Bernas.id – Akhir-akhir ini, design thinking banyak menjadi perbincangan banyak orang dan perusahaan. Kita mungkin berpikir design thinking adalah istilah yang digunakan oleh para desainer.
Menurut Steve Jobs, desain bukan tentang apa yang dilihat dan dirasakan, melainkan tentang bagaimana desain itu bekerja dan memberikan solusi. Hal itu pula yang berlaku dalam konsep design thinking.
Yah, design thinking tak hanya berlaku di kalangan desainer saja. Faktanya, design thinking juga bisa diterapkan di segala bidang keilmuan, termasuk sastra, seni, musik, sains, teknik, dan bisnis.
Melansir laman Interaction Design Foundation, beberapa merek terkemuka dunia, seperti Apple, Google, Samsung dan General Electric GE, telah dengan cepat mengadopsi pendekatan Design Thinking. Bahkan Design Thinking sedang diajarkan di universitas terkemuka di seluruh dunia, termasuk Stanford, Harvard, dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).
Sebenarnya, apa itu design thinking dan mengapa istilah ini menjadi sangat populer? Berikut informasinya:
Mengenal Design Thinking
Dalam program Kuliah Hak Segala Bangsa (KHSB) yang ditayangkan dalam channel Youtube “Bagi Ilmu”, Dr Rangga Almahendra ST, MM, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) mengatakan design thinking adalah metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang kompleks, khususnya dalam mencari solusi yang efektif dan efisien
Dengan memahami konsep atau metode design thinking, kita bisa berfokus mencari solusi bukan menghabiskan waktu untuk membahas masalah tersebut.
Desain thingking ini akan mengajak kita untuk mencari solusi dengan logika, imajinasi, intuisi, dan penalaran sistematis. Karena itu, kemampuan desain thingking ini juga perlu dimiliki oleh siapa saja.
Bisa dibilang, berpikir desain thingking ini merupakan gabungan cara berpikir rasional dan intuitif. Design Thinking sangat berguna dalam mengatasi masalah yang rumit dengan membingkai ulang masalah tersebut, menciptakan banyak ide dalam sesi brainstorming, dan mengadopsi pendekatan langsung dalam pembuatan prototipe dan pengujian.
Design Thinking juga melibatkan eksperimen yang sedang berlangsung: membuat sketsa, membuat prototipe, menguji, dan mencoba konsep dan ide.
Dr Indrawan Nugroho melalui channel Youtube “Corporate Innovation by CIAS” menceritakan design thinking mulai digunakan dalam berbagai bidang kajian sejak Tim Brown, CEO dari perusahaan konsultan desain ternama AS, menulis artikel berjudul “Design Thinking” dalam Harvard Business Review pads 2008.
Sejak penerbitan artikel tersebut, design thinking pun banyak digunakan sebagai pendekatan inovatif dalam pemecahan permasalahan.
Dalam dunia bisnis, desain thinking juga banyak digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan produk, layanan, proses kerja, dan model bisnis karena terbukti menghasilkan inovasi yang disenangi customer, bersifat out of the box, dan menguntungkan dari sisi bisnis.
Jika dilihat dari asal-usul katanya design thinking memang bisa diartikan sebagai cara atau proses berpikir ala desainer.
Namun, seperti apakah cara berpikir seorang desainer? Menurut Indra, esensi dari aktivitas desain adalah memikirkan cara agar apapun yang kita desain bisa menjadi lebih baik dalam memenuhi kebutuhan penggunanya.
Oleh karena itu, proses inovasi dengan desain thingking disebut dengan human centered atau berpusat pada manusia.
Aspek human centered inilah yang membuat design thinking berbeda dari konsep berpikir lain yang berpusat pada teknologi atau pesaing. Meski demikian, konsep design thinking tidak mengabaikan teknologi dan kondisi pasar. Hanya saja, konsep ini mengutamakan kepuasan customer.
Dalam artikelnya, Tim Brown juga mendefinisikan design thinking adalah pendekatan inovasi dengan cara berpikir dan teknik desainer agar bisa mempertemukan antara kebutuhan customer, peluang bisnis, dan teknologi.
Bentuk praktik design thinking sangat beragam namun selalu didasarkan padan empati, pemikiran yang luas, dan eksperimen.
Pemikiran design thinking selalu diawali dengan empati, yaitu mendalami perspektif, perasaan, dan pengalaman customer untuk memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Kemudian, pencarian solusi dilakukan dengan expansive thinking atau memikirkan ide seluas mungkin untuk menemukan solusi terbaik.
Setelah itu, pemecahan solusi dilakukan dengan uji coba untuk memastikan agar solusi tersebut benar-benar ampuh dalam mengatasi masalah. Tiga hal itulah yang menjadi “nyawa” atau ciri khas design thinking dalam sebuah proses inovasi.
Baca juga: Selain Waseda University, Ini Universitas Terbaik di Jepang
Asal-Mula Design Thingking
Design thinking mulai populer digunakan dalam dunia bisnis sejak akhir tahun 2000an. Namun, konsep desain thingking ini sendiri telah diperkenalkan sebagai pemecahan masalah kreatif sejak awal dekade 1980 an.
Istilah desaign thingking ini berasal dari akademisi seperti Bryan Lawson dan Nigel Cross yang mengamati bagaimana desainer melakukan pemecahan masalah secara berbeda dari para scientist.
Kedua akademisi tersebut melihat bagaimana desainer menciptakan sesuatu yang baru daripada sekadar mengelaborasi solusi yang sudah ada. Mereka juga mengamati bagaimana desainer cenderung mengembangkan solusi secara interaktif dan melibatkan masukan dari kliennya.
Berdasarkan pengamatan tersebut, para akademisi beranggapan bahwa pola pikir para desainer lebih cocok dalam memecahkan masalah di dunia modern yang memang sifatnya lebih kompleks, dinamis, dan ambigu (wicked problem).
Dalam memecahkan wicked problem tersebut, kita tidak bisa mengandalkan solusi linear atau solusi yang sudah ada di masa lalu. Akan tetapi, kita perlu mengembangkan solusi baru yang melibatkan pemahaman mendalam mengenai customer secara interaktif hingga menemukan solusi yang tepat.
Pada 1990-an, design thinking mulai memasuki dunia bisnis. IDEO, perusahaan konsultan desain ternama di AS, merupakan salah satu perusahaan yang sukses menerapkan desain thinking .
Berkat konsep pemikiran tersebut, mereka mampu menghasilkan produk-produk yang sukses di pasar. Kemudian di awal tahun 2000 mulai diterbitkan proses-proses design thinking yang dibakukan oleh berbagai civitas akademika dan praktisi.
Contoh proses design thinking antara lain, desain thinking dengan proses tiga tahap (inspiration, ideation, implementation) besutan IDEO, dan proses 5 tahap design thinking (empathize, define, ideate, prototype, test) ciptaan Universitas Stanford atau stanford design thingking yang saat ini populer digunakan banyak perusahaan.
Baca juga: Inilah 4 Jenis Model Pembelajaran dan Karakteristiknya Lengkap
Proses Design Thinking
Seperti yang disebutkan sebelumnya, praktik design thinking yang banyak digunakan saat ini adalah konsep design thinking besutan Universitas Stanford atau yang kita kenal dengan sebutan stanford design thingking. Stanford design thingking melibatkan lima tahapan (step design thingking), yaitu empathize, define, ideate, prototype dan test. Bagaimana tahapan tersebut bekerja? Berikut informasinya:
1. Empathise
Pada tahapan ini, kita harus melibatkan empati untuk memahami permasalahan yang akan diselesaikan. Hal ini bisa kita lakukan dengan melibatkan konsultasi ahli agar mengetahui lebih lanjut tentang apa yang menjadi perhatian agar memperoleh pemahaman pribadi yang lebih dalam tentang masalah yang ada.
Empati sangat penting untuk mengumpulkan informasi, yang nantinya bisa digunakan untuk menghasilkan produk bernilai human centered atau sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dihadapi manusia.
2. Define
Pada fase define design thinking ini, informasi yang kita dapat pada tahap emphasize bisa kita gunakan untuk mengidentifikasi masalah inti. Jadi, kita harus berusaha mendefinisikan masalah dengan cara yang berpusat pada manusia, dibandingkan mendefinisikan masalah sebagai keinginan pribadi atau kebutuhan perusahaan.
Tahap define akan membantu kita mengumpulkan ide-ide hebat untuk membangun fitur, fungsi, dan elemen lain yang memungkinkan kita memecahkan masalah atau, paling tidak, memungkinkan pengguna untuk menyelesaikan masalah sendiri dengan tingkat kesulitan yang minimal.
3. Ideation
Di tahapan ini kita akan mencoba menggali ide untuk dengan berbagai cara untuk menghasilkan pemikiran yang luas dan out of the box.
Pada fase ini, kita harus mendapatkan ide sebanyak-banyaknya agar bisa menemukan solusi terbaik dan mampu menemukan cara untuk menghindari masalah yang sama di kemudian hari.
4. Prototype
Pada tahap ini kita akan membuat produk yang digunakan untuk menyelesaikan masalah. Produk tersebut kemudian diuji di dalam tim atau sekelompok kecil orang di luar.
Setelah diuji, kita harus memastikan apakah produk tersebut benar-benar membantu dalam pemecahan masalah. Kemudian di akhir tahap ini, kita perlu menciptakan ide terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada pada produk dan memiliki pandangan yang jelas tentang bagaimana produk tersebut akan digunakan.
5. Test
Pada fase ini, diperlukan adanya evaluasi mendalam untuk melakukan pengujian ketat terhadap produk akhir. Bahkan selama fase ini, kita juga perlu melakukan perubahan dan penyempurnaan agar kendala yang ada bisa teratasi dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang produk beserta penggunanya.
Lima fase atau tahapan tersebut tidak selalu harus kita praktikan secara berurutan. Tahapan tersebut juga bisa terjadi secara paralel dan berulang.
Karena itu, kita tidak boleh memahami tahapan tersebut sebagai proses hirarki. Sebaliknya, kita harus melihatnya sebagai tahapan yang berkontribusi pada proyek inovatif, bukan langkah berurutan.
Nah, itulah beberapa hal yang harus kita pahami mengenai design thinking. Dengan memahami konsep tersebut, kita bisa menggunakannya dalam memecahkan masalah yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
