YOGYAKARTA, HarianBernas.com– Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan HB X meminta masyarakat Yogyakarta untuk menggencarkan budaya hemat air karena saat ini ketersediaan air tanah di Yogyakarta semakin menipis, Kamis (2/6).
“Perilaku masyarakat baik di daerah pinggiran, perdesaan, ataupun perkotaan terhadap air sudah berubah total. Generasi baru tidak lagi berperilaku konservasi seperti generasi sebelumnya,” terang Sultan dalam pidato kunci dalam Rapat Paripurna Dewan Riset Daerah DIY di Kompleks Kepatihan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X, Yogyakarta.
Berpijak dari riset Penanggulangan Bencana Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, permukaan air tanah di wilayah urban Yogyakarta terus menurun 15-50 centimeter per tahun. Sultan mengungkapkan terus menurunnya permukaan air tanah akan berdampak buruk pada ketersediaan air. Semakin rendah permukaan air, warga akan kesulitan menjangkaunya.
Masyarakat tradisional dahulu, sebetulnya telah memahami sosiohidrologi. Ia mencontohkan, di daerah perdesaan masa lalu banyak dijumpai pola manajemen tradisional konservasi air dengan membuat tanggul rendah setinggi 20-30 cm mengitari area pekarangan untuk menampung air hujan sehingga meresap ke tanah dulu sebelum mengalir ke sungai dan agar tanah pekarangan tak terkikis air, terang Sultan.
Selain itu, lanjut Gubernur DIY ini, warga desa juga sering memakai sistem terasering di ladang dan tegalan untuk menangkap air, meresapkan, dan memperlambat kecepatan air. Cara itu, dipercaya akan mengantasipasi banjir di hilir, kekeringan di hulu, dan erosi.
Saat ini, Sultan menyayangkan generasi baru tak meneruskan cara-cara yang dikerjakan para pendahulunya, tapi berperilaku eksploitatif, misal tanah pekarangan tak ditanggul, tapi diflur sehingga air hujan tak lagi ditampung dalam galian di pekarangan.
Selain itu, Sultan juga mengkritik buruknya manajemen air hotel yang pembangunannya pesat, khususnya di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta. Buruknya manajemen air hotel, telah mengganggu ketersediaan air di sumur warga sekitar hotel.
“Hotel menyedot air dengan cara mengebor yang sedotan airnya mencuri air sumur di sekitar hotel,” ungkap Sultan.
Pada 2009, hotel berbintang berjumlah 35 hotel dengan 3.147 kamar dan pada 2016 jumlahnya sudah naik menjadi 116 hotel dengan 12.947 kamar.
“Saya bisa mengerti jika warga bersama pakar hidrologi dan LSM menyebutnya dengan istilah 'Jogja Asat',” kata Sultan.
Sultan berharap ada kajian tentang pengadaan air bersih layak minum melalui pengembangan investasi PDAM kabupaten/kota sehingga warga tak perlu mencari air minum dari air tanah dengan membuat sumur.
