Bernas.id – Harga kedelai yang terus naik membuat para pedagang pasar dan pengusaha toko sembako resah. Karena tak sedikit warga yang protes karena harga tahu dan tempe makin hari makin mahal. Begitu juga yang dirasakan oleh pemilik pabrik ataupun pengusaha tahu tempe, lantaran mereka dihadapkan dua pilihan, menaikan harga jual atau mengrcilkan produk tahu tempenya. Dan, berharap harga kedelai stabil.
“Kami pengusaha tahu tempe sedang dihantui harga kedelai yang terus naik. Kemarin naik dan sekarang tambah naik. Jadi kami bingung. Dengan harga kedelai naik, kami harus gimana, mau mengecilkan produk tahu tempenya, apa menaikan harga jualnya,” tutur salah satu pengusaha tahu tempe dan juga pedagang di pasar, Selasa ( 09/02/2021).
Dia mengungkapkan, harga kedelai awalnya Rp 7.000/Kg, sekarang menjadi Rp 10.000/Kg. ?Kalau belinya satu karung, perkilo bisa harga Rp 9.800. Tapi kalau beli eceran perkilo bisa sampai Rp 10.000. Naiknya hampir Rp 3.000,? ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, kata dia, ada dua pilihan. Dikecilin produknya atau harga dinaikan lagi. ?Tapi bingung jualnya,” keluh dia.
Meski harga kedelai naik, namun mereka akan tetap produksi. Dan, untuk sementara tahu tempe masih dengan bentuk standar dan harganya biasa. ?Tetapi kalau harga kedelai terus naik, mereka akan menentukan harga dan bentuk tahu dan tempenya,? kata dia seraya berharap harga kedelai stabil.
Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Catur Sugiyanto menyebut, ada sejumlah faktor yang membuat harga kedelai impor di Indonesia membumbung tinggi. Catur menyebut ada 3 negara eksportir utama kedelai bagi Indonesia, yakni Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Namun ia melihat tidak ada penurunan produksi kedelai di ketiga negara itu yang menyebabkan terganggunya proses ekspor ke negara-negara dunia, termasuk Indonesia.
Namun, memang harus diakui ada sejumlah hal atau faktor yang memiliki andil dalam fluktuatifnya harga kedelai impor ini di Indonesia. Catur membaginya menjadi dua, jangka pendek dan jangka panjang.
“Dalam jangka pendek, 1-2 tahun ke depan dengan adanya Covid-19, pengiriman kedelai (dari negara eksportir ke negara importir) agak terganggu,” katanya lagi.
Tentu ini terkait erat dengan banyaknya pembatasan dan aturan yang diberlakukan sejumlah negara dalam rangka mengendalikan pandemi Covid-19 di wilayahnya.
Faktor lain adalah keberadaan China sebagai negara importir kedelai terbesar di Asia. Setelah pulihnya China dari terpaan badai hebat Covid-19 membuat kebutuhan kedelai di negara berpenduduk padat itu meningkat, khususnya untuk keperluan pangan.
“China sudah mulai recover dari Covid-19, sehingga permintaan kedelai untuk pakan meningkat, akibatnya banyak kedelai tersedot ke China,” jelas Catur. (ASN)
