SLEMAN, BERNAS.ID – Direktorat Akses Pembiayaan Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf kembali menggelar FoodStartup Indonesia (FSI) di tahun 2021. Ajang yang dilaksanakan selama 3 hari di Yogyakarta ini membuka kesempatan bagi finalis foodstartup bertemu calon investor guna mendapat permodalan untuk pengembangan usahanya.
Dalam sambutannya secara virtual, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mengatakan sejak tahun lalu, gelaran FSI berperan sangat penting di tengah situasi pandemi COVID-19. “Kegiatan ini menunjukkan kerja bersama yang baik antara pemerintah, investor, dan pihak terkait lainnya dalam membantu UMKM agar tetap optimistis melewati situasi sulit ini,” ujarnya.
Baca Juga: Kemanparekraf Pilih Tebing Breksi untuk Dilakukan Uji Coba Pembukaan
Fadjar Hutomo, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf mengatakan dari ajang FSI yang digelar sejak tahun 2016 telah melahirkan 352 alumni foodpreneur. Untuk tahun 2021, ada 91 peserta dari berbagai wilayah Indonesia. “FSI mempertemukan para foodpreneur atau foodstartup dengan potensi pendanaan atau investasi. Sejauh ini sudah tercatat 52 milyar yang mengalir atau meminati para foodstartup,” jelasnya, Selasa (5/10/2021).
Fadjar menyampaikan ada yang berbeda dalam gelaran FSI 2021 tentang perubahan mekanisme pelaksanaannya. “Tahun lalu, kita campur dari sisi bidang atau model bisnis dengan fase usahanya. Namun, tahun ini, kita pilah, ada yang di sisi food manufaktur, yaitu menghasilkan produk dengan food services atau konsep restorannya,” ujarnya.
“Kita juga bagi dua lagi, ada yang fase Growth dengan omset lebih dari 500 juta dan Early Stage, skala pendanaan masih kecil dan omset sampai 500 juta,” imbuhnya.
Lanjut tambahnya, para foodpreneur ini akan menjalani mentoring yang dibagi dalam beberapa kelas. Para mentor akan melakukan kurasi ke 91 peserta. “Jadi ada seri knowledge, peserta akan punya sesuatu untuk pengembangan bisnis. Nanti akan ada perempatan final, semi final, dan final. Para finalis ini akan tampil di demoday tanggal 7 Oktober nanti,” bebernya.
Fadjar menegaskan FSI ini bukan lomba, tapi ajang foodstartup bertemu dengan investor. “Mereka akan presentasi, model bisnisnya seperti apa untuk menarik investor, selanjutnya ke bisnis to bisnis. Kalau dari Jogja ada alumni FSI, namanya Lintang dengan produk Matcha, teh Jepang dari Jogja. Saat ini, produknya ada di seluruh Indonesia, bahkan ekspor ke Jepang,” paparnya.
Dalam FSI 2021 ini ada 30 mentor yang hadir seperti Nilamsari (Founder and CEO Sari Kreasi Boga), Ahmed Tessario Ekanuramanta (CEO Sirtanio Organik Indonesia), dan Yustinus Agung Nugroho (CEO Ultra Indonesia). Demoday FSI 2021 akan berlangsung secara hybrid dalam bingkai protokol kesehatan yang ketat dan disiplin.
Untuk finalis FSI 2021 sendiri, berdasarkan kategori usaha terdiri atas dua, yaitu 54 food manufacture (59,3%) dan 37 food service (40,7%). Sedangkan ditinjau dari demografi kota asal, finalis FSI tahun ini berasal dari sembilan provinsi dengan dominasi masih dari provinsi di Pulau Jawa.
Adapun data provinsi finalis FSI yaitu DKI Jakarta (23,5%), Jawa Barat (15,3%), Jawa Timur (12,2%), Jawa Tengah (11,2%), Banten (10,2%) DI Yogyakarta (8,2%), Riau (5,1%), Aceh (2%), dan Sumatra Utara (2,0%). Jika dilihat dari kota asal, seluruh finalis tahun ini berasal dari 46 kota dan kabupaten di Indonesia.
Hal penting lainnya yaitu bentuk badan usaha para finalis FSI tahun ini. Terdapat 45 finalis (49,5%) berbadan usaha CV, 43 berbentuk PT (47,3%), dan hanya tiga yang masih belum berbadan usaha (3,3%). (jat)
