JOGJA, BERNAS.ID- Ecoprint, teknik membuat motif pada sebuah kain dari bahan-bahan alam seperti dedaunan, bunga, dan ranting-ranting pohon. Inilah usaha ekonomi kreatif yang dilakukan Badan Usaha Milik Masyarakat (BUMMas) di Desa Berdaya Brontokusuman Yogyakarta dengan keuntungan puluhan juta rupiah.
Produk kain batik yang diberi nama Ecoprint Jogja atau Eco-J karya 18 anggota yang didominasi Ibu-ibu rumah tangga BUMMas Brontokusuman pun telah sukses menembus pasar ekspor. Batik motif ecoprint Brontokusuman nyatanya telah masuk dan diminati oleh pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, Amerika hingga Australia.
Kesuksesan para pelaku ekonomi kreatif ini bermula dari workshop ecoprint yang diikuti oleh penerima manfaat Rumah Zakat. Bahkan BUMMas Eco J ini sudah membuka kelas pelatihan bagi warga yang ingin mengetahui cara pembuatannya.
Rusjayanti, salah satu pelaku ekonomi kreatif Ecoprint Jogja tak menyangka bisa mendapatkan penghasilan dari usaha BUMMas tersebut. “Saya sendiri kagum dengan hasil ecoprint ini, bahkan saya tidak menyangka bisa berpenghasilan dari sana,” ujarnya di sela-sela kegiatan Explore Desa Berdaya Brontokusuman, Kamis 12 September 2019.
“Bisa membantu suami mencari nafkah, syukur bisa menabung juga,” imbuhnya.
Sedangkan, CEO Rumah Zakat, Nur Efendi menceritakan mulanya kampung batik Eco J dimulai dari sebuah bacaan, lalu dengan sebuah workshop bisa berkembang menjadi kampung penghasil batik ecoprint, bahkan desa wisata Ecoprint Jogja Brontokusuman. “Usaha bersama ini pun terbukti memberikan keuntungan ekonomi bagi warga Brontokusuman,” katanya.
“Tak hanya memberi penghasilan, tapi membuktikan produk desa bisa unggul di tingkat nasional dan internasional,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala BBLM (Balai Besar Pelatihan Masyarakat) Yogyakarta, Erlin Chaerlinatun yang merupakan perpanjangan tangan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengapresiasi Rumah Zakat karena sudah menginisiasi pemberdayaan desa melalui Badan Usaha Milik Masyarakat. “Ini program yang perlu kita support,” ujarnya.
“Kita akan mulai kolaborasi ini dengan Rumah Zakat untuk memamerkan batik Eco J ini pada pameran tingkat nasional di Bengkulu nanti,” tambahnya.
Ke depannya, Erlin pun berharap agar ecoprint ini juga diajarkan kepada anak-anak sehingga akan muncul motif-motif yang lebih kreatif tersendiri. “Bahkan nanti, siapa tahu, ada ikon produk Eco J versi anak-anak,” ucapnya.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peresmian Galeri Ecoprint Jogja Brontokusuman Yogyakarta yang dilakukan oleh Nur Efendi, CEO Rumah Zakat dan Kepala BBLM Yogyakarta, Erlin Chaerlinatun. (jat)
