Oleh: Prof. Sudjarwadi
Kemerosotan usaha akibat pandemi Covid-19 memberikan ancaman serius kegiatan ekonomi, namun juga bisa menjadi pembuka sejumlah inspirasi untuk dasar penataan ulang sistem ekonomi. Naluri Situtena merasakan adanya tanda-tanda agar manusia lebih bersinergi dalam aspek pengaturan kehidupan dengan cara-cara baru melintasi jalan baru. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020 sangat sulit dan memerlukan solusi.
Situtena membuka catatan minggu lalu dan merenungi bagian berikut. ?Rilis BPS (Badan Pusat Statistik) tentang pertumbuhan Ekonomi Triwulan II 2020- 5 Agustus 2020 (Q-to-Q) menurut lapangan usaha, empat belas lapangan usaha mengalami pertumbuhan negatif dan tiga lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif. Negatif paling besar adalah usaha transportasi dan pergudangan, minus 29%. Lapangan usaha pertanian mengalami pertumbuhan positif 16%. Indonesia sedang sulit. Hikmah apakah yang dapat dipahami dari kesulitan tersebut? Pertumbuhan rerata keseluruhan tercatat negatif.?
Situtena terdorong berpikir tentang lapangan usaha pertanian yang tumbuh dan harus terus ditumbuhkan oleh karena ketersediaan hasil pertanian merupakan solusi andalan bagi masyarakat yang sistem kerjanya banyak keruntuhan. Penyelamatan utama adalah keharusan bahwa semua anggota masyarakat dapat memperoleh makanan secukupnya dan sehat. Pada konteks inilah desa-desa dapat menempatkan diri pada posisi terbaik untuk menjawab tantangan kesulitan bangsa.
Indonesia memiliki banyak tanah yang belum digarap dengan baik dan belum terjadi sinergi optimal antardaerah dalam memenuhi kebutuhan makan sehat bagi keseluruhan rakyat .
Indonesia memiliki wilayah laut yang luas dan kaya. Hitungan di atas kertas, dengan mendasari program-program dan kegiatan pengelolaan sumber daya berdasar ilmu optimasi pengusahaan karunia alam untuk bangsa, seharusnya rakyat makmur dan sejahtera. Hal tersebut telah diketahui oleh banyak orang dan sejak lama. Kenyataan yang ada, bangsa Indonesia belum makmur dan belum sejahtera. Tentu ada sebabnya. Apa sebab-sebab yang telah jelas diketahui?
Sebab utama adalah kecerdasan bangsa Indonesia sebagian besar terbatas pada kecerdasan individu saja, belum sukses membangun kecerdasan kolektif. Banyak perselisihan, banyak energi untuk banyak perdebatan yang tidak produktif bagi kepentingan bangsa, hanya produktif terbatas untuk kelompok-kelompok kecil.
Jawaban solusi teoretis sudah sangat jelas, yaitu pemberdayaan kecerdasan kolektif manusia Indonesia sesuai dengan klaster-klaster kegiatan bersama yang dimiliki. Penerapan kontekstual makna gotong royong dalam menjawab tantangan zaman pandemi dan pasca pandemi harus dilakukan. Kegiatan yang dilakukan harus berdasar perencanaan cerdas tepat konteks dan pelaksanaan sukses sesuai target-target yang ditulis dalam lembar-lembar perencanaan cerdas tersebut.
Untuk mencukupi pangan bangsa dan membuat masyarakat desa mengekspresikan kemampuan puncaknya yang terpendam, adakah caranya? Jawabannya jelas bahwa cara itu ada. Cara yang dapat dipilih tentu harus berdasar analisis atas data historis dan prediksi terbaik pada hal-hal penting pada waktu yang akan datang.
Alam Indonesia memiliki dinamika perubahan kondisi misalnya akibat perubahan iklim, banjir dan sejenisnya. Perubahan alam tidak secepat perubahan mutu manusia Indonesia yang rajin belajar. Sangat banyak hal baru yang dapat dipelajari baik dalam tata nilai dan norma maupun dalam urusan pengelolaan alam yang wajib lebih baik dari pengelolaan saat ini.
Merancang cerahnya masa depan seiring proses pandemi yang belum kunjung berakhir harus dilakukan melalui jalan baru pendidikan di semua lini, formal, nonformal, dan informal. Hal-hal yang telah dilakukan belum tepat menjawab tantangan zaman. Situtena ingin menambah beberapa pemikiran yang diyakini dapat menjadi solusi.
Ada penciri keindahan karakter masyarakat Indonesia yang luntur makin cepat akibat kenyataan proses politik dalam dua dasawarsa akhir-akhir ini. Apakah itu? Ciri keindahan karakter masyarakat Indonesia yang mulai luntur, yaitu gotong royong dan kesetiakawanan.
Proses pemulihan karakter gotong royong dan kesetiakawanan dapat dipercepat melalui berbagai program dan kegiatan pendidikan. Seiring berkembangnya tantangan rumit masalah kesehatan fisik, kesehatan ekonomi, dan kesehatan mental serta moral diperlukan pendidikan berorientasi serba tujuan agar secara tepat mengatasi tantangan-tantangan rumit tersebut. Sinergi materi pendidikan, cara penyampaian dan definisi baru tentang serba tujuan pendidikan dalam proses formal, nonformal, dan informal tidak boleh terlambat.
Pendidikan pada semua jenjang sebenarnya dapat memberi produk-produk yang bernilai pemulihan ekonomi dan hal tersebut sama sekali bukan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Anak belajar sebenarnya juga bekerja. Mengerjakan apapun dapat diarahkan menjadi kegiatan peningkatan mutu pembelajar dalam istilah ?lima aspek serentak dalam satu kegiatan?. Satu kegiatan dapat melatih lima hal sekaligus dan dapat dirancang untuk memiliki bagian-bagian yang bernilai pemulihan ekonomi.
Pada semua jenjang dan jenis pendidikan dapat dilakukan cara-cara sederhana yang sebenarnya merupakan pemanfaatan pengetahuan secara interdisiplin dan transdisiplin. Pemikiran dan pengetahuan eksplisit dan tasit lintas generasi dapat melahirkan jalan baru pendidikan, sebagai solusi terbaik atas berbagai tantangan rumit akibat pandemi Covid-19 saat ini dan pada waktu yang akan datang.
Indonesia wajib dan bisa menetapkan kebijakan unik dan spesifik yang mengutamakan solusi tantangan rumit bangsa saat ini dan ke depan. Pengembangan kemandirian peserta didik secara khusus dan masyarakat secara umum dalam bergotong royong dan kesetiakawanan mengelola proses kesehatan fisik dan mental sekaligus berkontribusi bagi pemulihan ekonomi jelas dapat dilakukan.
Pada masa industri 4.0 saat ini dapat dioptimalkan pemanfaatan berbagai jenis teknologi bersinergi dengan kearifan lokal yang mencakup pula penanganan masalah kesehatan fisik dan mental serta pemulihan ekonomi. Sebuah tim lintas generasi nasional perlu dibentuk dalam membuat rumusan tindakan cepat agar pendidikan pada setiap jenjang usia, wilayah formal, nonformal, dan informal dapat menetapkan inti dasar capaian pendidikan paling tepat untuk setiap jenjang usia.
Penetapan inti dasar capaian pendidikan (IDCP) tiap jenis dan jenjang usia tersebut tidak sulit optimasi prosesnya karena telah tersedia dasar-dasarnya yang diciptakan oleh satu Majelis Pendidikan dalam rentang waktu 2017-2019. Semoga negara tidak terlambat mengambil langkah-langkah cerdas dalam mengelola sumber daya yang dimiliki bagi cerahnya masa depan bangsa ?.
