SLEMAN, BERNAS.ID-Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Sleman menggelar Pelatihan Gen-Z Batik Preneur Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha Tahun 2026 mulai dari tanggal 23 Juni sampai 23 Agustus 2026. Pelatihan yang didanai Kemendikdasmen dan Pemkab Sleman ini diikuti 10 peserta Generasi Z yang telah melalui proses sosialisasi dan seleksi.
Dwi Wulandari, Ketua Harian Dekranasda Sleman mengatakan program pelatihan bertujuan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya berkarya, tapi memilki semangat untuk berwirausaha.”Pogram ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan kompetensi generasi muda dan menguatkan ekonomi kreatif berbasis kerajinan batik,” terangnya saat membacakan laporan kegiatan di Ruang Diklat Dekranasda Sleman, Senin (22/6).
“Selain itu membekali peserta dengan keterampilan membatik, jiwa kewirahusahaan, serta kemampuan pemanfaatan teknologi,” imbuhnya.
Sasarannya, peserta pelatihan akan mampu menghasilkan batik berkualitas dan mengembangkan usaha secara mandiri yang berkelanjutan sebagai batikpreneur muda. “Para peserta akan mendapatkan total 250 jam pembelajaran untuk teori dan praktek berupa keterampilan teknis membatik, penguatan karakter wirausaha, manajemen pengembangan usaha, pemasaran digital, dan pemanfaatan marketplace sebagai sarana pengembangan bisnis,” jelasnya.
Lebih jauh lagi, pelatihan ini memiliki nilai strategis yang sangat penting karena sebagai upaya regenerasi perajin batik di Sleman. “Selain materi, para peserta akan mendapatkan bantuan modal berupa bahan dan alat produksi,” ujarnya.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Dekranasda Sleman, Parmilah mengatakan Pelatihan Gen-Z Batik Preneur menjadi kesempatan untuk pembinaan gen z mendapat ilmu perbatikan. “Batik bukan selembar kain bermotif, tetapi warisan budaya dan identitas bangsa. Ada anggapan batik identik dengan konsumsi generasi tua, tapi di kabupaten Sleman kami mematahkan stigma tersebut,” urainya.
Dikatakannya, generasi Z menjadi motor penggerak masa depan karena memiliki kefasihan teknologi, cara pandang yang segar, dan kreatifitas tanpa batas. “Kita tidak hanya ingin melestarikan batik, tapi meleburkan nilai luhur dan tradisi dengan inovasi melalui jiwa wirausaha muda,” ujarnya.
“Kalian belajar membatik agar memahami esensi produk. Kalian belajar berwirausaha agar mampu membaca peluang pasar yang semakin dinamis, lalu menciptakan lapangan kerja baru,” imbuhnya.
Parmilah pun berpesan kepada para peserta untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya dan tidak malu untuk bertanya kepada instruktur. “Jngan takut berinovasi, ciptakan trend baru, dan miliki mental tangguh serta konsistensi,” tutupnya. (jat)
