BANTUL, BERNAS.ID – Sebanyak tujuh orang warga negara Australia mengikuti Australia – Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) 2024. Mereka melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Bantul Yogyakarta, Kamis 19 September 2024.
Salah satu wanita tersebut bernama Zulpha Styer, seorang muslimah Australia yang sedang berkunjung untuk mempelajari Islam di Indonesia. Ia terlihat bersemangat ketika ditanya mengenai pengalamannya berada di Indonesia. “Orang-orang di sini sangat baik hati. Di mana-mana memberikan makanan, saya tidak pernah kelaparan,” ucap wanita berhijab tersebut.
Melalui program Pertukaran Muslim Australia-Indonesia (AIMEP) 2023, Zulpha bisa berkesempatan mempelajari tarian tradisional berpadu dengan Selawat Emprak di Pondok Pesantren Seni dan Budaya Kaliopak, Piyungan, Bantul. Ia yang berasal dari Afrika Selatan dan pindah ke Australia sejak 10 tahun lalu memandang perdamaian dan kerukunan di Indonesia perlu dicontoh dan dipraktikkan di Australia.
“Kami muslim di Australia minoritas, tetapi terus berkembang, dan kami juga punya kebebasan beribadah, walau Australia negara sekuler,” ujar dia.
Baca juga: Dari Dulu Hingga Kini, Santri dari Pesantren Memiliki Keunggulan dan Daya Saing yang Mumpuni
Senada dengan Zulpha, peserta AIMEP lainnya, James Phillips menyatakan sangat terkesan dengan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam, dan bagaimana budaya menjadi sarana untuk syiar Islam di Indonesia. Meski Australia memiliki beragam latar belakang, tapi Islam di sana tidak memiliki ciri khas seperti di Indonesia.
“Umumnya kalau jadi muslim lalu berpakaian Arab. Tapi tidak di sini, bisa berpakaian tradisional Jawa. Saya akan mendorong umat Islam di Australia untuk beragama tanpa meninggalkan budaya mereka masing-masing,” katanya.
Baca juga: Anak Gusdur Mendirikan Pesantren Programer di Sleman, Satu-satunya di Indonesia
Di Ponpes Seni dan Budaya Kaliopak, para peserta AIMEP melakukan diskusi mengenai budaya Indonesia dan dakwah Islam melalui budaya. Pemimpin Ponpes Kaliopak, KH Jadul Maula menjelaskan, Selawat Emprak merupakan perpaduan seni musik, tari, dan vokal sastra yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad.
Seni yang sempat hilang ditelan zaman ini, dimunculkan kembali oleh Ponpes tersebut pada sekitar 2011. Lirik selawat berdasar dari teks Jawa, bukan adaptasi dari teks Arab.
“Selawat emprak ini unik karena mengungkapkan Nabi Muhammad sebagai pembawa syari’at yang keenam,” jelasnya.
Sebagai tambahan informasi, Ponpes Seni Budaya Kaliopak bukanlah sebuah ponpes formal, melainkan tempat wadah berkumpulnya para anak muda yang ingin belajar mengenai kesenian dan dakwah Islam secara bersamaan. Di sini, mereka diajarkan seni budaya Islam Jawa yang kemudian dikembangkan dengan berbagai kolaborasi seni modern. (den)
