YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Bila kita berbicara tentang investasi erat kaitannya tentang perencanaan masa depan dan tujuan jangka panjang, pada artikel ini kita akan membahas “Apakah investasi untuk usia pensiunan diperlukan?”, “Jenis investasi apa yang sesuai untuk pensiunan?” dan “Bagaimana memulai investasi untuk pensiunan?”
Bagi para pekerja, uang pensiunan dikategorikan menjadi dua metode pembayaran, yaitu pesangon (dibayarkan keseluruhan saat usia pensiun) dan bulanan. Banyak diantara kita yang mungkin lebih nyaman bila uang pensiunan dibayarkan secara bulanan, karena takut akan cepat habis dalam beberapa tahun saja.
Namun, hal ini tidak akan berlaku bila kita memiliki literasi keuangan dan investasi yang baik. Salah satu kunci untuk tenang hidup di masa pensiun adalah dengan cara melakukan pengelolaan investasi yang imbal hasilnya dapat melampaui tingkat kenaikan harga (inflasi) dimana jumlahnya dapat mencukupi biaya dan gaya hidup kita.
Baca Juga Masa Pensiun Tiba, 3 Bisnis Ini Akan Menambah Pemasukan, Lho! No.1 Bisnis Paling Mudah
Berdasarkan teori dasar investasi, kunci dari investasi adalah alokasi sejumlah modal menjadi sejumlah aset yang memiliki nilai tambah dengan jangka waktu dan tujuan tertentu. Alokasi aset hendaknya dilakukan secara diversifikasi atau beragam jenis bentuk aset untuk melindungi risiko berkurangnya nilai investasi. Selain itu, investasi untuk pensiunan dapat berguna untuk aktualisasi diri.
Beberapa bentuk aktualisasi diri pada senior adalah memiliki kebebasan untuk travelling, membelikan cucu hadiah/mainan hingga tinggal di senior living yang mereka inginkan. Dengan kata lain, senior berhak untuk hidup layak di hari tua dengan aset produktif yang dimilikinya.
Pertanyaan berikutnya adalah “Jenis investasi apa yang sesuai untuk pensiunan?”. Pada dasarnya aset dapat dibagi tiga, yaitu aset lancar, aset tetap, dan aset tidak berwujud. Pada artikel ini penulis akan fokus pada aset lancar yaitu dalam bentuk dividen atau sejumlah uang sebagai hak dari kepemilikan sebuah saham di Bursa Efek Indonesia.
Mindset yang harus ditanamkan untuk para senior adalah sebagai pemegang saham anda adalah pemilik sebagian dari perusahaan dan ini menjadikan anda berhak atas sebagian dari keuntungan perusahaan yang dibayarkan dalam dividen.
Dividen sendiri dapat dibayarkan dengan tingkat bagi hasil tertentu sesuai dengan kinerja perusahaan dalam periode satu tahun, satu semester atau satu triwulan (4 bulan sekali). Bila berinvestasi di perusahaan yang baik, maka dividen dapat digunakan untuk melakukan lindung nilai terhadap inflasi dengan memberikan pendapatan yang terus meningkat.
Baca Juga Menelisik Masa Pensiun Prof. DR. Hatta Ali, SH, MH, Sebagai Ketua Mahkamah Agung
Ditambah lagi, Pemerintah memiliki rencana untuk penghapusan pajak pada dividen dalam RUU Omnibus Law Perpajakan yang kini telah masuk ke meja DPR RI. Mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada CNBC pada akhir tahun 2019 lalu. “Kita juga akan membuat penurunan tarif atau pembebasan tarif PPh dividen dalam negeri, dalam hal ini dividen yang diterima WP [wajib pajak] badan maupun WP [perorangan] akan dibebaskan dan kita akan atur lebih lanjut dalam aturan pemerintah”.
Penulis akan memberikan sedikit ilustrasi penerimaan dividen sebagai pemilik perusahaan di salah satu perusahaan yang penulis yakini sangat familiar untuk rekan-rekan senior. Pasangan senior Pak Ari dan Bu Ayu memiliki dana pensiun sejumlah Rp300.000.000 yang diinvestasikan untuk membeli saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) seharga Rp6.000 per lembar saham dan dengan dana yang mereka miliki mampu memperoleh kepemilikan saham Unilever Indonesia sejumlah 50.000 lembar saham pada Januari 2015.
Pada periode Januari 2015 hingga Desember 2019, Pak Ari dan Bu Ayu telah menerima 10 kali (dua kali dalam setahun) pembayaran dividen perusahaan dengan total pendapatan sejumlah Rp210.150.000 (keuntungan sekitar 70%).
Sebagai informasi tambahan, selain dividen, kepemilikan saham juga berarti senior bisa menjual saham tersebut ke investor lain sesuai harga pasar pada saat senior ingin menjualnya. Sebagai contoh, Pak Ari dan Bu Ayu sepakat untuk menjual saham Unilever Indonesia pada 30 Desember 2019 saat harga saham 8.400 maka mereka memperoleh Rp420.000.000 atau keuntungan Rp120.000.000 (40%) dari modal awal sejumlah Rp300.000.000.
Jadi secara total Pak Ari dan Bu Ayu memperoleh Rp330.150.000 (sekitar 110% dari investasi awal) dari kepemilikan saham di Unilever Indonesia. Nah, masih ragu untuk investasi di saham? Untuk memulai membuka rekening saham dapat menghubungi perusahaan sekuritas terdekat, tanpa biaya pendaftaran dan potongan administrasi bulanan.
Akhir kata, jenis-jenis investasi sangat beragam mulai dari emas, property produktif (apartemen, kost, ruko, dan lain-lain) hingga financial technology (p2p lending dan crowdfunding). Seluruh informasi dapat diakses secara daring dengan sangat mudah oleh para senior, namun ingat di era digital saat ini sangat banyak informasi yang salah (hoax), terutama terkait investasi atau dikenal dengan investasi bodong.
Maka hendaknya sangat perlu kemampuan senior untuk memilah informasi keuangan (literasi keuangan) yang diterima serta bila diperlukan jangan ragu untuk diskusi dan bertanya dengan keluarga, rekan atau orang yang dapat dipercaya untuk memberikan masukan terkait pengelolaan keuangan dan investasi seperti perencana keuangan tersertifikasi.
Penulis: Dwitya Aribawa, MBA, PhD (Cand.)
Founder & Perencana Keuangan di @uangsehatid #ProteksiTepat #InvestasiSehat #InvestasiSesuaiKaraktermu
Untuk pertanyaan dan diskusi hubungi: +6281933102314 (Whatsapp)