HarianBernas.com – Putu Dessy Fridayanthi, ST, M.IKom atau akrab dipanggil Ecy mulai menekuni bidang pekerjaan di dunia broadcasting sebagai penyiar radio ketika kelas tiga SMA. Mengawali karirnya sebagai penyiar radio bukan karena diarahkan orangtua meski latar belakang keluarganya sebagai penyiar radio. “Menjadi penyiar radio tidak bisa memiliki kehidupan yang berkualitas. Kalau sekedar hobi, okelah,” papar penyuka meditasi tentang tanggapan keluarganya ketika itu.
Namun, ketika SMA, setiap Jumat sore, ia sering mengantarkan dan menunggui Ibunya untuk menjadi narasumber di salah satu stasiun radio selama satu jam di Denpasar karena profesi Ibunya menjadi seorang PR dari sebuah supermarket di Bali. Saat itu, Ecy mulai tertarik pada dunia broadcasting. “Karena setiap minggunya sering menunggu beliau siaran, melihat bisa berinteraksi dengan para pendengarnya, dan muterin lagu yang memang membuat beliau menjadi enjoy dan happy seperti itu, enak juga ya menjalani profesi ini. Yang nggak kebayang saya, untuk berbicaranya. Apa saya bisa ya untuk ngomong kalimat yang panjang tanpa naskah. Itu kayaknya imposible buat saya karena saya tipenya bukan orang yang banyak ngomong waktu itu,” urainya merasa tidak bisa dan tidak berbakat.
Baca juga: Inilah 10 Sekolah Penerbangan Terbaik yang Ada di Indonesia
Kebetulan, stasiun manajer radio itu adalah teman Ibunya sehingga ia ditawari untuk training dan magang. Ia sempat berpikir tidak bisa dan tidak ada bakat, tapi manajer itu berkata training itu tidak harus ngomong dulu, tapi perkenalan alat dulu. “Saya berperan sebagai operator musik dulu. Kata Mami, selama bisa atur waktu dan tidak mengganggu jam pelajaran kami, oke. Karena sudah terampil mengoperasikan alat siaran, baru boleh bicara. Waktu itu, saya punya kamus ajaib atau notes, saya tulis kata per kata setiap kali siaran. Apa yang saya harus ucapkan, saya belajar dari beliau. Awalnya masih nulis dulu, lalu saya bacakan ketika on air. Karena sudah terbiasa, tidak perlu naskah,” jelasnya ketika memulai proses menjadi penyiar radio.
Untuk itu, pemilik cita-cita masa kecil ingin menjadi astronot ini tak melupakan sosok Tuhan yang Maha Esa karena atas ijinnya bisa berada di banyak posisi dan profesi ini. Selain banyak guru di sekelilingnya, Ecy juga tak mungkin memungkiri peran Ibunya, Santy Sastra yang memang seorang public speaker dan pakar hipnosis. “Dulunya, pernah bekerja sebagai penyiar radio dan mc. Yang memang mengajarkan saya sejak kecil. Dari nol, saya belajar atas didikan beliau, arahan beliau, dan atas masukan-masukan yang positif sehingga saya terus berkembang sampai saat ini. Jadi, karena punya guru langsung yang bisa ditiru setiap harinya, membuat saya menjadi bisa lebih cepat untuk memperbaiki kesalahan yang saya lakukan dan menjadi lebih baik di profesi saya ini. Sampai saat ini pun, masih banyak memberikan ilmu-ilmunya kepada saya agar bisa dibagikan kepada banyak orang,” tuturnya.
Penerima penghargaan Presenter Pembawa Acara Dialog Terbaik KPID Award Bali 2012 memiliki pengalaman unik di pekerjaannya sebagai dosen. “Saya sempat ketika baru mengajar sebagai dosen, saya disangka mahasiswa. Mereka tidak tahu karena dosen baru. Penampilan saya kayaknya paling muda di antara dosen-dosen yang lain sehingga tidak menyangka yang diajak bicara dosennya sendiri. Ada yang manggil saya kakak.’Kakak semester berapa dan kuliah di fakultas apa?’. Saya bilang,’Mengajar di fakultas bahasa semester lima.’ Mereka langsung malu berkata ‘Maaf Bu, saya pikir masih kuliah.’ Happy sih secara dari penampilan nggak jauh beda dengan mereka. Ada mahasiswa dengan cueknya dan kurang sopan menepuk saya, dia menanyakan seorang dosen untuk meminta tanda tangan di sebuah ruangan, tapi cara bertanya lebih ke cara bertanya kepada teman mahasiswa. Awal-awal mengajar sering terjadi,” jelasnya.
Baca juga: Jurusan IT: Pengertian, Mata Kuliah, dan Prospek Kerja Terbaru
Pengagum James Gwee ini pun memaparkan permasalahan yang sering dihadapinya, yaitu pengaturan waktu atau schedule yang sering terbentur atau bentrok. “Saya selalu menggunakan skala prioritas, mana yang lebih penting, mana yang terlebih dahulu membuat appointmen dengan saya, dan mana yang lebih mendesak harus dilakukan. Sejak kecil sudah terbiasa dengan banyak aktivitas sehingga lebih mudah mengatasi masalah terkait jadwal saya. Setiap hari, saya selalu membuat jadwal untuk satu atau dua bulan ke depan. Disiasati jauh-jauh hari,” tukasnya.
Mantan presenter acara Citra Remaja TVRI Denpasar ini juga memaparkan tantangan di dunia broadcaster dan entertainer. “Hadirnya para generasi baru sebagai mc dan penyiar. Yang mau tidak mau, terpacu untuk mengisi value diri. Ketika seseorang berkualitas, saat muncul new comer, mereka bisa melihat perbedaannya. Untuk menyiasati tantangan pendatang baru ini, mengikuti kursus-kursus, workshop-workshop, dan menambah skill di bidang lain sehingga mempunyai ciri khas dan kelebihan pada pribadi saya. Orang akhirnya tambah yakin dan percaya sehingga tetap memercayai saya sebagai mc, persenter, moderator, atau pembicara di perusahaan-perusahaan tempar mereka bekerja,” terangnya untuk penting mengisi diri.
Menurut mantan penyiar Radio Pro 2 FM Bali ini profesi sebagai mc, penyiar, atau presenter sangat penting untuk mereka dalam arti menyukseskan acara yang mereka bawakan. “Seorang mc adalah image dari suatu acara. Ketika seorang mc dapat membawakan acaranya secara profesional dari segi penampilan dan teknik membawakan acara, dapat mengangkat nilai atau value perusahaan tersebut. Saat menjadi presenter, orang menjadi lebih percaya dengan topik yang saya bawakan dan tertarik karena saya mengisi diri terlebih dahulu sebelum melakukan dialog atau wawancara dengan topik terkait sehingga pertanyaan bisa meluas dan bermanfaat,” bebernya.
Baca juga: 10 Universitas Jurusan Perhotelan Terbaik dan Unggul di Indonesia
Selain itu, sebagai dosen/public speaker, ia bisa memberikan dan membagikan skill kepada mahasiswa atau masyarakat yang mengundang saya. “Skill ini akan sangat berguna ketika bisa mempraktekannya di dalam kehidupan atau profesi yang mereka lakoni. Itu nilainya akan sangat berbeda daripada sekedar teori dan praktek yang sesaat. Kebanyakan yang saya ajar dari sisi komunikasi. Skill dalam komunikasi tidak mengenal profesi. Siapapun dia penting sekali untuk bisa memiliki skill komunikasi yang baik. Sebagai awal menunjukkan pribadi mereka yang sebenarnya,” paparnya.
Juara 1 News Presenter SCTV Goes To Campus I tahun 2003 ini pun memiliki ajakan untuk bisa selalu fokus dengan apa yang kita inginkan dan apa yang kita tuju. “Jangan fokus pada kekhawatiran-kekhawatiran. Saya sangat percaya sekali hukum Law of Attraction. Hukum itu mutlak dan memang ada. Ratusan kali saya praktekkan dan terbukti dalam hidup saya. Ketika ingin mencapai sesuatu, saya yakinkan diri saya bahwa saya akan dapat mencapainya. Saya mempunyai gambaran yang nyata tentang apa yang saya raih dan saya yakini itu telah teraih.”
Baca juga: 10 Universitas Negeri dan Swasta di Bandung serta Jurusannya
Rencana terdekat Juara 1 Ratu Big Sale Koran NUSA ini melanjutkan kuliah S3 Komunikasi, Universitas Padjajaran Bandung dan kursus bahasa. “Kursus bahasa tidak hanya bahasa internasional, tapi mengambil kursus bahasa mandarin karena banyak sekali permintaan dari klien untuk event-event berbahasa mandarin, tapi sering saya lepas,” katanya.
Impian terbesar penyuka hobi membaca ini adalah meraih financial freedom. “Bebas dari segala kewajiban-kewajiban membayar setiap bulannya. Selain itu, punya bisnis, yang mana bisnis itu bekerja untuk saya. Money work for me, not i work for collecting money. Saya sedang melangkah dan mempersiapkan ke sana,” jelasnya.
Quote yang bisa membuat Ecy menyadari bahwa hidup itu ya memang seperti itu dan bisa menerima apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah Anicca. Artinya, tidak ada yang kekal/abadi. Satu hal yang abadi di dunia adalah perubahan. “Ketika memahami makna ini, membuat kita menjadi sedikit kecewa, sedikit sakit hati, sedikit marah, bahkan tidak sama sekali karena kita paham, ya memang begitu. Semoga semua hidup berbahagia.”
Baca juga: 14 Universitas Jurusan Teknik Informatika Terbaik di Indonesia
