YOGYAKARTA, HarianBernas.com — Palang Merah Indonesia (PMI), Yogyakarta tingkatkan kesiapsiagaan seluruh relawan di lima kabupaten/ kota untuk antisipasi potensi bencana dari cuaca ekstrem yang bisa terjadi di musim kemarau basah, Rabu (3/8).
“Kesiapan seluruh relawan kami tingkatkan karena setiap ada peristiwa bencana kami harus selalu ada di depan,” jelas Herry Zudianto, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Herry Zudianto di acara Syawalan PMI se-DIY di Yogyakarta, Rabu malam.
Setelah memperoleh informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta tentang anomali cuaca selama kemarau basah pekan lalu, PMI DIY terus berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY.
“Prinsip kami, kalau ada bencana, paling lambat enam jam tim harus sudah ada di lokasi bencana,” imbuhnya.
Sementara itu, Suryanto, Wakil Koordinator Bidang Unit Tranfusi Darah PMI DIY menuturkan ketersediaan stok darah juga cukup aman selain kesiapsiagaan relawan.
“Meski kebutuhan darah selama momentum Lebaran kemarin cukup tinggi, namun ketersediaan kantung darah masih aman,” terangnya.
Untuk persediaan darah Unit Transfusi Darah (UTD) PMI se-DIY per Rabu (3/8), capai 432 kantong darah. Terbanyak di PMI Kota Yogyakarta, yaitu 214 kantong darah.
Sebelumnya, peringatan dini cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir, gelombang tinggi, dan angin kecang telah diumumkan BMKG Yogyakarta untuk periode 16-21 Juli 2016 dan peringatan dini cuaca ekstrem untuk periode 21-23 Juli 2016.
Cuaca ekstrem tersebut disebabkan adanya tekanan udara rendah di laut sisi Barat Daya Pulau Jawa karena di area laut tersebut memiliki suhu yang hangat dibanding area laut lainnya.
Joko Budiono, Koordinator Pos Klimatologi dan Geofisika BMKG Yogyakarta menjelaskan kondisi kemarau tahun 2016 ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena masih sering terjadi hujan, termasuk dalam gangguan iklim.
