HarianBernas.com – Bagus Cahyono selain menjadi General Manager (GM) di PT Bimasakti Multi Sinergi, juga menekuni bisnis di LBB (lembaga Bimbingan Belajar) Prisma kalkulator tangan, kemudian memulai bisnis Best Media.
?Best Media sudah banyak dikenal untuk perusahaan nasional dan mulai menggunakan Best Media untuk alat promosinya. Mengajar di beberapa kampus dan menjadi konsultan bisnis,? terangnya tentang kegiatannya sehari-hari.
Dalam menjalankan semua bisnis itu, ia sangat menonjolkan passion untuk berbisnis apapun karena passion adalah awal melakukan usaha. Dalam membuka bisnis, ternyata tidak hanya cukup modal uang dan ilmu yang pas-pasan. Banyak hal yang harus dipelajari dahulu, misal manajemen human resources, manajemen keuangan, manajemen produk, dan masih banyak lagi yang harus ditata satu demi satu. ?Dalam pekerjaan atau bisnis, harus open mindset. Jangan sampai melihat sesuatu dari satu sudut pandang apalagi seorang marketing. Harus menilai dari banyak sudut atau sisi. Apapun yang kita kerjakan tanpa passion, juga akan berat melakukannya. Trust your crazy idea,? ungkapnya.
Tahun 2009 akhir, GM untuk bisnis Fastpay di PT Bimasakti Multi Sinergi ini memulai karirnya dengan bekerja sebagai logistik dan merangkap office boy selama satu tahun setelah empat kali lebih gagal berwirausaha di bidang pertanian dan pupuk. Namun, karena dinilai mahir dalam marketing dan IT System, pada tahun 2011 awal, ia menjadi staf marketing dengan dua marketing lainnya. Saat itu, belum menjual produk secara nasional dan masih door to door. ?Saat itu, saya membuat sistem yang berhasil mendongkrak pendapatan PT Bimasakti Multi Sinergi. Saat itu, saya melakukan sistem data base, kemudian mempromosikan dengan berbagai cara. Dari 2000 outlet, terjadi peningkatan menjadi 20000 outlet di seluruh Indonesia dalam setahun. Tahun 2011 akhir, diangkat menjadi salah satu account manager di marketing,?paparnya.
Dari account manager, ia diangkat menjadi manajer pada tahun 2012 dan saat itu sudah 38000 outlet di Indonesia dengan jumlah transaksi yang tinggi. Tahun 2014, Bima Sakti melampaui jumlah member yang terbanyak, yaitu tujuh puluh ribu. ?Saya didedikasikan menjadi manajer di PT Bima Sakti Multi Sinergi. Pengembangan bisnis di PT Bima Sakti, saya kemas menjadi suatu bisnis yang unik mempunyai UVP (Unique Value Preposition). Banyak menggandeng motivator dan pebisnis untuk menjadi mentor atau coach sehingga ada upgrade ilmu/knowledge yang meningkat tajam,?ucapnya.
Suami dari Any Marganingsih ini memiliki cara unik tersendiri untuk siapapun yang bekerja di lingkup pekerjaannya. ?Apresiasi terhadap siapapun di lingkungan kerja harus diutamakan,misal ulang tahun setiap karyawan harus kita rayakan, doakan, dan beri surprise. Akan menjadi apresiasi yang tidak akan terlupakan.?
Selain cara unik, ia pun memiliki pengalaman unik saat menekuni bidang pekerjannya. ?Banyak perusahaan yang belum tahu kita menyepelekan kita. Saya pernah bertemu di beberapa perusahaan hanya dipandang sebelah mata karena memang tipikal tim saya, bahkan owner Bima Sakti, saya pribadi, tampilannya sederhana, tampilan wong ndeso. Di Jakarta, tampilan wong ndeso ini mungkin terlalu absurd sehingga banyak sekali ditolak saat mengajukan penawaran. Tetapi dalam jangka waktu satu tahun, mereka malah mengajukan kerjasama dengan kita. Ketemunya saya lagi, mereka kaget. Mungkin kejadiannya sudah ratusan kali kejadian seperti ini,?bebernya.
Ayah dari Hatala Ezra Athiyyallah Cahyono ini pun menerangkan alasan menekuni bidang pekerjaannya sampai sekarang ini. ?Saya menekuni bidang digitalisasi dan pendidikan karena merupakan passion saya dan juga dunia digital mempunyai tantangan yang sangat tinggi karena hampir setiap menit dunia digital ada perkembangan. Selain dunia digital, dunia pendidikan merupakan panggilan dari hati saya dan juga melanjutkan pengabdian bapak saya yang sudah mengabdi di dunia pendidikan selama 40 tahun lebih.?
CEO Best Media Promotion ini pun menceritakan permasalahan yang paling sering dihadapi dan menyikapinya. ?Sangat kurangnya masyarakat Indonesia mendapatkan edukasi dunia digital. Jika kita akan membuat produk digital, harus selalu diawali dengan edukasi sehingga harus melalui suatu proses yang agak panjang walaupun produk yang kita keluarkan mempunyai kualitas yang sangat baik. Harus extra effort di customer service.?
Cara menyikapinya adalah menggunakan Winning Education. ?Winning Education adalah semacam sekolah bisnis yang kami buat sesuai dengan passion per grup member. “Winning Education” inilah salah satu key succes kami di sentra bisnis Fastpay sehingga sampai 93.000 outlet di seluruh Indonesia dan kami juga terapkan di Lembaga Bimbingan Prisma sehingga menjadi 54 Cabang dengan jumlah siswa lebih dari 20.000,?jelasnya.
Ia pun menyinggung tantangan yang dihadapi saat ini dan langkah menyikapinya.?Pertama diri saya sendiri, yaitu menjaga semangat belajar dan mengimplementasikan hasil pembelajaran itu. Selain itu, membuat tim yang solid, dan menjadi tipikal pebisnis Indonesia yang ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), meniru produk terbaik, lalu memperbaiki kekurangannya sehingga akan menjadi kompetitor yang strong,? tukasnya.
Cara menyikapi tantangan itu, ia selalu update, baik via online maupun via offline.?Saya selalu melihat trend market yang berkembang di manapun tempatnya, bahkan trend negara berkembang maupun maju. Untuk tantangan kedua saya selalu membuat suatu aturan yang unique bagi team saya dan bersifat educate. Contohnya dalam team saya yg telat datang di kantor akan membuatkan kopi dan teh bagi semua team bisnis satu ruangan dan juga reward khusus non dari perusahaan yang selalu saya berikan setiap bulannya,?tuturnya.
Pria kelahiran Pati ini pun mengungkapkan bidang yang digelutinya ini penting dilakukan dan dibagikan kepada masyarakat. ?Semua bidang yang saya lakukan adalah sangat penting di masyarakat karena suatu bisnis yang dijalankan harus bermanfaat terhadap masyarakat. Tanpa mempunyai manfaat, bisnis atau usaha apapun saya jamin pasti tidak akan bertahan lama. Misalkan dunia pembayaran online, masyarakat kita masih sangat awam dengan dunia digital. Saya lihat dari data internal kami, hampir 10 juta orang di Indonesia membayar tagihan bulanan mereka (PLN, BPJS Kesehatan, Telepon, Angsuran-angsuran bulanan, dan 300 pembayaran tagihan lainnya melalui outlet kami di sentra Bisnis Fastpay,?paparnya.
Ketua ADEI Jawa Timur ini pun membeberkan habit yang banyak ditanamkannya, baik di internal timnya maupun di eksternal. ?Jangan pernah takut membuat ide gila. Belajarlah untuk selalu mengawal prosesnya dengan cara yang benar. Edukasilah internal atupun customer seperti mengedukasi anak kita. Jangan pernah memandang sebelah mata untuk loyal customer. Loyal customer mempunyai value yang lebih besar dari pada new customer. Customer pun bukan hanya pembeli produk kita, tapi anak buah dan tim kita di kantor pun adalah customer kita,?urainya dengan yakin.
