Bernas.id ? Menggeliatnya dunia perfilman Indonesia memberikan dampak munculnya film-film baru berbagai genre. Mulai dari film bernuansa romantis, religi, komedi hingga horor. Di tahun 2017 Film bertema “Pahlawan Kartini” besutan sutradara Hanung Bramantyo dan film horor “Pengabdi Setan” besutan sutradara Joko Anwar berhasil memeperoleh belasan nominasi di FFI 2017.
Bangkitnya film layar lebar juga memberikan dampak bagi industri film pendek di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya film pendek bernuansa pendidikan berjudul “Sang Penjaga Pelita”. Film yang yang diproduksi oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Wonogiri ini disutradarai oleh Fajar Prihattanto. Bukan hanya berperan sebagai sutradara, lelaki 34 tahun yang kerap disapa Fajar ini sehari-harinya berprofesi sebagai guru mata pelajaran Seni Budaya di SMPN 1 Baturetno dan SMPN 2 Paranggupito Kabupaten Wonogiri. Dalam produksi film pendek karyanya, Fajar juga merangkap peran sebagai penulis skenario, kameramen, dan editor.
Film “Sang Penjaga Pelita” yang diproduseri oleh Eko Siswanto ini menghadirkan para pemain antara lain: Warto, Ike Kuswardani, Eko Siswanto, Siti Zulaiha, Ria Sulistiyono,Joko Susilo, Lilik Prihatmoko, Lilis Yuniwati, Agus Dwianto, Yoik Pecasdahe, Satria, Uyik Suyanto dan siswa-siswi SDN Jatisari. Para pemain dari film ini selain siswa, semuanya berprofesi sebagai guru yang bekerja di wilayah lintas kecamatan di Kabupaten Wonogiri.
Film berdurasi 28 menit ini bercerita tentang kisah guru honorer bernama Sartono. Menjadi guru honor di pedesaan dengan penghasilan jauh di bawah UMR membuatnya untuk bekerja sambilan sebagai sopir becak mini. Meskipun telah berprofesi ganda sebagai guru dan sopir becak mini tak dapat mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Sartono bahkan kerap terjadi perselisihan dengan istrinya akibat masalah ekonomi. Sartono juga hobi menulis. Dia menulis novel berjudul Sang Penjaga Pelita. Karya novelnya yang bercerita tentang kekaguman ayah Sartono kepada lagu Himne Guru dan sosok guru, membuat novel Sartono berhasil diterbitkan oleh salah satu penerbit. Bukan hanya itu saja, Sartono ditawari menjadi redaktur majalah. Sartono pun mengalami kebimbangan, memilih menjadi guru honor dengan gaji pas-apasan ataukah menjadi seorang redaktur. Suatu hari dia Sartono berdiskusi kepada kepala sekolahnya atas kebimbangan yang dialaminya. Kepala sekolah Sartono tak dapat memberikan keputusan. Sartonolah yang dapat memutuskannya. Saat acara perpisahan, usai anak-anak menyanyikan lagu Himne Guru, Sartono diberikan kesempatan untuk menyampaikan kata perpisahan akan niatnya berhenti menjadi guru dan beralih profesi sebagai redaktur. Namun, di ujung sambutannya itu Sartono membuat kejutan bahwa niatnya untuk menjadi redaktur diurungkan dan tetap menjadi seorang guru meskipun hanya guru honorer yang belum jelas nasibnya.
Film “Sang Penjaga Pelita” ini telah dirilis melalui Youtube 15 Oktober 2017. Sebelumnya. pemutaran perdana dilakukan pada acara Global Educational Supplies and Solutions (GESS) di Jakarta pada 27 s.d. 29 September 2017 lalu. Kini para siswa, guru, dan pemerhati pendidikan dapat menikmati film pendek ini via Youtube secara gratis.
Fajar Prihattanto (34) dan Desi Wulandari (30) istrinya di kediamannya di selatan lapangan bola Batuwarno, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri mengaku senang dan puas apabila film ini dapat dilihat oleh jutaan Youtubers. Mereka berharap film ini mampu memberikan motivasi kepada para guru honorer di seluruh Indonesia agar tetap berjuang mencerdaskan anak bangsa meskipun dalam suasana keterbatasan.
Menjadi guru bukanlah untuk memperkaya diri, namun sebagai cara untuk memperkaya hati dan amal kelak di akhirat nanti. Semoga nasib para guru honorer di Indonesia diperhatikan oleh pemerintah.
NB (Tidak perlu dicantumkan dalam berita)
Berita ini dihasilkan dari wawancara via Whatshapp dengan Fajar Prihattanto (sutradara) dan Desi Wulandari (istri) yang notabene bahwa Desi adalah teman saya waktu SMA di SMAN 1 Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah.
