SLEMAN, BERNAS.ID- Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta sarasehan bertema “Srawung Rahayu, Memperkokoh Jati Diri dan Ketangguhan Mental Anak Didik Penghayat” di Ledok Sambi Sleman, Jumat (19/6). Sarasehan ini dihadiri puluhan para penghayat kepercayaan dari berbagai wilayah di DIY.
Sarasehan ini menjadi bentuk komitmen Pemerintah Daerah DIY berkomitmen untuk memfasilitasi komunikasi dan memperkuat solidaritas antar-paguyuban penghayat di DIY; meneguhkan jati diri dan memberikan penguatan mental bagi generasi penerus penghayat; dan meningkatkan kapasitas keorganisasian demi keberlanjutan pelestarian nilai luhur ajaran spiritual.
Dalam sambutan yang dibacakan Plh, Kasie Adat Tradisi, Zita Uttungga Dewi Maharani, S.S, Kepala Dinas Kebudayaan, Dian Laksmi Pratiwi mengatakan kebudayaan berfungsi sebagai pemandu arah dan instrumen bagi manusia dalam melangsungkan kehidupannya, sementara masyarakat berperan sebagai wadah dinamis tempat kebudayaan tersebut tumbuh dan berkembang.
“Saya berharap, ruang diskusi panel bersama para pakar akademisi dan praktisi rehabilitasi dapat merumuskan langkah-langkah strategis dan solutif dalam pemecahan masalah sosial tersebut,” tutur Dian.
Dikatakannya, Penghayat Kepercayaan memiliki kedudukan yang fundamental dalam struktur kebudayaan kita, sebab kepercayaan kerap menjadi akar dan motor penggerak spiritualitas masyarakat. “Secara hukum dan konstitusi, anak-anak atau generasi penerus penghayat memiliki hak-hak yang setara sebagai warga negara.
Namun, dalam praktiknya, kita masih menemui berbagai tantangan sosial dan psikologis di lingkungan pendidikan. Keterbatasan literasi masyarakat tidak jarang memicu terjadinya tindakan diskriminatif, pengucilan, hingga perundungan di sekolah.”Hal ini berdampak langsung pada kesehatan mental, yang dapat mengikis rasa percaya diri serta menimbulkan kecemasan pada anak didik kita,” ujar Dian.
Untuk itu, mengacu pada Undang-Undang Keistimewaan DIY, Pemerintah Daerah memegang peranan krusial untuk melakukan pembinaan, pelestarian, dan penguatan terhadap adat, tradisi, serta nilai-nilai budaya spiritual agar tetap selaras dengan Pancasila. “Semoga momentum ini mampu membawa dampak positif yang berkelanjutan bagi kelestarian adat, tradisi, dan ketangguhan mental generasi penerus kita,” tukasnya.
Sementara itu, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Aris Munandar mengatakan sarasehan menjadi sarana pendampingan untuk menguatkan identitas diri karena berkaitan dengan penerimaan diri dan cara bagaimana mereka untuk mengembangkan diri. “Tidak ada seorang pun yang akan bertumbuh tanpa memiliki kesadaran dan kemauan atas dirinya sendiri,” katanya.
Dikatakannya, keterlibatan yang bermakna bagi teman-teman penghayat kepercayaan di komunitas dibutuhkan agar mereka memiliki hak untuk berpendapat agar kesehatan mental spiritualnya tumbuh. “Peningkatan ini penting mengingatkan manusia itu tidak hanya tumbuh pada satu aspek fisik saja, tetapi dapat berkolaborasi dengan pemerintah mengingat spiritual mental dan budaya itu tidak bisa dipisahkan karena saling melengkapi dan sangat dekat dengan nilai-nilai luhur yang mengacu pada nilai dasar budaya lokal,” tutupnya. (jat)
