt. Hendy Ristiono, MPH.
Baca Juga Kepatuhan Bayar Pajak Di Gunungkidul Meningkat Setiap Tahun
Ketua panitia konfercab, apt. Taufiqurohman mengatakan, apoteker Sleman yang berpraktek di segala bidang perlu terus meningkatkan keilmuannya tentang Tuberkulosis sehingga perannya dalam program Zero TB Yogyakarta dapat semakin kuat dan besar.
“Tuberkulosis menjadi keprihatinan kita bersama karena fokusnya sempat teralihkan karena pandemi Covid-19. Kami apoteker selaku tenaga kesehatan memiliki peran untuk mengentaskan masyarakat dari TBC,” tuturnya.
“Salah satu perannya, apoteker memberikan edukasi tentang penyakitnya, penularannya, penggunaan obat dan monitoring penggunaan oleh pasien,” imbuhnya.
Lanjut tambahnya, Konfercab ini menjadi pertemuan luring pertama kali setelah pandemi covid yang dilaksanakan oleh PC IAI Sleman. “Antusiasme anggota sebenarnya sangat tinggi, akan tetapi karena pandemi belum usai, kami tidak memberikan tempat terlalu banyak untuk kegiatan luring ini,” bebernya.
Untuk pemilihan ketua dan pengurus cabang, Taufiqurohman mengatakan ada 5 calon yang akan muncul. “Kalau untuk pemilihan ketua cabang, ada sekitar 5 calon karena pengusulan dari semua anggota yang mengikuti konferensi. Dipilih 5 orang teratas, lalu dari sana nanti baru disaring, kemudian Musyawarah Mufakat nantinya,” bebernya.
Baca Juga Dubes Norwegia Sebut Yogyakarta Akan Banyak Lahirkan Pemimpin
Senada, Ketua PC IAI Sleman periode 2018-2022, apt.Deddy Setyono mengatakan para apoteker memang sudah sepakat untuk mengeliminasi Tuberkulosis di tahun 2030. Ia mengatakan setelah pandemi Covid-19, Tuberkulosis mulai naik, padahal bisa menyebabkan kematian.
“Apoteker sangat penting karena memiliki peran PMO, Pendamping Minum Obat sehingga diharapkan pasien bisa tertib minum obat. Kalau pengobatannya tidak tertib dan rutin, bisa gagal akan diulangi lagi karena bisa sampai setahun,” tutur Deddy.
Ia pun berharap kepada Ketua PC IAI Sleman yang terpilih bisa membawa visi dan misinya agar para apoteker semakin profesional. “Apoteker harus bisa terjun ke masyarakat, tunjukkan apoteker itu ada dan bermanfaat,” tuturnya.
Sebelum acara konfercab dan seminar dimulai, Apoteker Sleman menyuguhkan edutainment bertajuk tentang Tuberkulosis.
Sesi pertama, panitia menghadirkan dr Rina Triasih selaku direktur Zero TB Yogyakarta. Zero TB Yogyakarta adalah sebuah inisiatif penanggulangan TBC yang berlandaskan tiga elemen, yaitu penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang efektif, dan pencegahan TBC pada kontak serumah dengan penderita.
Sesi kedua menghadirkan Apoteker Hebatnya Jogja, yakni dari Ketua Hisfarsi (Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit), apt. Taufiqurohman, M.Clin.Pharm., Ketua Hisfarkesmas (Himpunan Seminat Farmasi Puskesmas), apt. Nirma Atin Shintia, S.Si., dan dari Ketua Hisfarma (Himpunan Seminat Farmasi Masyarakat), apt.Tunggul Wardani, S.Farm. (jat)
