SLEMAN, BERNAS.ID- Dalam acara “Fapet Menyapa”, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Yogyakarta mengenalkan inovasi Gama Abilawa Portable Restraining Box jelang Hari Raya Idul Adha 2026. Teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemotongan ternak kurban guna mendukung kesejahteraan hewan.
Pengembangan Portable Restraining Box telah dilakukan sejak 2019 dan masih disempurnakan setiap tahun berdasarkan evaluasi lapangan. Operasionalisasi portable restraining box cukup ditangani lima personel dengan risiko rendah.
“Yang sering dijumpai di lapangan, kecelakaan petugas penyembelih ataupun ternak yang luka akibat proses perebahan yang tidak tepat. Portable restraining box, sapi lebih mudah ditangani dan proses penyembelihan bisa dilakukan dengan lebih aman,” terang Guru Besar Fapet UGM Prof Panjono, Senin (18/5).
Prof Panjono menyebut latar belakang teknologi ini diciptakan karena di lapangan sapi kurban seringkali sulit ditangani sejak proses penambatan, penggiringan menuju lokasi penyembelihan, hingga perebahan dan pengikatan sebelum disembelih. Situasi tersebut memicu ternak mengamuk, mengalami luka, bahkan menimbulkan kecelakaan pada petugas penyembelihan.
Di sisi lain, pemotongan sapi kurban di masyarakat selama ini memakai peralatan terbatas, proses penanganan ternak juga kurang tepat sehingga berdampak pada kesejahteraan hewan maupun kualitas daging yang dihasilkan.”Kondisi ini menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik maupun psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas penyembelihan, serta menurunkan kualitas daging,” kata Prof Panjono.
“Portable restraining box mempermudah penanganan ternak secara lebih aman. Sapi dapat diarahkan masuk ke dalam box dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa harus mendapat perlakuan yang tidak tepat,” katanya.
Prof Panjono mengatakan, alat tersebut dirancang agar kompatibel dan mudah digunakan di berbagai lokasi yang tidak memiliki fasilitas TPH. Desainnya portabel sehingga mudah dipindahkan dan cocok digunakan panitia kurban di berbagai daerah.
“Portable restraining box mampu meningkatkan efisiensi proses pemotongan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ternak. Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging terjamin,” katanya.
Sementara itu, tim dari Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fapet UGM, Prof Tri Satya Mastuti Widi mengatakan pihak fakultas juga mengembangkan protokol pengukuran kesejahteraan hewan yang disesuaikan dengan kondisi tropis di Indonesia.
Menurutnya, pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan sudut pandang hewan, bukan semata dari peternak.
“Pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan apa yang dialami hewan. Karena itu kami mengembangkan berbagai protokol pengukuran yang sesuai dengan sistem produksi di daerah tropis, baik intensif, semi-intensif, maupun ekstensif,” katanya.
Dikatakannya, protokol ini dapat diterapkan pada berbagai jenis ternak, mulai dari ternak besar dan kecil, ternak kerja maupun olahraga, hingga hewan kesayangan. (jat)
