HarianBernas.com – Marizna menekuni bisnis oleh-oleh dan camilan bakpia dan pia terinspirasi dari Mamanya yang hobi les kue. Waktu itu, Rizna juga ingin mencoba les bakpia di antara tahun 2002-2003. ?Di daerah Pathuk, ada yang buka kursus dan les buat bakpia yang murah dan belajar dari nol. Ketika itu, cuma seratus ribu. Berdua dengan saudara lalu ikut les bakpia. Kenapa ingin les bakpia? Karena semua orang yang ke Jogja, selain gudeg, oleh-olehnya itu bakpia dan dulu itu pernah punya langganan toko bakpia di Jogja yang setiap hari Minggu pasti habis bakpianya. Kenapa tidak mencoba bisnis bakpia,? ungkapnya kepada Harian Bernas (12/10).
Dengan Mamanya, akhirnya Rizna membuat bakpia. Awal merintis bisnisnya, bakpia pesanan hanya dibungkus dus putih snack pada umumnya. ?Sebenarnya, di resep yang standar itu sudah oke, tapi hanya perlu ditambah formula sehingga membuat lebih baik lagi. Kita melakukan itu, misal ditambah mentega,? katanya bercerita di awal merintis bisnis bakpia.
Rizna akhirnya membuka bisnis bakpia dengan nama awal Bakpia Pathuk Jogja. ?Jualan untuk pertama kalinya, buka di teras sebuah rumah keluarga dari pihak Bapak yang tidak dipakai di Sosromenduran, Jalan Dagen. Beberapa bulan kemudian, di Jalan Dagen itu, kebetulan ada orang yang oper kontrak. Akhirnya, kita pakai rumah itu dengan ukuran 3 x 5 meter. Di kontrakan itu, juga mencoba bisnis bakpia dengan juga menjual oleh-oleh lain dengan sistem konsinyasi karena belum percaya diri untuk tampil. Jalan Dagen itu merupakan nol kilometer atau tengahnya Malioboro sehingga membuat bisnis ramai,? tuturnya.
Seiring waktu, Rizna akhirnya memberi nama produk bakpianya lagi dengan Bakpia Jogja dengan meng-create produk baru, yaitu pia yang meski belum sempurna di awal. Di tengah perjalanan, produk pia sempat terhenti karena tidak terlalu laku. Jarang peminat. Beberapa ada orang suka dan tidak. Pia awalnya ini bertekstur keras dan kering. Masih sangat mencoba. ?Ketika pameran di Jakarta, pertengahan tahun 2005, ada orang yang menanyakan, ?Itu Pianya mana?? Ternyata masih ada yang tanya. Masih ada yang cari. Artinya, masih ada yang perlu disempurnakan lagi. Mungkin kebanyakan tepungnya. Kita lalu coba sempurnakan. Kini, pia ini boleh dibilang sebagai pia blasteran karena ada isinya, topingnya, dan bentuknya yang berbeda. Tahun 2005 akhir, melakukan pameran produk pia di terasnya Jogja Expo Center (JEC) dan di tahun 2006, kita diikutkan di Pangan Nusa yang pertama, lalu dibantu dan direkomendasi untuk akses ke penjualan retail secara modern di salah satu supermarket terbesar di beberapa kota Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang. Penjualannya lumayan bagus. Berusaha keras untuk mengembangkan usaha ini,? urainya.
Tahun 2010, setelah cabang di luar ditutup karena di Jogja itu masih banyak orang yang belum kenal Pia produksinya, Rizna merasa harus kenalan dulu karena secara berdomisili di Jogja. Ia juga mulai mengganti nama secara pelan-pelan yaitu menjadi Bakpiapia karena memudahkan penyebutan. ?Kan kalau pameran nyebutnya ?Bakpia Jogja…Bakpia Jogja? kan terlalu panjang, lalu diganti menjadi Bakpiapia. Tahun 2011, memulai manajemen profesional. Kita bukan hanya mengurus semuanya sendiri, ada HRD, Accounting, dan produksi sendiri. Di Jogja, sudah ada tujuh cabang,?ungkapnya.
Penerima Entrepreneur Award on Innovation tahun 2010 ini memaparkan pengalaman uniknya di bisnis bakpia. ?Kalau misalnya pameran. Kita itu paling banyak disebut sebagai Bakpiapia yang paling sering ikut pameran. Karena memang salah satu strategi untuk mengenalkan produk kita. Ikut banyak pameran mulai dari 2005. Di pameran, kita bisa bertemu costumer langsung, mereka bisa langsung mencicipi secara langsung. Menurut kita lebih efektif dan maksimal untuk mengenalkan produk dan program kita sehingga orang menjadi semakin tahu,? terangnya.
Penerima UKM Pangan Award tahun 2011 ini menyebut orang Jogja itu kalau ditawarin bakpia saat pameran, jawabannya pasti ?Aku itu wong Jogja kok Mas dan Mbak?. Kebanyakan dan dominan di masyarakat Jogja itu, bakpia itu hanya dianggap sebagai oleh-oleh, bukan camilan. ?Kalau bukan oleh-oleh, ya tidak beli bakpia. Kalau ada tamu, nanti tak ambil di sini. Sejak saat itu, Bakpia produk kita ini bukan untuk hanya oleh-oleh, tapi camilan. Lebih menyasar ke kalangan mahasiswa karena mereka suka ngemil dengan kemasan yang kecil/ukuran snack,? bebernya.
Best Entrepreneur BII dan Sindo tahun 2012 ini juga menceritakan kejadian tak terlupakannya ketika baru membuka bisnis bakpia di Jalan Dagen. ?Ada rombongan dari Binus Jakarta yang mau beli bakpia. Hitungannya masih baru, ada pesanan banyak, yaitu 42 dus. Kalau tidak diambil sayang, tapi bagaimana ya produksi kita, SDM masih terbatas. Karena tidak terkejar poroduksinya di Jogja, harus mengejar dan mengantar sampai Magelang. Akhirnya, minta tolong salah satu temenku yang buat bakpia untuk dibeli bakpianya, tapi memakai dus dari saya. Kalau tidak ada hubungan pertemanan, tidak akan dikasih,? ceritanya saat dulu masih merintis bisnis bakpia.
Bisnis bakpianya ini dilakukan karena hobi. Karena juga senang, bila ada masalah, bisa menghadapi itu.?Saat ini, terus melakukan prepare untuk perkembangan produk di dalam dan luar negeri. Mulai tahun 2014, ikut pameran di Kuala Lumpur dan Kinabalu Malaysia, China, Hongkong, Jepang, dan Australia,? tukasnya.
Tantangan di bisnis Bakpiapia, produknya ingin bisa diterima tidak hanya di dalam negeri, tetapi di luar negeri. ?Prepare lagi untuk itu. Kapasitas produksi ditingkatkan. Mempertahankan Bakpiapia tetap seperti ini misal rasa, bentuk, dan tetap bisa bermanfaat bagi orang banyak. Sudah 12 tahun, dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menghasilkan sesuatu yang inovatif dan berbeda. Bertahan untuk menjadi inovatif lagi dan lebih bisa berkarya lagi, misal dalam setahun, kita itu ada create produk misal bakpia tuna, bakpia ayam geprek, lalu kayak kita lagi prepare di Bali, yaitu bakpia ayam betutu. Pengembangan produk,? paparnya.
Kebiasaan yang dibangun untuk mendukung bisnisnya, ia menjawab inovasi memang diperlukan. ?Tetap fokus. Apa sih yang mau kita create. Untuk kompetitor, untuk bakpia, kita punya sesuatu yang berbeda dan unik. Mereka punya pemasaran sendiri, kita miliki pemasaran yang berbeda. Warna outlet kita, kuning coklat karena memang warna awal dari bisnis kita,? katanya.
Yang memiliki peran dalam bisnis bakpia ini, penerima Inspiring Woman of Nova Magazine Award untuk kategori Women and Entrepreneur di tahun 2012 ini menjawab bahwa semua dilakukan bareng-bareng, kebetulan ada mama selaku komisaris, adiknya selaku GM. ?Dukungan dalam bentuk ide. Kita benar-benar coba berpikir untuk ide itu ke depannya bagaimana. Apa yang mau kita lakukan dengan ide itu. Kalau memang bagus, oke kita terapkan,? jelasnya.
Finalist of Woman Entrepreneur Femina Mandiri tahun 2012 ini pun membagikan inspirasinya. ?Tetap fokus. Ketika mulai bisnis, modal itu jangan dijadikan sebagai suatu kendala, kenapa karena kita itu sebenarnya bisa melakukan suatu usaha dan bekreasi dengan apa yang kita miliki. Awalnya, kita tidak memiliki alat yang banyak. Dulu kita itu hanya punya mixer yang ada. Sekarang punya kumbu (alat pengaduk isi bakpia) yang otomatis. Dulu masih pakai penggorengan, ngaduk isi bakpia tidak boleh putus sehingga harus bergantian dengan Ibu. Untuk bikin kulit bakpia, pakai mixer dan untuk menjadi kalis itu, harus pakai tangan. Memberdayakan apa yang kita punya. Kalau bisnis bisa berkembang, menghasilkan sesuatu atau laba. Dari situ, kita bisa membeli sesuatu untuk mendukung bisnis. Pertama kali, kita beli alat kumbu itu,? bebernya tentang tips memulai bisnis.
Winner of Ten Outstanding Young Person di kategori Humanitarian tahun 2013 ini membeberkan pencapaian yang paling membanggakannya, yaitu ketika ada orang yang mengatakan bakpianya itu enak, lalu menceritakan kepada orang lain. Ia sudah angkat topi untuk itu.
