GROBOGAN, BERNAS.ID- Tim BPIP berkunjung ke Kabupaten Grobogan menggelar kegiatan bertema “Pancasila dalam Tindakan Gotong Royong Menurunkan Stunting” di Balai Desa Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (1/3). Kegiatan ini merupakan program prioritas nasional untuk menurunkan angka stunting dengan memberikan 250 paket bantuan berupa makanan sehat untuk remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak.
Mengawali acara, masyarakat diajak mendendangkan lagu-lagu perjuangan dan menikmati sajian dongeng oleh Ibu Yayak Ninik, Juga menikmati kesenian tari bertema “Bhineka Tunggal Ika” dari SMA Negeri 1 Grobogan untuk menghidupkan suasana dan menggelorakan kecintaan masyarakat akan budaya Nusantara.
Baca Juga Telusuri Kekayaan Historis Dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Digelar
Turut hadir Kepala BPIP RI, Prof Yudian Wahyudi, Wakil Bupati Grobokan, dr. Bambang Pujiyanto, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, dr. Slamet Widodo, M.A.P., yang diwakili Kepada Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Wahyu Tri Hariadi, M.M. Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan BPIP RI, Ir. Prakoso, M.M., Sekretaris Utama BPIP RI, Tonny Agung Arifianto, M.A.B., dan segenap masyarakat Grobokan.
Di hadapan masyarakat Grobogan, Prof Yudian Wahyudi menyampaikan data statistik nasional menunjukkan pada tahun 2014, tingkat stunting di Indonesia berada pada angka 37 persen dan berhasil ditekan hingga mencapai angka 27,6 persen pada tahun 2019. Angka stunting terus dapat ditekan. Pada tahun 2020, angka stunting ditekan sebesar 0,75% menjadi sebesar 26,92% hingga akhirnya berada pada angka 21,6% tahun 2022.
“Oleh karena itu BPIP RI dalam berbagai program kegiatan bergotong royong dengan pemangku kebijakan di berbagai daerah turut berupaya untuk menurunkan angka stunting seperti Banyuwangi, Magelang, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya. Program ini merupakan salah satu program prioritas nasional dari Presiden Joko Widodo,” tutur Prof Yudian.
Lanjut tambahnya, stunting dapat berdampak pada kualitas sumber daya manusia, kondisi fisik, dan berkurangnya kemampuan belajar serta terganggunya mental generasi penerus bangsa. BPIP RI juga bekerjasama dengan dinas/instansi terkait untuk memberikan pendampingan dan pembinaan karakter untuk anak-anak melalui pendidikan Pancasila.
“Melalui jalur formal, BPIP RI bekerja sama dengan Kemendikbudristek dalam hal penyusunan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila (BTUPP) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA),” kata Prof Yudian.
Ia mengatakan bangsa Indonesia harus mensyukuri nikmat kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Cara bersyukur dengan mencontoh semangat Sumpah Pemuda 1928. Dengan semangat Sumpah Pemuda kala itu, para pemuda gigih belajar, bersatu dan berjuang hingga dapat dirah kemerdekaan di tengah perang dunia kedua. Melalui kemerdekaan pula para pendahulu berhasil menyatukan 57 negara kecil kecil menjadi NKRI maka generasi saat ini harusnya mensyukuri kemerdekaan dengan menjaga keutuhan NKRI. Dari segi agama, NKRI merupakan negara yang paling diridhoi dan dikasihi Tuhan YME.
“Salah satu wujud menjaga NKRI adalah dengan kerja keras dan tulus ikhlas memberikan kontribusi nyata dalam pengimplementasian nilai-nilai Pancasila. Kegiatan hari ini, bergotong-royong menurunkan angka stunting adalah wujud nyata pengamalan nilai-nilai sebagai upaya mewujudkan bangsa yang semakin maju, adil, dan sejahtera,” demikian tegas Prof Yudian Wahyudi.
Ir. Prakoso dalam laporannya menyampaikan Pemerintah Indonesia mempunyai program penurunan stunting yang diperuntukkan untuk 500 lebih kabupaten/kota dan kurang lebih 278 Juta warga Indonesia. “Demi suksesnya program ini pihaknya berharap kerja-sama yang baik dinas instansi terkait. Misal; dari Kementerian Agama, KUA berperan penting untuk menginformasikan pentingnya pencegahan stunting kepada para calon pasangan suami isteri,” katanya.
Sekretaris Utama BPIP RI, Tonny Agung Arifianto menambahkan, masyarakat juga harus aktif berperan dalam pencegahan stunting, untuk keluarga dan lingkungan masing masing dengan cara memperhatikan keseimbangan gizi pasangan muda, ibu hamil dan masa pertumbuhan balita sejak dalam kandungan. “Jangan lupa mengupayakan makanan pemacu ASI untuk para ibu menyusui, agar dapat memberikan ASI eksklusif untuk bayinya sampai usia 6 bulan,” tegas Tonny.
Ditambahkan Tonny, Program BPIP tidak hanya soal stunting Dengan gotong royong ini, diharapkan Indonesia bisa menekan angka stunting tahun 2024 hingga berada pada angka 14% dari 21,6% di pertengahan tahun 2023. Akan lebih baik lagi jika bisa zero stunting, jika peran masyarakat terhadap keluarga dan lingkungannya berjalan obtimal. Menurut Tonny, program BPIP tidak berhenti pada pencegahan stunting.
BPIP bekerjasama dengan Kemendikbudristek untuk mengeluarkan buku Pancasila bernama Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila. Dalam buku ini dibahas lengkap bahwa Pancasila itu tidak sekedar dihafalkan. Tetapi juga harus diimplementasikan nilai-nilai nya pada kehidupan sehari-hari, khususnya Pendidikan. Pihaknya berharap, tahun 2024, pendidikan Pancasila bisa diterapkan di seluruh penjuru tanah air dan diharapkan dapat semakin membentuk karakter dan jati diri anak bangsa yang gigih belajar dan berkarya, cinta tanah air, bangga akan kekayaan alam dan budaya nusantara, bangga akan Bhineka Tunggal Ika dan seterusnya. “Kita harus bangga juga bahwa Bhineka Tunggal Ika sebagai salah satu cermin pengamalan nilai-nilai Pancasila sudah diakui dunia. Sekjen PPB menyampaikan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya untuk Indonesia, tetapi semboyan yang menyatukan Asia bahkan dunia. “Nanti dari BPIP semua pelajar di Indonesia akan mendapatkan diklat Pancasila,” ungkap Tonny.
Baca Juga Festival Lereng Merapi Tanamkan Pendidikan Karakter
Wakil Bupati Grobogan, dr. Bambang Pujiyanto, M.Kes., dalam arahannya meminta agar masyarakat Grobogan bersatu padu memberikan kontribusinya untuk mengupayakan penurunan stunting di wilayah masing-masing. “Penyebab stunting adalah malnutrisi seperti asupan gizi yang kurang, kesulitan akses pangan yang sehat. Pemerintah telah menetapkan stunting sebagai isu utama. Target penurunan stunting di Indonesia pada tahun 2024 ini adalah pada angka 14%. Berdasarkan SSGI, angka stunting naik lagi menjadi kurang lebih 19%. Artinya, masih harus mengurangi 5% untuk bisa mencapai target 14% pada 2024. Pencegahan dan penurunan stunting adalah tugas kita bersama,” ungkap dr. Bambang.
Kepada Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kabupaten Grobogan, dr. Wahyu Tri Hariadi, M.M. menambahkan,
permasalahan stunting di Kabupaten Grobogan merupakan persoalan yang tidak bisa ditangani oleh satu OPD saja, dan karena jumlahnya sangat luar biasa tinggi, stunting dipindahkan ke DP3AKB Kabupaten Grobogan. Ciri dari bumil yang kekurangan di antaranya Kurang Energi Kronis (KEK) dan anaknya nanti berisiko stunting adalah lingkar lengannya kurang dari 23cm karena lemak untuk dirinya saja tidak cukup. Setiap Desa diharapkan memiliki Puskesmas Pembantu (Pustu) dengan minimal terdapat 2 tenaga kesehatan dan 1 perawat, serta Posyandu dengan mininal 5 kader dan 1 tenaga kesehatan dalam rangka pengotimalan program pencegahan stunting. (Jat)
