HarianBernas.com – Dunia mengalami perubahan setiap saat, dinamikanya membuat segala sesuatu harus ikut berubah bila kita tak mau tergilas dengan roda perubahan itu. Sekuat apapun kita tak akan bisa menahan lajunya perubahan, tindakan paling bijaksana adalah kita mengimbangi atau bahkan berusaha mengungguli perubahan itu. So, Bagaimana caranya ya?
Pertama, tentunya kita harus selalu berusaha naik kelas, meningkatkan kompetensi diri, memperbaharui keilmuan dan skill lainnya secara berkesinambungan .
Kedua, menambah wawasan dengan banyak membaca dan mengamati hal-hal eksternal sampai ke level global, sehingga peta perubahan selalu bisa kita pantau dan prediksi dengan baik.
Ketiga, menyusun strategi dan teknik marketing yang tepat, karena apapun bisnis kita, marketing merupakan komponen terpenting yang harus selalu di “up grade” dan disesuaikan dengan zamannya.
Saat memberikan pengarahannya dalam pembukaan MUSDA Indonesia Marketing Asociation (IMA) chapter DIY di Royal Ambarukmo beberapa waktu yang lalu, Bapak Marketing Indonesia Hermawan Kartajaya, mengatakan bahwa dunia marketing sekarang sedang mengalami perubahan yang cukup fenomenal. Ada 3 hal perubahan total itu adalah: dari individual menjadi social, dari vertikal menjadi horizontal, dan dari ekslusif menjadi inklusif.
Coba kita lihat para tokoh popular yang muncul dan menarik perhatian dunia. Jokowi, sang Gubernur pelopor blusukan, yang tidak mendudukkan dirinya secara “ekslusif”, tidak meng kotak-kotakkan dirinya dengan memilih partner berdasarkan prestasi kerjanya.
Lihat saja, saat menjadi walikota Solo, partnernya adalah FX Hadi Rudyatmo, saat menjadi Gubernur di Ibukota, partnernya Ahok. Sekarang lihatlah, Jokowi sudah menjadi Presiden yang populer dan dicintai rakyat Indonesia.
Obama juga melakukan hal yang kurang lebih sama, kemudian tokoh dunia Paus Fransiskus yang begitu fenomenal melakukan perubahan drastis, dari posisi seorang Paus yang biasanya sangat sakral, ekslusif dan sifatnya vertikal, dijadikan menjadi horizontal.
Paus Fransiskus berpergiaan masih naik bus umum, berkomunikasi lebih terbuka dengan umatnya, bahkan pada saat perayaan Kamis putih, Paus mencuci dan mencium kaki dua belas narapidana termasuk yang Ortodoks dan Muslim… luar Biasa !
Apa yang dilakukan oleh ketiga tokoh yang luar biasa itu pada kenyataannya menjadi sangat popular dan dunia menyukainya. Dunia mendukungnya dan bahkan menjadi inspirasi banyak orang.
Fenomena tersebut menguatkan kita bahwa dunia marketing sudah berubah, dan para markerter juga harus mengikuti perubahan ini dan meninggalkan konsep marketing yang sudah “JADUL”. Markerter yang hebat harus bisa mengenali peluang dengan mengetahui trend investasi global.
Sebelumnya, tiga besar negara tujuan investasi adalah Singapore, Malaysia dan Thailand, sekarang. Para investor mulai melirik Tiga Negara yang lain, yang diprediksi mempunyai potensi yang lebih menjanjikan yaitu Vietnam, Indonesia dan Philipina yang di singkat dengan Negara VIP.
Nah, sudahkan para markerter Indonesia siap menjadi tuan rumah di Negara VIP ? Sudah siapkan perubahan untuk naik kelas agar sejalan dengan perubahan dunia? Yukks, kita mulai dengan menghadapi pelanggan kita bukan saja dengan “Serving”, tetapi juga dengan “Taking Care of Them”. Sukses para markerter Indonesia.
@BundaSisca
Ketua Asosiasi manajemen Indonesia DIY
