JAKARTA, BERNAS.ID – Pemerintah terus memperkuat hilirisasi sektor mineral dan batu bara (minerba) sebagai salah satu strategi utama mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut langkah ini selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 8% dalam beberapa tahun mendatang.
“Tidak ada cara lain yang harus kita lakukan untuk meningkatkan GDP dan pendapatan per kapita kita, selain dengan cara-cara terobosan baru. Hilirisasi adalah salah satu instrumen untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang kita inginkan,” ujar Bahlil dalam keterangannya.
Berdasarkan Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis, pemerintah memproyeksikan total investasi mencapai US$618 miliar hingga tahun 2040, dengan 91% di antaranya terkonsentrasi di sektor ESDM, terutama pada komoditas minerba, minyak, dan gas bumi.
Baca Juga : Tindaklanjuti Kerjasama dengan JOGMEC, ESDM Kirim Pegawai Magang ke Jepang
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang signifikan, termasuk cadangan nikel yang kini mencapai 40-45% dari total dunia. Selain itu, potensi cadangan lainnya seperti timah, batubara, bauksit, dan pasir kuarsa turut mengokohkan posisi strategis Indonesia di pasar global.
“Pasir kuarsa, misalnya, menjadi komoditas penting karena merupakan bahan baku untuk pembuatan solar panel. Hilirisasi sektor ini memiliki dampak ekonomi yang besar, baik secara nasional maupun regional,” jelas Bahlil.
Data terkini menunjukkan Indonesia memiliki posisi strategis di tingkat global. untuk Nikel peringkat 1 dunia (42% cadangan global), Bauksit peringkat 4 dunia (9,8%), Tembaga peringkat 9 dunia (2%), Emas peringkat 4 dunia (5,8%), Timah peringkat 1 dunia (34,47%) dan Batubara peringkat 6 dunia (3%).
Baca Juga : Slepet, Joget, atau Sat Set Otonomi Daerah
Bahlil menegaskan, hilirisasi sektor minerba tidak hanya mendorong ekonomi nasional tetapi juga memiliki multiplier effect yang besar di daerah. Hilirisasi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan daerah, dan mendorong pengembangan wilayah secara berkelanjutan.
“Multiplier effect-nya di daerah itu tinggi sekali. Jadi minerba adalah salah satu instrumen pendongkrak ekonomi daerah. Ini kenapa kita harus saling mendukung,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil mengajak dunia usaha untuk berperan aktif dalam mendukung hilirisasi dengan memberikan masukan bagi perbaikan tata kelola industri pertambangan. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan iklim investasi yang lebih baik sekaligus menumbuhkan industri yang berkelanjutan.
“Kami mohon dukungan dari teman-teman pengusaha. Sampaikan jika ada hal-hal yang perlu kami bantu atau perbaiki. Kami selalu terbuka untuk melakukan perbaikan, dengan tujuan agar dunia usaha dapat tumbuh dan menciptakan lapangan pekerjaan, serta menghasilkan pajak dan royalti,” tutup Bahlil. (DID)
