TOJO UNAUNA, BERNAS.ID— Tangisan Galang Rawadhan (12), bocah asal Pulau Wakai, Kecamatan Unauna, Kabupaten Tojo Unauna, mengguncang publik usai videonya viral di media sosial. Dalam video itu, Galang menangis sambil mengenakan seragam sekolah—bukan karena tak mau belajar, tapi karena takut tak bisa lagi bersekolah.
Penyebabnya menyayat hati, ayahnya lumpuh dan tak mampu lagi mencari nafkah. Keluarga Galang hidup dalam keterbatasan, dan biaya sekolah menjadi beban berat yang nyaris tak terjangkau.
Kisah ini menjadi potret nyata krisis akses pendidikan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), yang kerap luput dari perhatian meski Indonesia menjamin hak belajar setiap anak.
Kapolres Tojo Unauna, AKBP Ridwan Jason Maruli Hutagaol, yang mengetahui video tersebut, langsung memerintahkan Kapolsek Unauna AKP Mustarim Abbas untuk turun tangan.
“Ini bukan soal belas kasihan, ini soal keadilan. Anak-anak seperti Galang tak boleh dibiarkan tertinggal karena sistem yang belum sepenuhnya hadir,” ujar Kapolres Ridwan, Jumat (13/6/2025).
Kapolsek kemudian mendatangi langsung Galang dan keluarganya, membawa bantuan perlengkapan sekolah dan kebutuhan pokok.
Namun bantuan itu hanya awal. Kapolres menegaskan bahwa kepolisian akan terus memantau dan membantu keberlanjutan pendidikan Galang.
“Kami pastikan, Galang tidak akan putus sekolah. Kami akan kawal,” tegas AKP Mustarim Abbas.
Kasus ini membuka mata: kemiskinan struktural masih menjadi penghalang serius terhadap pemerataan pendidikan. Galang adalah satu dari banyak anak Indonesia yang terancam kehilangan masa depan bukan karena malas, tetapi karena tak mampu.
Kapolres pun menyerukan kolaborasi semua pihak—pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk mendeteksi dan mendampingi anak-anak rentan di seluruh penjuru negeri.
“Jangan tunggu video viral baru kita bertindak. Pendidikan adalah hak, bukan hadiah,” pungkasnya.
