HarianBernas.com – Dilahirkan dari keluarga yang sederhana, Idris Gautama So, SKom, SE, MM, MBA, PhD sudah menekuni dunia pendidikan tinggi lebih dari 25 tahun. Mottonya adalah memulai sesuatu boleh 80%, tapi hasilnya harus di atas 100%.
Jabatan yang pernah diemban Dekan School of Business Management, Ketua Jurusan (Program Studi), koordinator Bidang Ilmu, baik sebagai pengajar pada program Strata-1, Strata-2, dan Strata-3 maupun sebagai instruktur untuk program profesi. ?Saya sekarang di bidang pendidikan tinggi, pelatihan untuk profesional, penulis, dan pelaku e-bisnis. Saat ini saya adalah Wakil Rektor Binus University bidang Global Employability dan Entrepreneurship,? ungkapnya ke Harian Bernas (29/11).
Peraih PhD dari Universiti Sains Malaysia ini menceritakan pengalaman uniknya sehingga menjadi seperti sekarang ini. ?Sebelumnya saya bekerja untuk konglomerat di Indonesia yang memiliki banyak perusahaan termasuk di luar negeri. Pada saat yang sama, di hari Sabtu, saya mengajar untuk perguruan tinggi. Saat di konglomerasi, saya sudah di posisi senior management, tapi saya merasa kontribusi saya kurang untuk orang banyak, padahal saya merasa walaupun terbatas, tapi memiliki pengetahuan yang bila saya share akan bermanfaat bagi generasi muda bangsa Indonesia. Bila generasi mudanya hebat maka negara kita akan hebat juga. Nah saat itulah dengan restu orang tua dan keluarga, saya memutuskan untuk berkiprah seperti sekarang ini,? urainya.
Penyandang gelar MBA dari Philippines School of Business Administration ini pun mengungkapkan pengalamannya yang berkesan dalam pekerjaannya. ?Saya sebagai Wakil Rektor baru satu bulan sejak 15 November 2016. Sebelumnya saya adalah dekan sekolah bisnis dan manajemen Binus. Sebagai Wakil Rektor, tugas saya adalah meyakinkan bahwa dua dari tiga lulusan Binus bekerja di perusahaan global atau menjadi entrepreneur. Jadi, peran saya yang baru mengharuskan saya behubungan erat dengan industri, LSM kita dan asing, Pemerintah kita dan asing, dan UKM. Ke semuanya untuk berbagai sektor. Peran ini, menurut saya penting, menarik dan menantang,? jelasnya.
Sarjana Komunikasi ini menceritakan tentang permasalahan yang sering dihadapinya di bidang pekerjaannya. ?Yang banyak saya hadapi adalah bagaimana persepsi dan kooordinasi bisa dilakukan dengan efisien dan efektif. Saya selalu melihat permasalahan sebagai tantangan. Menghadapi tantangan harus dilihat ukuran tantangannya. Bila kecil, langsung diselesaikan. Bila agak besar, perlu inovasi. Bila besar maka dipilah pilah dan dibagi menjadi bagian-bagian yang diselesaikan berdasarkan prioritas. Tentunya, kesemuanya tidak melupakan inovasi dalam penyelesaiannya,? ucapnya.
Alumni Binus University ini memaparkan tantangan dalam pekerjaannya ke depan. ?Tantangan yang besar adalah bagaimana memastikan dari tiga lulusan Binus University bisa bekerja di perusahaan global atau menjadi entrepreneur dan juga menyalurkan mahasiswa Binus bisa internship di berbagai tempat. Hal ini tentunya harus disikapi dengan melakukan banyak kegiatan inovatif termasuk tidak terbatas pada pembuatan kegiatan yang melibatkan industri, Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas terkait, lalu menjaga silaturahim dengan partner yang sudah ada dan meminta partner yang ada merekomendasikan rekanannya serta juga mendekati pihak terkait yang belum menjadi partner,? paparnya.
Ketika ditanya apakah bidang pekerjaan yang ditekuni ini penting dilakukan dan dibagikan ke masyarakat, Sarjana Ekonomi ini menjawab penting. ?Ya sangat penting karena negara kita memerlukan entrepreneur sebesar dua persen (2%) untuk dapat disebut negara maju, padahal saat ini, masih jauh dari angka tersebut. Tingkat pengangguran di negara kita masih cukup besar sehingga sebagai perguruan tinggi, kami tidak ingin menciptakan pengangguran intelek. Nah, itulah mengapa kami selalu memperhatikan tingkat employabilitas dan entrepreneur lulusan sehingga bisa berkontribusi bagi bangsa dan negara kita,? jawabnya.
Magister Management ini pun menceritakan tentang kebiasaan yang dibangunnya untuk mendukung bidang profesinya. ?Kebiasaan yang saya bangun adalah kedisiplinan, membangun hubungan yang saling menghormati dan memberi nilai tambah, dan tidak mencari alasan atas ketidakcapaian, tapi bertanya mengapa tidak tercapai, bagaimana supaya bisa lebih baik. Ini dapat dilihat dari keterlibatan saya sebagai pengurus di beberapa organisasi, baik nasional maupun internasional, serta beberapa prestasi selama memimpin sekolah manajemen dan bisnis di Binus University,? katanya menerangkan.
Dosen Nasional bersertifikasi dari Universitas Indonesia ini pun membagikan inspirasinya. ?Sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa dalam hidup ini kalau kita melakukan segala sesuatu hanya untuk diri kita sendiri maka maknanya jauh berbeda kalau kita melakukan segala sesuatu untuk orang banyak termasuk diri kita. Demikian juga, kalau kita melakukan bisnis, bila kita memberi nilai tambah atau menciptakan manfaat bagi orang banyak, misalnya menyelesaikan masalah keterbatasan waktu orang makan siang dengan menyediakan fast-food, menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, yang membantu peserta lebih mudah mendapat pekerjaan dan memiliki masa depan yang lebih baik, dll maka customer akan datang ke kita. Akibat dari kita melakukan hal yang bermanfaat tersebut, di akhir kita akan menikmati selisih biaya dan harga berupa surplus dalam rupiah. Bayangkan bila kita hanya memikirkan diri sendiri atau berencana mencari keuntungan semata sehingga para pihak luar melihat tidak ada atau sangat minimnya manfaat yang mereka dapati maka keberhasilan bisnis tersebut bisa sangat minim, bahkan negatif. Kita lihat bahwa orang-orang besar/ perusahaan-perusahaan besar adalah mereka yang berhasil menciptakan nilai bagi orang banyak. Sebaliknya, banyak orang yang secara materi cukup berhasil, tapi kesuksesan materi tersebut tidak membuat mereka bahagia, mengapa? Salah satunya karena mereka akan merasa tidak cukup dan merasa kehampaan dalam hidup. Maka dari itu, saya selalu menyarankan melakukan ha-hal yg bermanfaat dan memberi nilai tambah untuk tidak hanya diri sendiri, tapi orang banyak termasuk lingkungan,? tuturnya panjang.
Pencapaian yang paling membanggakan baginya adalah saat menyelesaikan pendidikan S3 dan diwisuda oleh Raja selaku Chancellor alias Rektor dari universitas tempat saya kuliah. Berkesan karena S3 berbasis riset mengakibatkan saya harus banyak konsentrasi dan kuliah mandiri, lalu belajar lagi dari beberapa pihak yang saya anggap ahli, serta usia yang sudah kepala empat.
Project yang sedang dipersiapkan adalah bagaimana agar lulusan perguruan tinggi bisa relevan dan bisa bekerja, berkarya, dan berwirausaha. Untuk itu, kegiatan yang harus dilakukan adalah memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk internship atau mencoba berwira usaha.
Untuk impian ke depan, pengagum Enstein ini tetap ingin berkontribusi buat orang banyak termasuk di pendidikan. ?Karena banyak berkecimpung di entrepreneurship, saya juga ingin berkobtribusi dalam pembinaan pembentukan wirausaha dan bila memerlukan role model keberhasilan ini maka saya juga akan terlibat di dalam pengembangan entrepreneurship tersebut. Saya ingin agar walaupun terbatas saya memberikan kontribusi dalam peranan mengembangkan entrepreneurship agar negara kita bisa dikategorikan sebagai negara maju,? pungkasnya.
