JAKARTA, BERNAS.ID – Nama-nama jalan di Jakarta ternyata memiliki sejarah yang erat dengan budaya Betawi serta kisah-kisah lokal yang telah berusia ratusan tahun. Misalnya, nama “Glodok” berasal dari kata “Grojok,” bunyi air yang jatuh ke pancuran, yang diadaptasi menjadi “Glodok” oleh orang-orang Tionghoa di daerah tersebut.
Kawasan “Kwitang” dinamai dari pemilik tanah kaya raya, Kwik Tang Kiam, dan “Senayan” berasal dari nama seorang pemilik tanah bernama Wangsanayan yang lama-kelamaan disingkat menjadi Senayan.
Baca Juga : Menyelisik Nama Panji di Berbagai Peninggalan Sejarah Kuno
Contoh lainnya adalah “Menteng,” yang dulunya merupakan kawasan yang dipenuhi pohon menteng hingga akhirnya dibeli oleh pemerintah Belanda sebagai area pemukiman pada tahun 1912. Nama “Jl. Jaksa” mengacu pada kos-kosan untuk pelajar hukum Belanda pada masa kolonial, sedangkan “Karet Tengsin” diambil dari nama seorang pemilik tanah Tionghoa bernama Tieng Shin.
Cerita lainnya, “Buncit” merujuk pada seorang pedagang berperut buncit yang terkenal di daerah tersebut, sementara “Cilandak” dinamai karena pernah ditemukan landak raksasa di kawasan itu. Masih banyak lagi nama jalan yang menyimpan cerita unik, mencerminkan sejarah yang kompleks dan campuran budaya di Jakarta.
Baca Juga : Nama Kecil Sri Sultan HB II, Raden Mas Sundoro Diresmikan Sebagai Nama Jalan Di Wonosobo
Berikut adalah sejarah asal-usul beberapa nama tempat di Jakarta yang dikutip bernas.id dari berbagai sumber :
1. Bangka: Nama ini dikaitkan dengan temuan mayat atau “bangke” yang sering ditemukan di Kali Krukut pada masa lalu.
2. Cilandak: Terdapat legenda tentang penemuan landak besar di daerah ini, sehingga namanya menjadi Cilandak.
3. Tegal Parang: Nama ini berasal dari area yang dulunya penuh alang-alang (tegalan) yang dipotong menggunakan parang.
4. Blok A/M/S: Dulunya, kawasan ini adalah perumahan baru yang dibagi dalam beberapa blok mulai dari A hingga S, tetapi hanya tiga blok yang masih disebutkan hingga kini.
5. Pasar Rumput: Nama ini berawal dari tempat di mana tukang rumput menjual rumput untuk kalangan Belanda yang tinggal di Menteng.
6. Kalimalang: Sungai di daerah ini mengalir ke arah barat, bukan ke laut seperti sungai lainnya, sehingga disebut “malang” atau melintang.
7. Lebak Bulus: “Lebak” berarti kolam, dan “bulus” merujuk pada kura-kura yang banyak dijual di kawasan ini.
8. Boplo: Nama ini berasal dari “NV De Bouwploeg,” perusahaan kontraktor Belanda yang dahulu memiliki tanah di sana.
9. Kampung Ambon: Pada 1619, JP Coen membawa masyarakat Ambon sebagai tentara VOC dan menetapkan mereka di daerah Rawamangun, yang kini dikenal sebagai Kampung Ambon.
10. Sunda Kelapa: Nama ini merujuk pada pelabuhan yang telah ada sejak era Kerajaan Sunda. Nama “Kelapa” diambil dari catatan perjalanan Tome Pires pada 1513.
11. Pondok Gede: Nama ini berasal dari “pondok” besar yang digunakan Johannes Hoojiman untuk mengurus lahan pertanian dan peternakan pada abad ke-18.
12. Pasar Senen: Dibuka oleh Justinus Vinck, pasar ini awalnya hanya buka setiap hari Senin dan dikenal dengan nama Pasar Senen.
13. Kebayoran: Tempat ini dulunya adalah pusat penyimpanan kayu bayur, kayu berkualitas tinggi untuk bangunan.
14. Ragunan: Diambil dari gelar “Wiraguna” yang diberikan kepada pemilik tanah pertama, Hendrik Lucaasz Cardeel, oleh Sultan Banten.
15. Paal Meriam: Nama ini berasal dari peristiwa sejarah saat pasukan Inggris memasang meriam di daerah ini pada tahun 1813.
16. Cawang: Nama ini berasal dari seorang Letnan Melayu, Ence Awang, yang tinggal di kawasan sekitar Jatinegara bersama anak buahnya selama era kolonial Belanda. Seiring waktu, sebutan “Ence Awang” berubah menjadi “Cawang.”
17. Condet: Konon, ada sepasang suami-istri, Pangeran Geger dan Nyai Polong, yang memiliki anak perempuan cantik bernama Siti Maemunah. Ia meminta rumah peristirahatan di atas empang di Kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam. Tempat ini kemudian diberi nama “Batu Ampar” karena jalan menuju lokasi tersebut dilapisi batu, sedangkan “Bale Kambang” merujuk pada balai yang tampak mengambang di atas air.
18. Depok: Nama ini berasal dari kata “depo,” merujuk pada depo atau garasi kereta api yang dahulu berfungsi di sana.
19. Bintaro: Daerah ini banyak ditumbuhi pohon bintaro, yang buahnya sering dikonsumsi oleh masyarakat setempat.
20. Taman Anggrek: Nama ini berasal dari sebuah kebun anggrek yang dulunya dimiliki oleh seorang pengusaha di Cipete bernama H. Rasman, yang kemudian diambil oleh Ibu Tien dan dipindahkan ke daerah Jakarta Barat, tempat Mall Taman Anggrek berdiri sekarang.
21. Petamburan: Nama ini berkaitan dengan kematian seorang penabuh tambur yang dimakamkan di bawah pohon jati di kawasan ini, sehingga daerah ini dikenal sebagai “Jati Petamburan.”
22. Gondangdia: Nama ini mungkin berasal dari pengembang bernama NV Gondangdia yang ditunjuk oleh Belanda untuk membangun kawasan Menteng. Versi lain mengatakan, nama tersebut diambil dari seorang kakek terkenal yang dijuluki “Kyai Kondang.”
23. Petojo: Nama ini berasal dari Aru Petuju, seorang pemimpin Bugis yang diberi hak atas kawasan tersebut pada 1663. Nama tersebut kemudian berubah menjadi “Petojo” oleh penduduk setempat.
24. Krukut: Ada dua versi asal-usul nama ini: pertama, dari kata “krokot,” yang berarti hemat atau pelit; kedua, dari kata Belanda “kerkhof,” yang berarti kuburan, karena kawasan tersebut dahulu merupakan tempat pemakaman.
25. Pinangsia: Nama ini berasal dari bahasa Belanda “financien” (keuangan), merujuk pada Departemen Keuangan yang dulu ada di kawasan tersebut.
26. Kali Angke: Nama ini berasal dari bahasa Cina; “Ang” berarti darah dan “Ke” berarti sungai. Nama ini muncul dari peristiwa pembantaian etnis Tionghoa pada 1740, di mana banyak korban yang mayatnya dihanyutkan di sungai.
27. Pluit: Nama ini berasal dari “Fluitschip,” jenis kapal ramping yang digunakan Belanda untuk pertahanan pada tahun 1660 di dekat Muara Kali Angke.
28. Marunda: Nama ini berasal dari kata “merendah,” mencerminkan sifat penduduk setempat yang rendah hati dan menjauhi kesombongan.
29. Tanjung Priok: Nama ini diambil dari seorang penyebar Islam bernama Mbah Periuk yang datang dari Palembang membawa periuk nasi.
Nama-nama ini menggambarkan sejarah, kebiasaan, dan peristiwa yang pernah terjadi di wilayah tersebut, serta menunjukkan pengaruh berbagai budaya yang beragam di Jakarta. (DID)
