BERNAS.ID – Berbagai upaya dipilih untuk menyelamatkan perusahaan maskapai nasional Garuda Indonesia yang terancam bangkrut.
Yang terbaru, manajemen meyakini restrukturisasi melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sebagai jalan keluar atas kemelut yang terjadi.
Lilitan utang dan kerugian akibat sejumlah kesepakatan dengan para lessor atau pemberi sewa pesawat dinilai sebagai salah satu biang keladinya. Di sisi lain, pandemi Covid-19 juga membuat bisnis penerbangan begitu terpukul.
Pada awal pekan ini, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk Irfan Setiaputra mengungkap kebijakan social distancing karena wabah virus telah menggerogoti pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Garuda Indonesia: Pilih Opsi Restrukturisasi hingga Tak Ingin Menzalimi Karyawan
Sebagai informasi, social distancing adalah jaga jarak aman dengan orang lain minimal satu meter sebagai tindakan untuk menghentikan atau memperlambat penularan penyakit.
Irfan menyebut, penumpang di dalam pesawat tidak perlu melakukan jaga jarak, sebab armada telah dilengkapi dengan filter alat penyaring udara High Efficiency Particulate Arresting (HEPA).
Sebagai informasi, HEPA berfungsi untuk mematikan virus dan bakteri di kabin pesawat. Mengutip dari situs resmi Garuda Indonesia, seluruh armada maskapi berkode emiten GIAA itu telah dilengkapi dengan fitur HEPA. Adapun syarat naik pesawat, setiap penumpang diwajibkan untuk membawa surat keterangan negatif Covid-19.
“Dari awal kami tidak sepakat jika di dalam pesawat harus distancing karena di dalam pesawat dengan HEPA system tidak akan terjadi penularan,” katanya dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI.
Meski begitu, masih terdapat masalah yakni tingkat ketidakpercayan masyarakat untuk terbang ketika awal pandemi sangat tinggi. Dengan begitu, Garuda Indonesia menerapkan jaga jarak antarpenumpang di dalam pesawat.
“Kita sangat sadar ini akan menggerogoti income,” ucapnya.
Menurutnya, untuk pesawat Boeing 737 apabila menjalankan jaga jarak maka tingkat keterisian penumpangnya sebanyak 63%, tidak beda jauh dengan jumlah penumpang rata-rata Garuda Indonesia sebanyak 74%.
Untuk menarik minat penumpang agar mau duduk berdampingan, Garuda Indonesia meluncurkan program Eco Lite, yang memberikan diskon tiket hingga 25%.
“Oleh sebab itu, kami beberapa minggu lalu sudah launching Eco Lite,” ucapnya.
“Mereka yang bersedia duduk berdampingan khususnya keluarga dan rombongan bisa mengambil tiket jenis itu, dengan diskon 25%. Itu duduknya dari belakang,” katanya.
Baca Juga: Garuda Indonesia: Dari 142 Armada, Hanya 53 Unit Pesawat yang Beroperasi
Dalam situs resmi Garuda Indonesia, tertera pembelian tiket Eco Lite dimulai dari 20 Mei – 30 Juni 2021, dengan periode perjalanan hingga 31 Maret 2022.
Diskon ini berlaku untuk kelas penerbangan ekonomi atau Economy Class dan untuk seluruh penerbangan domestik. Pada promo ini, penumpang tidak bisa memilih kursi.
Penutupan Rute Internasional
Pada kesempatan yang sama, Irfan menyebutkan jumlah pembayaran kepada lessor telah turun US$11 juta dollar, dari yang semula sebesar US$76 juta menjadi US$55 juta.
Agar maskapai tidak terus merugi, manajemen Garuda Indonesia telah menutup sejumlah rute internasional, seperti tujuan Melbourne dan Perth yang mulai dihentikan pada bulan depan.
“Osaka sudah (ditutup), kami sedang review Amsterdam-Jakarta, Jakarta-Kuala Lumpur, tapi kita pertahankan satu penerbangan ke Sidney,” katanya.
“Yang (masih) menguntungkan Bangkok, Hong Kong, dan China. Kami sedang monitor adalah Seoul,” lanjutnya.
Meski begitu, kabar terbaru menunjukkan Otoritas kesehatan Hong Kong, Centre for Health Protection (CHP), menghentikan sementara penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya Sang Garuda Indonesia, Maskapai yang Kini Terpuruk
Hal itu disebabkan adanya 4 penumpang yang ditemukan positif Covid-19 berdasarkan hasil tes setibanya di Hong Kong pada 20 Juni 2021. Para penumpang itu diketahui terbang dengan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA876.
Meski telah dan akan menutup rute internasional yang merugi, Irfan mengatakan pesawat kargo masih dioperasikan.
“Jadi kita isi kargo, penumpang seadanya saja kita bawa. Biasanya mereka yang naik baik keluar negeri atau dari luar negeri adalah mereka bagian dari repatriasi karena warga negara yang harus pulang, dan WNA yang harus pergi,” tuturnya.
