YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat terus merangkak naik dan memicu kenaikan harga di berbagai sektor, layanan ojek online lokal Jogjakita justru mengambil langkah berbeda.
Perusahaan berbasis Yogyakarta ini menegaskan tarif dasar layanan Ride Hemat tetap Rp5.000, sebagai bentuk komitmen gotong royong ekonomi untuk masyarakat.
Direktur Jogjakita, Suroto, menyampaikan bahwa kebijakan ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan wujud perjuangan ekonomi yang selaras dengan semangat para pendahulu bangsa.
Baca Juga : Komitmen Damai Ojol DIY, Jaga Keistimewaan dan Kondusivitas Jogja di Tengah Aksi Nasional
“Jogjakita mengusung semangat Gotong Royong Ekonomi sesuai petuah para pejuang masa lalu. Bedanya, perjuangan kami kini diwujudkan lewat ekonomi. Insya Allah, suatu saat kita bisa berdikari dan berkembang pesat bersama-sama,” ujar Suroto dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Tarif Hemat, Pengemudi Tetap Sejahtera
Meski tarif rendah kerap menimbulkan kekhawatiran soal kesejahteraan pengemudi, Suroto menegaskan hal itu tidak berlaku di Jogjakita.
“Pendapatan bersih pengemudi kami masih di atas Rp8.000 per perjalanan. Selain itu, sistem layanan seperti Ride Flexible, Peduli, dan Prioritas memungkinkan pengguna memberi tips otomatis kepada pengemudi,” jelasnya.
Gratis Ongkir & Layanan Terjangkau
Selain layanan penumpang, Jogjakita juga menghadirkan layanan pesan-antar makanan dengan gratis ongkir untuk jarak 1–4 km.
Tarif Rp5.000 hanya berlaku untuk Ride Hemat, sementara layanan lain tetap lebih terjangkau dibandingkan kompetitor di Yogyakarta.
Pembayaran Non Tunai
Untuk menikmati tarif spesial ini, pengguna hanya perlu melakukan pembayaran melalui E-wallet SpeedCash, yang sudah berlisensi resmi dari Bank Indonesia.
Baca Juga : KSPSI Dorong Status Driver Ojol Menjadi Pekerja
“Syaratnya sederhana, cukup gunakan SpeedCash agar transaksi lebih mudah dan aman,” tambah Suroto.
Angin Segar bagi Warga Yogyakarta
Kebijakan mempertahankan tarif murah ini menjadi kabar baik bagi masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Jogjakita membuktikan bahwa layanan publik bisa tetap terjangkau tanpa mengorbankan hak pengemudi maupun keberlangsungan usaha. (cdr)
