BERNAS.ID – Diceritakan pada saat itu, saat puncak kemeriahan acara pesta pernikahan Pangeran Airlangga dan Putri Dharmawangsa raja Kerajaan Medang sedang berlangsung. Tiba-tiba kemeriahan acara berubah menjadi kegemparan yang luar biasa, dikarenakan istana diserbu secara mendadak oleh Raja Wurawari dari Lwaram yang dibantu oleh kerajaan Sriwijaya.
Istana Medang hancur porak poranda, Raja Darmawangsa terbunuh dan terjadi pembantaian keluarga istana, Pangeran Airlangga sendiri berhasil meloloskan diri kearah Gunung Lawu, bersama istri dan gurunya Narotama.
Dalam usahanya untuk merebut kembali kerajaan, Airlangga pun bertapa, menggembleng diri di kaki Gunung Lawu untuk mencari pencerahan sembari menyusun kekuatan. Akhirnya seperti yang diceritakan dalam Prasasti Pucangan (diketemukan di kaki Gunung Lawu) berhasil mengusir musuh dan menjadi raja besar dengan mendirikan kerajaan baru yang lebih besar bernama kerajaan Kahuripan.
Mungkin sejak saat itu mitos Gunung Lawu dan kepemimpinan raja-raja di jawa mulai terbangun, tercatat bahwa Raja Bhre Wijaya raja terakhir dari Majapahit mengungsi dan bertapa ke Gunung Lawu, akibat menghindar dari serbuan Raden Patah dari Kerajaan Demak.
Raja Pakubuwono II dari Kerajaan Mataram Kartosuro juga melakukan hal yang sama ketika diluluhlantakkan oleh Sunan Kuning dalam peristiwa Geger Pecinan. Sang raja bertirakat menggembleng diri di Gunung Lawu (daerah Pringgondani) untuk kemudian berhasil merebut kembali kekuasaan.
Baca Juga : Tolak Bala Pagebluk
Mitos tersebut makin ditebalkan, karena itulah tidak mengherankan bahwa sampai dengan “Kerajaan” NKRI berdiri beberapa “raja” yang berkuasa maupun calon “raja” melakukan kegiatan napak tilas dengan berziarah ke Gunung Lawu (Pringgondani). Hal ini untuk membangun mitos bahwa pemimpin akan dilahirkan (leader can be born) atas “keberkahan” di suatu tempat.
****
Para pakar mengemukakan beberapa teori kepemimpin dengan melakukan pendekatan asal usul dan latar belakang dari seseorang dapat menjadi seorang pemimpin. Adalah salah satunya teori genetis, yakni teori yang mengatakan bahwa pemimpin itu tidak dihasilkan melainkan dilahirkan, jadi bakat dan kemampuan memimpin telah dimiliki sejak lahir.
Dalam pandangan filosofi Jawa, seseorang bisa menjadi pemimpin kalau ia memiliki apa yang disebut “wahyu keprabon“. Jadi seberapa pun kepandaian dan kekayaan seseorang belum tentu bisa menjadi seorang pemimpin, kalau tidak mendapatkan wahyu keprabon yakni legitimasi supranatural yang memilikinya dipandang mengantungi restu illahi untuk menjadi penguasa.
Untuk itu kali ini saya tidak secara spesifik mengemukakan sebuah mitos baru yakni hubungan kepemimpinan dengan wahyu keprabon yang dikaitkan dengan keberkahan suatu tempat/daerah. Namun mengungkapkan sebuah fenomena bahwa tahukah anda hampir semua pemimpin NKRI ini dari awal kemerdekaan sampai dengan saat ini berhubungan dengan daerah, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta?
Sang Proklamator Ir. Soekarno dilantik sebagai presiden pertama Indonesia di bangsa Siti Hinggil Keraton Yogyakarta, dan dari sanalah terdengar ucapan menggelegar sumpah Bung Karno akan memenuhi kewajiban sebagai Presiden Indonesia, yang melindungi dan mempertahankan kedaulatan Indonesia dan dari Yogyakarta pula beliau di gembleng untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dari gempuran tantara Belanda.
Presiden kedua Indonesia, seperti di ketahui beliau lahir di Yogyakarta dan mendapat gemblengan di sekolah di Yogyakarta pula. Selanjutnya Presiden Ketiga BJ Habibie, ibunya merupakan puteri Yogyakarta, sedangkan Presiden Keempat Gus Dur, semenjak SMP mendapatkan gemblengan di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
Presiden selanjutnya Megawati, lahir di sebuah kampung tepian barat Kali Code Yogyakarta, sedangkan penerusnya Presiden SBY pernah menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta.
Untuk Presiden yang sekarang ini menjabat, Presiden Jokowi tentunya bukan rahasia bahwa beliau mendapat gemblengan dan “bertapa” di Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ada benang merah dalam tulisan diatas beliau dilahirkan di sebuah kota di lereng Gunung Lawu, Kota Surakarta.
Sebuah mitos dapat menjadi sebuah ideologi atau menjadi sebuah paradigma ketika sudah tertanam kuat, berurat akar seperti masyarakat Jawa yang bisa saja digunakan sebagai acuan dalam memilih pemimpin.
Finally, kira-kira siapakah sosok pemimpin masa depan Indonesia? Apakah sosok tersebut bertanda lahirnya di kaki Gunung Lawu dan mendapatkan gemblengan di Yogyakarta? Sejarah yang akan membuktikan dan mitos yang akan menebalkan.
Suwun,
Yogyakarta, 12/09/2021
(Wahyu Indro Widodo, S.ST., M.Par., Komisaris PT PP Properti Tbk)
