JAKARTA, BERNAS.ID – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menyebut bahwa tingkat produktivitas RI masih rendah. Bahkan, menjadi topik pembahasan dalam 30 tahun terakhir.
“Dan, kita tidak pernah loncat dalam tingkat produktivitas,” katanya, Senin (22/11/2021).
Menurut Suharso, penyebab rendahnya produktivitas Indonesia karena jarangnya mahasiswa yang mempelajari total factor productivity (TFP).
“Padahal, ini penting untuk mendorong capital dalam pertumbuhan ekonomi dan regulasi kita masih tertinggal,” jelasnya.
Baca juga: Bappenas Perbarui Masterplan Food Estate Kalimantan Tengah
Kondisi ini tidak terlepas dari destruksi teknologi dan model bisnis yang berubah. Begitu pun di industri keuangan.
Permintaan sumber daya manusia (SDM), sambung dia, juga berubah sehingga membutuhkan peningkatan keahlian (upscalling) dari SDM untuk menghasilkan tenaga kerja terampil.
Baca juga: PT Asing Masuk, Kepala Bappenas Singgung Devisa
Karena itu, dalam 12 tahun terakhir, perekonomian Indonesia cenderung tumbuh di bawah angka potensialnya.
“Satu hal yang perlu dicatat mengapa kita masih 'lower middle income', salah satunya karena tingkat produktivitas kita yang masih rendah,” tambah Suharso.
Dirinya menekankan, kemajuan sebuah negara ditentukan oleh tingkat kompleksitas ekonominya. Makin tinggi tingkat kompleksitas ekonominya, maka semakin maju negara tersebut.
Namun sayangnya menurut dia RI memiliki tingkat kompleksitas ekonomi yang sangat rendah. Tak terkecuali dibandingkan dengan negara-negara Asia, RI masih sangat rendah. (den)
